Cerpen Adam, Hawa, dan Nama yang Terkubur | Daan Yahya/Republika

Sastra

Adam, Hawa, dan Nama yang Terkubur

Cerpen Anggit Rizkianto

Oleh ANGGIT RIZKIANTO

 

Senja dan gerimis seakan sedang bersekutu ketika bau busuk menghentikan langkah Nek Puteh. Perempuan tua itu baru saja memanen singkong dari kebunnya. Satu karung goni berisi umbi akar itu membebani punggungnya yang tak lagi perkasa. 

Ia menajamkan penciumannya dan mengamati situasi sekitar. Batang-batang singkong berjejer rapi di samping kanan dan kiri, dengan daunnya yang hijau menyala dan kuyup karena tetes-tetes hujan. Kemudian ia menoleh ke belakang, dan hanya mendapati tanah lanyau dengan jejak-jejak kakinya sendiri. 

Nek Puteh penasaran. Ini bukanlah bau busuk biasa. Ia tahu ini bau bangkai, tapi bukan bau bangkai seperti yang pernah ia hidu. 

Ia terus menajamkan penciuman. Udara dingin menerobos rongga hidung dan memenuhi paru-paru. Lalu ia mendongak, memandangi langit sore berwarna kelabu. Agaknya ia berpikir cara itu dapat membantunya lebih peka untuk menemukan sumber bau busuk.

Suara lolongan anjing lantas menuntunnya. Nek Puteh maju beberapa langkah. Di depannya ada sebuah gubuk, tapi ia berbelok ke kiri, menyusuri jalan setapak yang lebih sempit. Kini ia mendapati seekor anjing yang sedang mengais-ngais gundukan tanah yang mulai amblas karena hujan. 

Nek Puteh tersentak. Bau busuk pun kian menguat. Segera ia menghambur ke gundukan tanah itu, sementara anjing yang sedari tadi melolong lari tunggang-langgang. Batin perempuan tua itu kini dikuasai firasat buruk. Karung goni berisi singkong ia geletakkan begitu saja, dan langsung mengais-ngais gundukan yang ditinggalkan anjing tadi. Ia menggeragau tanah dengan kedua tangan, menggali lubang. 

Tak butuh waktu lama bagi Nek Puteh untuk mengetahui apa yang ada di situ. Sepotong lengan menyembul dari tanah, dan ia terus menggeragau. Tak terpikir lagi olehnya untuk berteriak atau meminta bantuan.

Nek Puteh juga tak hirau dengan bau busuk yang makin menusuk. Dan perlahan tampaklah yang ada di dalam lubang itu dengan lebih jelas: seonggok mayat yang masih utuh, dengan darah kering yang masih melekat pada tubuh dan pakaian yang ia kenali.

Dengan sekuat tenaga Nek Puteh menarik mayat itu ke luar. Lalu disekanya tanah yang menutupi bagian wajah, hingga wajah itu bisa ia kenali. Itulah wajah Anjas, cucunya sendiri.

 

***

Matahari masih tersembunyi di balik bukit-bukit yang lerengnya dipenuhi kebun lada, tapi Diana sudah mematut-matutkan dirinya di depan cermin. Tak seperti biasa, ia sudah terjaga sedari subuh, lalu mengerjakan pekerjaan rumah yang biasa dikerjakannya. Ia juga menyiapkan dua kilogram beras dalam wadah baskom yang dibungkus kain motif kotak-kotak. Di atas beras itu ia tambahkan uang tiga ratus ribu rupiah dan satu liter minyak goreng berwadah plastik. Ia berencana melayat ke rumah Nek Puteh pagi-pagi benar.

Dengan sedikit terburu-buru Diana merias wajahnya. Ia mengambil wadah bulat pipih berisi bedak tabur dari meja rias, membukanya, lalu menepuk-nepuk halus wajahnya dengan spons. Aroma harum bedak menenteramkan suasana hatinya. Setelah diam sesaat, ia kemudian memulaskan maskara pada bulu mata, yang membuat bulu mata itu makin lentik dan sehitam jelaga. Setelah itu ia memoleskan gincu berwarna jambon pada bibir tipisnya. Bibir yang awalnya tampak pucat kini cerah merona.

Diana kembali mematut-matutkan diri pada cermin. Ia tadinya hendak menambahkan perona pipi tapi urung karena menurutnya itu berlebihan. Dan setelah mengenakan celana kulot cokelat dan kemeja hitam ia pun bergegas. Tak lupa ia juga mengenakan kerudung hitam untuk menutupi rambut panjangnya.

Di halaman rumah Nek Puteh orang-orang kampung sudah berkumpul. Laki-laki dan wanita, dewasa dan anak-anak, semuanya duduk di kursi plastik di bawah tenda terpal berwarna biru. Dari dalam rumah, terdengar suara orang-orang membaca surat Yasin. Nek Puteh, yang ditemani para kerabat dekat, membaca firman Tuhan itu dengan khusyuk di hadapan jenazah sang cucu. 

Diana melangkah tanpa suara menuju rumah. Mata orang-orang dewasa langsung tertuju padanya, dengan tatapan dingin yang sulit ia terjemahkan. Namun, anak-anak—dan beberapa remaja—justru berkasak-kusuk dan tertawa-tawa karena melihatnya. Ia masih sempat melempar senyum kecil sebelum masuk ke rumah.

 Setelah mengucap salam Diana langsung menghampiri Nek Puteh. Beras, uang, dan minyak goreng langsung ia serahkan kepada perempuan tua itu, kemudian memeluknya dengan lembut. 

“Sabar, ya, Nek,” katanya, “Nenek kuat.”

“Terima kasih, cucuku, terima kasih,” jawab Nek Puteh.

Lalu Diana mengambil satu buku Yasin yang ditumpuk di atas bufet di ruang tamu rumah itu. Bersama Nek Puteh dan para kerabatnya, ia turut membacakan firman Tuhan untuk mayit di depannya—yang tertutup kain batik cokelat dengan motif daun paku. Tapi, ia tak yakin. Ia tak yakin kalau firman Tuhan yang dibacanya ditujukan untuk sang mayit. Ia justru merasa kalau itu ditujukan untuk dirinya sendiri—untuk menenangkan hatinya; untuk menebus rasa bersalahnya.

Kini, di hadapan jenazah Anjas, cucu Nek Puteh yang juga kawan masa kecilnya, Diana terkenang masa-masa lampau ketika perasaannya sudah sedikit tenang.

Ia dan Anjas satu kelas di satu-satunya sekolah dasar di kampung itu. Sepulang sekolah keduanya belajar mengaji bersama Nek Puteh, juga bersama anak-anak lain seusia mereka. Anjas selalu mendaras Al-Qur’an dengan sangat keras. Diana tak mau kalah. Bahkan ia berusaha agar suaranya lebih merdu dan lebih enak didengar. Dan benar saja, ia beberapa kali menjuarai lomba MTQ di sekolah.

Namun, Diana selalu menaruh rasa dengki terhadap Anjas. Sebab, kawannya itu tidak punya ayah. Mak Mai, anak semata wayang Nek Puteh yang juga ibunya Anjas, bekerja sebagai penjaga toko di Tanjung Pandan dan suatu ketika ia pulang dalam keadaan berbadan dua. Tak ada yang tahu siapa yang menghamilinya, kecuali Tuhan dan Mak Mai sendiri. Dan setelah melahirkan anak laki-lakinya, Mak Mai masih kerap kembali ke kota itu, sehingga Anjas lebih sering diasuh oleh neneknya.

Diana merasa kalau ketiadaan sosok ayah membuat hidup Anjas lebih tenang dan bebas. Tidak seperti hidupnya, yang harus menanggung kesakitan dan ketakutan nyaris setiap hari. Cambukan tali ikat pinggang pada punggung dan hantaman gesper pada wajah sudah ratusan kali dirasakannya. 

“Lemah!! Kau tak pantas jadi anakku!!” bentak ayahnya suatu waktu. Ya, ia disiksa ayahnya sendiri hanya karena ia lemah dan kerap dirisak anak-anak kampung.

Diana kerap mencari perlindungan pada ibunya, tapi hal itu percuma saja karena hanya menambah jumlah kekerasan yang terjadi. Hatinya perih setiap kali mendengar sedu sedan sang ibu, dan melihat wajahnya yang penuh lebam karena tamparan. Maka, satu-satunya tempat pelarian yang aman bagi Diana hanyalah Nek Puteh. Guru mengajinya itulah satu-satunya sosok yang bisa menenangkan badai ketakutannya, juga meredakan rasa sakitnya, tanpa rasa khawatir akan ancaman kekerasan ayahnya.

Kelak, ketika Diana berhasil lepas dari kedua orang tuanya, ia merasa tak pernah punya ayah. Baginya, masa kecil bersama sosok “ayah” yang pernah ia rasakan itu adalah mimpi buruk yang harus ia lupakan dan kubur dalam-dalam.

Diana menghela napas sebentar, lalu memandangi wajah Nek Puteh yang sudah keriput, juga rambut putihnya yang menyembul dari sela-sela kain kerudung. 

Meski tak bisa menghalau rasa sesal, Diana tetap merasa hangat ketika mengingat kebersamaannya dengan Nek Puteh. Ia masih ingat jelas bagaimana Nek Puteh mengajarkannya melafalkan huruf-huruf hijaiyah sesuai makhrajnya. Atau bagaimana gurunya itu menceritakan kisah para nabi. Dulu, Diana paling senang ketika Nek Puteh bercerita tentang kisah Nabi Adam dan Hawa.

“Karena kemurahan Allah, Hawa diciptakan untuk menemani Adam,” kisah Nek Puteh. “Ketika Adam sedang tidur, Allah mengambil salah satu tulang rusuk sebelah kirinya. Dari tulang rusuk itulah Hawa diciptakan,” lanjutnya lagi.

Nek Puteh bercerita dengan sangat khusyuk. Sorot matanya memancarkan kasih sayang yang tak terkira kepada muridnya. Sebagaimana kasih sayang yang senantiasa dicurahkan Hawa kepada Adam dalam kisahnya itu. 

“Hawa juga perempuan yang sabar dan setia. Ketika ia dan Adam terlempar dari surga karena memakan buah khuldi, ia tak berpaling. Keduanya saling mencari dan bertemu di Jabal Rahmah. Hawa selalu menemani Adam baik ketika senang di surga maupun ketika susah di Bumi,” kisah Nek Puteh lagi.

“Tapi, Nek, tak pernah ada nama Hawa di Al-Qur’an.” Diana yang kritis menyanggah gurunya.

“Kau betul, cucuku, nama Hawa memang tak pernah disebut di Al-Qur’an. Namun, para ulama menamakannya demikian karena ‘Hawa’ punya arti yang istimewa. Hawa berarti ibu dari setiap kehidupan. Semua kehidupan di dunia bermula dari satu rahim, rahimnya Hawa.”

Diana begitu terpana dengan penjelasan Nek Puteh. Itulah titik mula bagaimana ia begitu mengagumi sosok Hawa. Hawa adalah ibu dari setiap kehidupan. Hal itu begitu terpatri dalam benaknya. Kelak, setelah deritanya memuncak, yang membuatnya membenci Adam, ia memutuskan untuk menjadi Hawa—suatu keputusan yang menentang dunianya.

 

***

Tiga hari sebelum kejadian mengejutkan di kebun singkong itu, seperti biasa Diana pergi ke pasar kecamatan tepat pukul delapan pagi. Pagi itu ia mengenakan dress polos warna merah delima, dan rambut panjangnya ia gerai. Ia membeli dua ikat genjer dan satu kilogram ikan ketarap.

Namun, saat hendak pulang, petaka terjadi pada Diana ketika ia berjalan melintasi warung kopi Baba Asung. Di dalam warung, Anjas bersama kawan-kawannya tertawa-tawa sembari menyesap kopi hitam dan membicarakan sesuatu yang entah apa. Bercangkung ria di warung kopi pada pagi hari seperti itu memang sudah jadi tradisi bagi pemuda-pemuda kampung sebelum mereka pergi ke kulong.

“Wadi! Hoi, Wadi!”

Teriakan itu berasal dari Anjas.

“Wadi! Sini kau, Wadi!” teriaknya lagi sambil tergelak.

Langkah Diana terhenti. Ia menoleh ke arah warung kopi Baba Asung, ke arah Anjas dan kawan-kawannya. Ia menggeram. Kupingnya panas. Hatinya meradang.

“Jangan panggil aku dengan nama itu!!” teriak Diana. “Anjas!! Awas Kau!!!” bentaknya lagi, suaranya menggelegar.

Namun, Anjas tetap tak hirau. Ia terus mengolok-olok dengan panggilan “Wadi”. 

“Iblis kau, Anjas!!!” hardik Diana, suaranya makin menggelegar, dan mengherankan orang-orang yang lalu-lalang.

Diana mengepalkan tinju yang diacung-acungkan ke udara, lalu menghampiri kawan masa kecilnya itu, yang masih tertawa-tawa. Di dalam warung, ketika ia sudah siap dengan pukulan, Anjas tiba-tiba melempar sesuatu ke arahnya.

“Tangkap ini, Wadi!” kata Anjas. Sesuatu yang dilemparnya itu sedari tadi memang ada di genggamannya. Dan ia tertawa puas setelah melemparnya.

Entah kenapa Diana refleks menangkap sesuatu yang dilempar itu dengan kedua tangan. Namun, sesuatu itu langsung ia lempar lagi begitu mendarat di telapak tangannya. Dan detik itu juga ia langsung terlonjak, berteriak nyaring, dan badannya menggigil. Bahkan, ia sampai melompat-lompat ke atas kursi dan meja sebelum akhirnya jatuh tersungkur, membuat semua orang di warung ikut tertawa-tawa, bahkan terpingkal-pingkal.

Yang dilempar Anjas tadi adalah tembuyun, serangga yang sangat ditakutinya sejak kecil.

Akibat jumpalitan di atas kursi dan meja, kaki Diana terkilir dan lengannya lecet. Namun, ia tak hirau dengan rasa sakitnya. Jantungnya masih berdebum lantaran dikuasai rasa takut. Dalam keadaan terduduk di atas lantai, ia kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya di kepala, lalu meremas-remas rambutnya. Keringatnya mengucur deras. Dan tanpa dikehendakinya, air matanya mulai berderai.

Diana melirik ke arah Anjas. Laki-laki itu masih juga tertawa-tawa, dan mengoloknya “Wadi” berkali-kali. Tanpa memedulikan Diana, ia dan kawan-kawannya lalu berlalu begitu saja, meninggalkan warung Baba Asung dengan menggeber motor.

Dengan napas yang masih terengah-engah Diana beringsut, mengambil tas belanjaannya. Ia keluar dari warung dalam keadaan pincang. Orang-orang di jalan menatapnya heran, namun tak berkata apa-apa. Amarah dan kesedihan masih berkecamuk di kepalanya, tapi ia terus melangkahkan kaki.

Kejadian seperti ini bukanlah yang pertama bagi Diana. Anjas sudah berkali-kali mengusiknya. Wadi adalah nama yang sudah lama ia kubur. Ia tahu itu adalah nama pemberian kedua orang tuanya. Tapi, baginya tak ada lagi alasan untuk mempertahankannya. Ia membenci nama itu, seturut kebenciannya terhadap ayahnya, sosok Adam dalam hidupnya.

Namun, mengapa Anjas, dan beberapa orang lainnya, masih sering mengungkit-ungkit nama itu? Mengapa mereka membangkitkan sesuatu yang telah terkubur hanya untuk menyakitinya? Apakah mereka, dengan kesadarannya sendiri, memang tidak rela jika seorang Wadi memilih menjadi seorang Hawa? Ia sendiri tidak tahu. Yang ia tahu, setelah ia menjalani pilihannya sendiri selama ini, perasaan benar-benar hidup dan perasaan terhina seolah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Tapi, baginya itu adalah konsekuensi yang mesti diterima ketika seorang Wadi memilih menjadi wadam.

Malam harinya, tatkala bulan purnama membulat sempurna dan menyinari kegelapan kaki langit, Diana mengendap-endap di balik rerimbun tanaman singkong. Betisnya sudah memerah dan dipenuhi ruam karena disengat agas. Tak jauh dari situ, ada jembatan besi yang di bawahnya terdapat sungai yang mengalir cukup deras. Mata Diana tertuju pada jembatan itu, menunggunya berderak dan diiringi deru sepeda motor. Ia tahu kalau motor reyot Anjas tak memiliki lampu sorot. Satu-satunya penerangan yang diandalkannya hanyalah satu lampu jalan yang terpasang di dekat jembatan.

Setelah satu jam menunggu, jembatan pun berderak karena laju motor Anjas. Pemuda yang baru saja pulang dari kulong itu berkendara cukup pelan. Pakaiannya basah dan tubuhnya dipenuhi lumpur. Diana langsung keluar dari rerimbun tanaman singkong, menghadang sosok yang dinantinya sedari tadi.

“Anjas!! Berhenti kau!!”

Suara kerasnya memecah kesunyian. Tak ada lagi kelembutan yang tersisa dari dirinya malam itu. 

Anjas terkesiap. Ia berhenti, mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba mendeteksi apa yang menghadangnya di tengah kegelapan. Namun, penglihatannya tak jelas benar menangkap sosok yang mendekat ke arahnya.

Sebilah pisau telah tergenggam erat di tangan Diana. 

Apakah ia berniat membunuh kawan masa kecilnya? Oh… tentu tidak. Pada dasarnya ia hanya ingin menakut-nakuti, dan barangkali sedikit melukai. Ia ingin menunjukkan kekuatan. Karena dengan cara itulah ia bisa membela kehormatan dirinya, dan tidak lagi dihinakan.

Maka, tanpa pikir panjang Diana pun langsung menyabetkan pisau. Tapi ternyata Anjas dapat menangkis sabetannya. Diana kemudian menyabet lagi dan Anjas kembali menangkis lalu menendang perutnya. Ia pun terjengkang. Memanfaatkan situasi itu, Anjas kemudian menyerang dan berusaha merebut pisau. Keduanya pun bergulat di atas aspal.

Jembatan besi kembali berderak karena ada truk melintas. Setelah melewati jembatan truk itu langsung tancap gas. Diana, yang sedang berjibaku menahan serangan, detik itu juga menerjang Anjas dengan kekuatan tungkainya. Anjas terpental ke belakang, dan langsung disambar moncong truk. Badannya terpelanting jauh. Lalu kepalanya membentur aspal sebelum ia jatuh terkapar dan tak lagi bergerak.

Truk itu masih sempat berhenti beberapa detik sebelum akhirnya kembali tancap gas. Dan Diana masih sempat memeriksa napas dan denyut nadi Anjas sebelum menyadari kalau tak ada lagi nyawa yang bersemayam dalam tubuh kawan masa kecilnya.

Dalam keadaan kalut Diana memanggul tubuh tak bernyawa itu, membawanya masuk ke kebun singkong. Di sana ia menemukan cangkul yang teronggok di depan sebuah gubuk. Ia pun segera menggali lubang tak jauh dari situ, memasukkan tubuh Anjas ke dalamnya, dan langsung menguburnya. Setelah selesai, ia kemudian menuju jembatan besi, lalu membuang cangkul dan pisaunya ke sungai. Ia juga membuang motor reyot Anjas ke tempat yang sama setelah melihat motor itu masih terparkir di tepi jalan.

Malam itu Diana tidak tidur sampai pagi menjelang. Sisa malam ia habiskan dengan mencerna semua tindakan yang baru saja ia lakukan. Namun, semuanya gelap. Ia tak bisa mencerna apa-apa. Dulu ia mengubur nama yang diberikan orang tuanya, dan kini ia mengubur orang yang kerap menyakitinya.

Apa sebenarnya yang ia lakukan? Berdosakah ia?

Diana bertanya dengan tubuh gemetar. Ia kemudian memandang langit, seakan mencari jawaban pada bulan purnama yang menjadi saksi.

Catatan:

Kulong: Cekungan berisi air yang terbentuk akibat penambangan timah di wilayah Bangka Belitung.

Tembuyun: Kumbang tanduk atau bangbung.

 

Anggit Rizkianto adalah penulis fiksi dan nonfiksi. Lahir di Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kini tinggal di Surabaya dan bekerja sebagai dosen. Buku terbarunya berjudul Pelayaran Terakhir: Kolase Kisah dari Bumi Timah hingga Jawa (Mekar Cipta Lestari, 2024). Bisa dikunungi di akun instagramnya: @anggit_mr

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat