Wisatawan menghabiskan waktu libur Lebaran dengan berekreasi di Benteng Van Den Bosch, Ngawi, Jawa Timur, Selasa (11/6/2019). | ANTARA FOTO

Jawa Timur

18 Apr 2020, 09:38 WIB

Dari Wabah Pes, Influenza Hingga Korona

Wabah pes dan influenza di zaman Hindia Belanda memakan banyak korban jiwa.

Oleh WILDA FIZRIYANI

 

Jumlah kasus Covid-19 terus meningkat dari hari ke hari. Kasus yang semula hanya menjangkiti dua orang, kini telah menginfeksi 5.923 orang per 17 April 2020. Angka ini diprediksi masih akan meningkat dalam beberapa hari ke depan.

Berbicara tentang wabah, Indonesia sebenarnya bukan pertama kali mengalaminya. Jauh sebelum virus korona atau Covid-19 menyebar di Indonesia, masyarakat di masa kolonial Belanda telah terlebih dahulu merasakannya. Dua wabah tersebut, yakni pes dan influenza.

Sejarawan Syefri Lewis mengungkapkan, wabah pes sebenarnya pertama kali dilaporkan terjadi di Indonesia (dulu Hindia Belanda) pada 1905. Dua kuli dilaporkan terjangkit penyakit ini di Pelabuhan Bandar Deli, Sumatra Utara. "Masalahnya adalah pemerintah kolonial tidak peduli dengan urusan tersebut karena korban cuma dua orang, hanya kuli jadi dianggap angin lalu saja. Padahal ada beberapa saran bahwa ini bisa saja kejadian di Hindia Belanda," kata Syefri saat forum diskusi daring, beberapa hari lalu.

Enam tahun berselang, laporan wabah pes muncul kembali di Indonesia. Kali ini dilaporkan terjadi di Malang, Jawa Timur. Wabah ini diprediksi mulai menyebar di Malang karena faktor beras impor dari Myanmar. "Negeri Seribu Pagoda" ini di masa itu tengah mengalami wabah pes.

Pemerintah kolonial Belanda terpaksa mengimpor beras karena mengalami gagal panen beberapa kali. Ditambah lagi, masyarakat yang membutuhkan makanan setiap harinya. Oleh sebab itu, impor beras dari Myanmar pun menjadi solusi.

Beras Myanmar pertama kali masuk Indonesia sekitar akhir 1910. Beras ini masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya lalu dikirim ke Malang. "Masalahnya, antara Malang dan Wlingi terjadi banjir. Jalur terputus dan beras yang diangkut itu ada kutu tikusnya. Lalu tikus yang memiliki pes bisa menyebar ke masyarakat," jelas Tim Penulis Buku Pandemi Influenza di Hindia Belanda 1918 ini.

 

Wabah pes di Malang

Temuan wabah pes di Malang tidak serta merta membuat pemerintah kolonial Hindia Belanda percaya begitu saja. Mereka selalu membantah karena meyakini jenis tikus Myanmar berbeda dengan lokal. Pada kenyataannya, tikus Myanmar mampu beradaptasi dengan lokal sehingga pes pun bisa menyebar.

Lalu mengapa pes lebih dahulu menyebar di Malang dibandingkan Surabaya? Menurut Syefri, Malang di masa lampau memiliki suhu begitu dingin. Suhu udara di malam hari dapat mencapai 14 sampai 16 derajat celcius.

Suhu udara yang sangat dingin menyebabkan kutu-kutu tikus lebih kuat dan mudah menyebar. Ditambah lagi, tikus terinfeksi pada beras yang tersimpan di wilayah Dampit, Malang melakukan perjalanan ke permukiman warga. Meski tikus mati dalam perjalanannya, kutu tetap hidup lalu mencari inang baru yang sehat.

"Dan tikus masuk yang ke rumah warga itu tikus rumahan. Dari sini, wabah pes menyebar di Malang dan menyebabkan banyak kematian," ucap Syefri.

Penyangkalan yang terus dilakukan pemerintahan kolonial Belanda telah menimbulkan masalah fatal. Pes baru diakui keberadaannya di Indonesia pada 27 Maret 1911. Padahal kasus ini sudah mulai memasuki Malang pada akhir 1910.

Dari waktu yang begitu singkat, pemerintahan kolonial Belanda melaporkan 2.000 kasus pes. Jumlah ini agak diragukan karena media justru mengungkapkan pes telah memakan korban 300 orang per hari. "Jadi ini ada upaya pemerintah untuk mereduksi jumlah korban," jelasnya.

 
Dari waktu yang begitu singkat, pemerintahan kolonial Belanda melaporkan 2.000 kasus pes. Jumlah ini agak diragukan karena media justru mengungkapkan pes telah memakan korban 300 orang per hari.

Pada 1913, laporan kasus pes melonjak menjadi 11 ribu korban. Kemudian bertambah sekitar 15 ribu orang di tahun berikutnya. Jumlah korban mengalami penurunan pada 1915 sekitar 1.638 orang.

"Mengapa akhirnya wabah pes bisa turun? Coba bayangkan wabah sudah empat tahun, pada 1915 baru dibentuk dinas khusus yaitu dinas pemberantasan pes," ucapnya.

Direktur Burgelijke Geneeskundige Dienst (BGD), De Vogel, kata Syefri, sebenarnya sempat memerintahkan karantina Kota Malang sekitar 1911 hingga 1912. Namun kebijakan isolasi ini mendapatkan protes dari perusahan perkebunan pada 1912. "Mengapa protes? Karena kuli-kuli yang dari Malang enggak boleh keluar dari Malang. Banyak masyarakat yang tidak bisa kerja," jelasnya.

Pemerintah kolonial Belanda memiliki aturan tegas dalam kebijakan isolasi diri. Mereka membangun pos-pos penjagaan ketat di setiap ujung kota. Para penjaga melalui tentara tidak segan menembak mati para penerobos pos penjagaan.

Selama isolasi, Syefri mengatakan, pemerintah sebenarnya telah menyediakan gaji untuk warga. Akan tetapi gaji tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu, kebijakan isolasi diri tidak berjalan signifikan sehingga jumlah korban pes terus berjatuhan.

Selain itu, ketersediaan dokter juga menjadi penyebab meningkatnya jumlah korban pes di Hindia Belanda. Saat itu, dokter Eropa takut karena teringat dengan peristiwa Black Death. "Sedangkan mengapa dokter bumiputera berani? Karena mereka enggak punya ingatan wabah pes di Hindia Belanda," kata Syefri.

Secara ekonomi, dampak wabah pes tidak terlalu besar dibandingkan influenza. Hal ini karena wabah pes lebih berpusat di Malang. Sementara pandemi influenza hampir terjadi di seluruh daerah termasuk area pelosok seperti Fak-Fak.

photo
Wabah penyakit pes di Pulau Jawa - (Wikipedia)

 

Pandemi influenza

Syefri menjelaskan, pandemi influenza mulai tiba di Hindia Belanda pada Juli 1918. Dalam waktu singkat, penyakit ini sudah bisa menyebar ke seantero Pulau Jawa. Selang setahun, influenza sudah mencapai wilayah bagian timur termasuk Fak-Fak (kini bagian Papua Barat).

Serupa dengan wabah pes, keberadaan influenza juga sempat dibantah oleh pemerintah. Mereka ragu influenza akan tiba di Hindia Belanda. Padahal di awal 1918, Konsultat Jenderal (Konjen) Belanda di Hong Kong dan Singapura sudah mengingatkan pandemi tersebut.

"Mereka (Pemerintah Kolonial Hindia Belanda-- Red) menilai influenza enggak mungkin masuk Indonesia tapi ternyata Juli masuk langsung banyak meninggal dunia," kata Syefri.

Setelah mengetahui keberadaan pandemi, pemerintah mulai membagikan masker pada November 1919. Hal ini penting dilakukan mengingat influenza telah menyebabkan 1,5 juta jiwa meninggal dunia. Namun berdasarkan data suatu lembaga pada 2013, jumlah korban dapat mencapai 4,3 juta.

Lalu mengapa influenza bisa menyebar di seluruh Hindia Belanda? Syefri menerangkan, dokter De Vogel sempat berencana mengarantina Hindia Belanda. Namun rencana tersebut diprotes sejumlah pihak. Salah satunya lembaga pelayaran Hindia Belanda yang merasa dirugikan karena sering membawa penumpang dan barang. Padahal kapal-kapal laut tersebut bisa membawa penyakit ke daerah pelosok.

BGD juga pernah mencoba membuat aturan agar tidak ada perkumpulan lebih dari lima orang. Akan tetapi, wacana tersebut dikritik karena dinilai dapat meresahkan masyarakat. Wacana tersebut pun dibatalkan sehingga influenza pun memakan korban 1,5 juta jiwa meninggal dunia.

Permasalahan kurangnya dokter juga menjadi penyebab meningkatnya jumlah korban influenza. Perbandingannya, satu dokter setidaknya harus mengobati 15 ribu pasien. Lebih parahnya lagi, dokter Belanda hanya mau melayani pasien Eropa dan warga bumiputera serta Cina yang kaya.

 
Permasalahan kurangnya dokter juga menjadi penyebab meningkatnya jumlah korban influenza. Perbandingannya, satu dokter setidaknya harus mengobati 15 ribu pasien.

Di sisi lain, Syefri tak menampik, pemerintah telah melakukan sosialisasi bahaya pandemi influenza. Mereka menggunakan buku berbahasa Sansekerta, Hanacaraka, dan Melayu pada 1920. Namun, sosialisasi ini tidak berdampak signifikan kepada masyarakat yang sebagian besar tidak bisa membaca.

Keberadaan penyakit di Hindia Belanda tidak didiamkan begitu saja oleh beberapa pihak. Ada beberapa yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk kepentingan pergerakan. Mereka menggunakan wabah pes maupun pandemi influenza untuk memunculkan opini di masyarakat. "Wabah-wabah ini banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia di tahun pergerakan. Wabah digunakan sebagai cara untuk melawan pemerintah kolonial," jelasnya.

Berdasarkan sejarah tersebut, Syefri menilai, Indonesia saat ini sebenarnya sudah seharusnya belajar dari masa lalu. Sikap pemerintah Indonesia tak jauh berbeda dengan yang dilakukan Hindia Belanda. Mereka sama-sama lamban dalam mengatasi wabah termasuk Covid-19.

 
Indonesia saat ini sebenarnya sudah seharusnya belajar dari masa lalu. 

"Kalau kita lihat pemerintah kita dalam beberapa bulan terakhir bilang Covid-19 enggak bisa masuk ke Indonesia. Dan ternyata wabah itu ada. Saya jujur kecewa, cuma sekarang kita harus bisa menanggulangi bersama-sama," ucap pria lulusan Universitas Indonesia (UI).

 

Dokter pribumi melawan wabah

Permasalahan alat pelindung diri (APD) tidak hanya dialami para tenaga kesehatan saat ini. Di masa lampau, dokter-dokter bumiputra juga merasakannya ketika berhadapan dengan wabah pes. Mereka tetap turun untuk menolong rakyat meski tanpa APD.

Laporan korban wabah pes di Kota Malang mulai terkuak pada 1911. Berdasarkan laporan pemerintah kolonial Belanda, wabah telah memakan 2.000-an korban pada tahun tersebut. Kemudian terus bertambah hingga 15 ribu orang pada 1914.

Sejarawan Syefri Lewis menilai, ketakutan dokter Eropa terhadap pes menyebabkan jumlah korban sangat banyak. Mereka takut karena teringat dengan peristiwa Black Death di negara-negaranya. "Sedangkan mengapa dokter bumiputra berani? Itu karena mereka enggak punya ingatan wabah pes di Hindia Belanda," kata Syefri saat kegiatan diskusi daring beberapa hari lalu.

Kondisi yang memprihatinkan membuat dokter bumiputera seperti Tjipto Mangunkusumo turun langsung ke masyarakat. Tanpa takut, ia mencoba menolong rakyat meski tanpa APD. Masalah ketidaktersediaan APD memang sudah terjadi di masa tersebut.

"Untuk dokter Tjipto, beliau memang enggak pakai apa-apa. Itu yang membuat dia legendaris. Turun langsung dengan risiko kematian sangat tinggi, sangat besar dan enggak bawa apa-apa," jelas lulusan Universitas Indonesia (UI) ini.

photo
Wabah penyakit pes di Pulau Jawa - (Wikipedia)
 

Di catatan sejarah, para dokter memang telah diminta untuk melindungi diri sendiri sebaik mungkin dengan keterbatasan. Lalu apakah ada yang meninggal dari kelompok dokter bumiputera? Ada, tapi hanya beberapa dokter yang mengalaminya.

Hal yang lebih parah justru dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Pemerintah sempat menolak tawaran bantuan APD dari negara lain seperti Prancis, Jerman. Sikap ini ditunjukkan karena pemerintah tidak mau malu dari ketidakmampuannya dalam mengatasi wabah pes.

Selain itu, pemerintah juga telah meminta para calon dokter di tingkat terakhir Stovia untuk terjun ke masyarakat. "Bayangkan, masih mahasiwa diminta terjun langsung dengan imbalan kalau berani terjun, dianggap lulus tanpa perlu membuat tesis. Dengan risiko kematian," ucapnya.

Meski protes atas permintaan pemerintah, para calon dokter tetap turun ke masyarakat. Akibatnya, semakin banyak dokter yang menulis pikirannya di majalah, koran, dan sebagainya. Para dokter semakin mengerti politik sehingga tanpa sadar membentuk jiwa Indonesia di masa tersebut.

Keterlibatan dokter di dunia politik tentu sangat menguntungkan di era pergerakan Indonesia. Pasalnya, dokter memiliki kemampuan bahasa yang baik sehingga dapat menuangkan pikirannya untuk khalayak. Hal ini terbukti dengan munculnya dokter Tjipto Mangunkusumo sebagai tokoh pergerakan bangsa.

Tak hanya Tjipto, banyak calon dokter lain yang ikut berkecimpung di dunia pergerakan. Mereka ini yang bersentuhan langsung dengan rakyat yang terjangkit wabah pes. "Mereka melihat wabah yang menyebabkan banyak orang mati tapi pemerintah seperti lempar tanggung jawab," kata tim penulis buku Pandemi Influenza di Hindia Belanda 1918.

 

Memori yang coba dilupakan

Sejarawan FX Domini BB Hera mengungkapkan, fakta penting di mana pemerintah seperti mencoba melupakan memori wabah pes. Mengingat ke belakang, Kota Malang berdiri pada April 1914. Kota Malang muncul ketika wabah pes menjangkiti warganya.

"Dan di sini saya tertarik sekali untuk tahu bagaimana wabah pes di masa itu? Bagaimana wabah pes bisa dikendalikan?" kata pria yang biasa disapa Sisco ini.

Sisco telah membuka catatan sejarah saat Kota Malang ulang tahun ke-40. Ia tak menemukan pembahasan wabah pes di pengantar awalnya. Kekosongan pembahasan wabah juga terjadi di catatan ulang tahun Kota Malang ke-20.

"Sumber sejarah resmi kota praja Malang, wabah pes entah mengapa tidak muncul. Dan setelah 106 tahun berdirinya Kota Malang, hari ini Kota Malang sebagian besar isolasi. Berada di rumah seperti nenek moyang mereka dulu alami secara tidak langsung. Secara gamblang, ini sejarah berulang," jelas pria lulusan Universitas Negeri Malang (UM) tersebut.

Catatan sejarah terkait wabah sangat penting di era kini. Masyarakat dapat mengetahui cara menyelamatkan diri dari wabah berdasarkan pengalaman nenek moyangnya. Dalam hal ini tidak hanya perihal mitigasi bencana semisal gunung berapi, tsunami, dan sebagainya yang telah diketahui khalayak.

Dari sini, Sisco melihat tidak ada upaya pemerintah untuk mengingat peristiwa wabah pes. Tak hanya catatan sejarah, memori berupa monumen publik juga tak tersedia. Sebagian besar monumen yang didirikan lebih terkait perang fisik.

Hal yang menganggetkan justru ketika Sisco berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa Lawang, Kabupaten Malang. Ia menemukan beberapa laporan kuartal dinas pemberantasan wabah pes yang sudah lusuh. Memang tidak lengkap tapi data yang tertulis cukup detail.

 
Ia menemukan beberapa laporan kuartal dinas pemberantasan wabah pes yang sudah lusuh. Memang tidak lengkap tapi data yang tertulis cukup detail.
FX Domini BB, Sejarawan 

"Laporannya rinci sekali, walaupun kolonial menutup serapat mungkin aibnya yang inkompetensi. Laporannya cukup detail dari turun daerah ke mana, bahkan biaya bensin juga ada," terangnya.

Sisco mengakui sangat prihatin dengan keterbatasan sumber-sumber sejarah di Kota Malang. Bahkan, ia mendapatkan laporan bahwa arsip Kota Malang yang paling lama saat ini dari 1990-an. "Yang kolonial itu saya tanya ke petugas kalau yang lama ke mana. Saya coba tanya, mereka jawab ada di kolektor A, B, C dan sebagainya," ucap Sisco.

Menurut Sisco, monumen publik wabah pes lebih tepat ditunjukkan kepada tokoh Tjipto Mangunkusumo. Tokoh ini telah berkorban menyelematkan warga dari wabah meski tanpa APD. Bahkan, ia sempat mengangkat anak dari bayi perempuan yang ditinggalkan kedua orang tuanya. Kemudian bayi ini dinamakan Tjipto dengan sebutan Pesjati.

Berdasarkan catatan sejarah ini, Sisco menyimpulkan, infrastruktur memori dalam bentuk monumen perang melawan wabah memang belum tersedia. Tidak hanya pes, tapi juga wabah-wabah lainnya di Indonesia. "Saya rasa setelah Covid-19 hilang harus ada monumen nasional perang melawan Covid-19. Ini karena kita sudah kehilangan banyak tenaga medis sebagai pahlawan kita," kata Sisco.

photo
Kawasan Kajoetangan, Kota Malang masa lalu - (DOK KITLV)


×