Internasional
Krisis Musim Dingin di Gaza Kian Parah
Enam anak meninggal kedinginan di Gaza sejak November.
GAZA – Situasi mengerikan menghantui para pengungsi di Jalur Gaza ketika massa udara kutub yang parah tiba sejak awal pekan ini. Sekitar 127.000 dari 135.000 tenda kini tidak dapat dihuni, di tengah kekurangan selimut, kasur, dan pasokan pemanas.
Koresponden WAFA melaporkan pada Selasa bahwa para pengungsi menghadapi cuaca dingin yang parah tanpa selimut atau kasur yang cukup untuk melindungi mereka dari dingin dan lembab. Nelangsa ini terutama bagi keluarga yang tinggal di tenda-tenda bobrok atau di daerah terpencil.
Kekurangan selimut dan pasokan pemanas melebihi 70 persen di seluruh Jalur Gaza, dan bahkan lebih parah lagi terjadi di daerah-daerah terpencil. Menurut sumber resmi, pendudukan Israel telah berulang kali menargetkan tempat penampungan dan pusat distribusi bantuan.
Sejak dimulainya serangan, 303 tempat penampungan dan 61 pusat distribusi makanan telah dibom, menyebabkan sebagian besar keluarga pengungsi tidak memiliki pemanas dan selimut. Anak-anak, perempuan, dan orang tua terpaksa tidur di tanah di dalam tenda yang tidak memberikan perlindungan dari angin atau hujan.
Menurut sumber medis, kondisi tersebut mengakibatkan kematian 21 pengungsi akibat cuaca dingin yang ekstrim, termasuk 18 anak-anak di kamp pengungsian. Tercatat puluhan ribu kasus penyakit pernapasan dan infeksi, di tengah kurangnya pemanas ruangan dan terganggunya sektor kesehatan pasca hancurnya 38 rumah sakit dan penutupan 96 pusat kesehatan, yang meningkatkan kemungkinan kematian pada bayi, orang lanjut usia, dan orang sakit.
Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza melaporkan pada Senin bahwa dua anak meninggal karena cuaca dingin yang ekstrim. Ini membuat total kematian anak sejak awal musim dingin pada November lalu menjadi 6 orang.
Kondisi kritis di Gaza tak lepas dari pembatasan bantuan yang masih diberlakukan Israel di tengah gencatan senjata. Tak terpenuhinya kebutuhan warga Gaza di musim dingin akibat pembatasan bantuan itu belakangan kian mematikan.
Juru bicara Pertahanan Sipil Mahmoud Basal memperingatkan konsekuensi bencana dari depresi udara kutub yang dimulai pada hari Selasa dan mengancam sekitar 1,5 juta warga Palestina. Pertahanan Sipil di Gaza juga mengumumkan 3 kematian akibat runtuhnya sebagian bangunan yang rusak akibat perang akibat badai yang melanda sektor tersebut.
Basal mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa depresi kutub baru sedang melanda Gaza, dan tragedi depresi ini akan menjadi bencana besar bagi banyak keluarga. Ia menambahkan bahwa depresi ini mengancam kehidupan lebih dari 1,5 juta warga yang sekarang tinggal di tenda-tenda, dalam situasi yang menyedihkan.
Juru bicara tersebut menyatakan ketakutannya terhadap konsekuensi yang diharapkan dari sistem tekanan rendah, dengan mengatakan bahwa kondisi cuaca sulit dan hanya akan berakhir dengan tragedi nyata. “Kita mungkin mencatat adanya korban jiwa, dan kita mungkin menyaksikan tenda-tenda warga runtuh atau banjir,” ujarnya.
Basal memperbarui seruannya kepada komunitas internasional dan organisasi kemanusiaan untuk “mengakui besarnya bencana dan mengambil tanggung jawab untuk mengakhiri penderitaan, dan untuk memberikan apa yang diperlukan bagi warga sipil dengan cara yang menjaga martabat kemanusiaan mereka.”
Sementara itu, prakirawan cuaca Palestina Laith Al-Alami menjelaskan bahwa wilayah Palestina akan terkena dampak dari Senin malam hingga Selasa malam oleh sistem tekanan rendah yang dalam dan penuh badai disertai dengan massa udara yang sangat dingin yang berasal dari kutub. Al-Alami memperkirakan cuaca akan mengalami suhu yang sangat rendah, dengan adanya peningkatan kecepatan angin yang signifikan, terutama di wilayah pesisir.
Dia menambahkan bahwa hujan lebat akan turun di semua wilayah, termasuk Jalur Gaza, dan mungkin disertai dengan guntur dan hujan es, memperingatkan bahaya angin berkecepatan tinggi terhadap tenda-tenda pengungsi.
Dengan dukungan Amerika, Israel melancarkan perang genosida di Gaza pada 7 Oktober 2023, yang berlangsung selama dua tahun dan menyebabkan lebih dari 71.000 orang syahid dan lebih dari 171.000 warga Palestina terluka, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan wanita.
Meskipun fase pertama gencatan senjata telah dimulai berdasarkan rencana Presiden AS Donald Trump, pendudukan terus membatasi masuknya makanan, obat-obatan, pasokan medis, dan bahan-bahan perlindungan ke Gaza, di mana sekitar 2,4 juta warga Palestina hidup dalam kondisi yang tragis.
Direktur Komunikasi Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Jonathan Fowler, memperingatkan risiko yang ditimbulkan oleh pembatasan baru yang diberlakukan Israel terhadap pendaftaran organisasi internasional yang beroperasi di Jalur Gaza. Dalam keterangan pers yang dikeluarkan Ahad, Fowler mengatakan Jalur Gaza saat ini membutuhkan perluasan bantuan kemanusiaan, bukan penerapan pembatasan tambahan.
Dia menekankan bahwa situasi di Gaza tetaplah sebuah bencana besar meskipun ada perjanjian gencatan senjata, karena warga Palestina terus terbunuh, bantuan masih tidak mencukupi, dan penderitaan terus meningkat. Fowler mengatakan kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk, terutama ketika penduduk menghadapi badai musim dingin dan penyebaran penyakit pernapasan akibat cuaca dingin, menurut Anadolu Agency.
Dia menekankan bahwa anak-anak adalah kelompok yang paling terkena dampaknya di Gaza, dan mencatat bahwa di Jalur Gaza terdapat tingkat kehilangan anggota tubuh tertinggi di kalangan anak-anak di seluruh dunia. Fowler menambahkan UNRWA terus memberikan dukungan pendidikan dan psikososial sejak Oktober 2023; namun, bantuan tersebut masih belum cukup untuk mengatasi kerusakan jangka panjang.
Fowler mengatakan pelarangan sejumlah organisasi kemanusiaan oleh Israel semakin mempersulit operasi kemanusiaan, dan menekankan bahwa hukum internasional mewajibkan Israel untuk memfasilitasi operasi tersebut.
Ia menegaskan, Gaza bukanlah tanah Israel, melainkan bagian dari Wilayah Palestina yang diduduki. Dia menyimpulkan dengan mengatakan bahwa Gaza sangat membutuhkan peningkatan bantuan kemanusiaan pada tahap ini, seperti yang diharapkan dengan dimulainya gencatan senjata.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
