Warga melaksanakan salat ashar berjamaah dengan memberlakukanpenjarakan fisik, di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Rabu (1/4/2020). | ANTARA FOTO
14 Aug 2020, 08:23 WIB

Melawan Dampak Covid-19 dari Masjid

Masjid siap untuk menjadi pusat distribusi bantuan sosial atau bantuan logistik kepada dhuafa.

 

Oleh: Febrian Fahri, Zainur Mahsir Ramadhan, Umar Mukhtar, Ratna Ajeng Tejomukti

Sudah sejak akhir Maret lalu, shaf-shaf di Masjid Nurul Furqan di Kelurahan Tanah Pak Lambik, Kota Padang Panjang, Sumatra Barat (Sumbar), tak lagi diisi jamaah. Saat itu, pengurus masjid menaati imbauan Pemprov Sumbar agar shalat berjamaah di masjid ditiadakan sementara waktu guna mencegah penyebaran Covid-19.

Namun, bukan berarti kegiatan di masjid itu berhenti. Seperti pada Selasa (15/4), barisan jamaah digantikan barisan kantong plastik yang berisi rupa-rupa kebutuhan pokok. Seratusan lebih jumlahnya. Hari itu, paket-paket bantuan disalurkan untuk 200 kepala keluarga (KK) yang perekonomiannya terdampak pandemi di sekitar masjid tersebut. 

''Sudah dua tahap kami salurkan bantuan kepada warga yang terdampak Covid-19 di Kelurahan Tanah Pak Lambik, Kota Padang Panjang,'' kata Ketua Bidang Dakwah Masjid Nurul Furqan Ustaz Erianto kepada Republika, Rabu (15/4).Tahap pertama disalurkan untuk 116 KK di Kelurahan Tanah Pak Lambik pada akhir Maret lalu.

Erianto menjelaskan, bantuan tahap pertama berasal dari dana infak dan sedekah Masjid Nurul Furqan. Tahap kedua untuk 200 KK berasal dari para hamba Allah yang tak mau disebutkan identitasnya, yang memercayakan bantuan ini kepada pengurus masjid.



Paket bantuan yang disalurkan berisi beras, minyak goreng, dan mi instan. Warga yang mendapatkan bantuan ini merupakan yang berhak berdasarkan data yang dikantongi pengurus masjid dan disesuaikan dengan data Kelurahan Tanah Pak Lambik.

Erianto menyebutkan, di Kelurahan Tanah Pak Lambik terdapat delapan rukun tetangga (RT). Supaya tidak menimbulkan kerumunan sesuai arahan protokol kesehatan, pembagian sembako ini dilakukan dengan sistem kupon yang waktu pengambilannya diatur.

Pengurus Masjid Nurul Furqon, menurut Erianto, ingin mengembalikan fungsi masjid seperti pada zaman Nabi Muhammad SAW. Saat itu, masjid menjadi sarana untuk memberdayakan ekonomi umat.

Masjid, kata Erianto, ingin menjamin tak ada lagi warga sekitar yang kelaparan di tengah bencana virus korona. ''Kita dari pengurus masjid, kembalikan masjid itu berfungsi seperti zaman Rasulullah, bahwasanya dari masjid kita berdayakan ekonomi umat. Tak ada lagi umat yang tak makan,'' ujar Erianto.

Bukan pengurus Masjid Nurul Furqon saja yang bergerak pada masa pandemi ini. Kegiatan serupa juga dilakukan berbagai masjid di berbagai daerah di Indonesia. Di Pekanbaru, Riau, pengurus Masjid Ibadurrahman di Jalan Sukakarya, Panam, juga bergerak.

Terkini

photo
Pengurus Masjid Nurul Furqan Kelurahan Tanah Pak Lambik, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat menyalurkan bantuan tahap ke dua bagi warga terdampak mewabahnya virus corona. - (Dokumentasi Masjid Nurul Furqon Padang Panjan)



“Karena situasi wabah korona, banyak masyarakat yang menjadi tak bisa bekerja. Dikhawatirkan, akan ada masalah sosial—naudzubillah. Maka, pengurus masjid wajib mendata ulang jamaah,” kata Ketua Dewan Takmir Masjid Ibadurrahman Ustaz Abdul Somad. Pembaca barangkali lebih akrab dengan sapaan akrab dai kondang tersebut, UAS.

Pengurus masjid itu menganjurkan kepada jamaah yang mampu mengumpulkan dana untuk dibelikan paket bantuan. “Kita patok Rp 300 ribu. Isinya beras 30 kilogram, gula, kopi, teh, dan lainnya yang dibagikan dalam tiga tahap,” kata UAS saat melakukan diskusi jarak jauh dengan Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kala (JK), Selasa (14/4) malam.

UAS melanjutkan, tahap pertama dibagikan pada 10 April lalu untuk persiapan Ramadhan. Sementara itu, tahap kedua, dia melanjutkan, dilakukan pada 10 Mei nanti sebagai persiapan menyambut Idul Fitri.

“Tahap ketiga dilakukan pada 10 Juni andai wabah ini berlanjut. Itu sebagai langkah antisipasi,” kata UAS. Pada tahap pertama, sebanyak 40 paket dibagikan bagi warga yang perekonomiannya terdampak pandemi. Jumlah selanjutnya bertambah, baik dari penerima maupun jumlah beras.

Sementara, di Semarang, Jawa Tengah, Pelaksana Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) mengumpulkan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) lebih lekas untuk didistribusikan kepada masyarakat terdampak Covid-19. "Bantuan yang akan disalurkan kepada masyarakat dalam bentuk paket kebutuhan pokok masyarakat. Untuk tahap pertama, targetnya bisa menyasar 2.500 masyarakat yang terdampak korona," kata Ketua Pelaksana Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah (PP MAJT) Kiai Noor Achmad MA di Semarang, Selasa.

Kami menyerukan masjid-masjid besar yang kuat dalam hal dana untuk setidaknya membantu masyarakat yang terdampak pandemi corona di lingkungan sekitarnya.

Nantinya, yang disasar MJAT adalah warga Jateng yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), dirumahkan, ataupun usaha informalnya terhenti disebabkan pandemi. “Dalam kondisi seperti ini, menjadi kewajiban kami untuk membantu para terdampak. Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘sedekah itu menolak bala dan memanjangkan umur’, maka konsep sedekah itu yang kami gerakkan," kata Noor Achmad.

Lain lagi upaya melawan Covid-19 yang dilakukan Takmir Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Sejak awal pandemi, mereka rutin membagikan hand sanitizer atau cairan pembersih tangan kepada warga sekitar setiap hari secara gratis.

 
Kita dari pengurus masjid, kembalikan masjid itu berfungsi seperti zaman Rasulullah, bahwasanya dari masjid kita berdayakan ekonomi umat.
 
 



Ketua Dewan Syura Masjid Jogokariyan Ustaz Muhammad Jazir mengatakan, aksi itu sudah dilaksanakan Takmir Masjid Jogokariyan sejak 19 Maret lalu. "Untuk warga dan jamaah itu total sekitar 7.500 botol, masing-masing botol berisi 60 mililiter," kata Jazir kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Ia menerangkan, pembagian itu telah dan akan terus dibagikan kepada empat rukun warga (RW), 18 RT, dan jamaah yang datang dari luar. "Alhamdulillah, kita turut membantu masjid-masjid lain, dari Gunungkidul, dari Bantul, banyak yang minta ke sini kita berikan per masjid dua liter," ujar Jazir.

Ketua Umum DMI Jusuf Kalla menekankan, peran masjid tersebut merupakan hal yang sangat baik dan patut dilakukan, terutama saat masa kesulitan ekonomi di tengah wabah Covid-19 saat ini. “Itu contoh baik,” kata JK membalas keterangan UAS. JK menambahkan, 300 ribu masjid yang terdaftar di DMI atau bahkan lebih banyak masjid baru setiap waktunya memang memiliki cara tersendiri, di antaranya menjadi lokasi dapur umum.

Mantan wapres itu menambahkan, pada waktu-waktu normal saat tak ada pandemi, masjid selalu dihidupi oleh jamaah dan masyarakat. Oleh karena itu, pada masa-masa sulit seperti ini, masjid juga diharapkan bisa membantu meringankan dan menghidupi atau memakmurkan masyarakat. “Kita biasa anjurkan masyarakat untuk makmurkan masjid. Tapi, masjid juga harus makmurkan masyarakat, utamanya pada saat sekarang,” ujarnya.


Jadi Ujung Tombak
Sekretaris Jenderal (Sekjen)  DMI Imam Addaruquthni juga mengajak takmir-takmir masjid untuk turut berperan membantu masyarakat yang ekonominya terdampak akibat pandemi wabah virus corona atau Covid-19. Imbauan tersebut diutamakan bagi masjid-masjid besar yang memiliki kekuatan finansial.

"Kami menyerukan masjid-masjid besar yang kuat dalam hal dana untuk setidaknya membantu masyarakat yang terdampak pandemi corona di lingkungan sekitarnya. Kalau ini bisa dilakukan, kalangan dhuafa tentu bisa keluar dari kesulitan hidup," kata dia kepada Republika, Rabu (15/4).



Dana infak masjid, lanjut Imam, bisa digunakan untuk belanja berbagai kebutuhan pokok, lalu didistribusikan kepada masyarakat dhuafa di sekitar masjid. Dia pun mengakui, banyak kalangan masyarakat di lapisan bawah yang pendapatannya berkurang bahkan nihil akibat pandemi Covid-19. Sehingga, dana infak masjid perlu dimanfaatkan untuk kepentingan mereka.

Imam menyadari, tidak seluruh masjid bisa memberdayakan dana infaknya untuk membantu masyarakat dhuafa sekitar. Sebab besar-kecilnya dana infak juga ditentukan kondisi ekonomi warga di lingkungan sekitar masjid. Meski begitu, dia mengatakan, keberadaan masjid di tengah masyarakat memungkinkan untuk menjadi pusat pendistribusian bantuan sosial di tengah situasi pandemi sekarang ini.

"Masjid siap untuk menjadi pusat distribusi bantuan sosial atau bantuan logistik kepada dhuafa. Masjid terbuka untuk menjalankan fungsi itu. Jika dikerahkan, pengurus-pengurus masjid itu sanggup melakukannya karena sudah biasa melaksanakan penyaluran distribusi zakat. Mereka punya juga data jamaah atau masyarakat di lingkungannya kan," ujarnya.

DMI, tutur Imam, juga mengingatkan pemerintah daerah untuk memberdayakan masjid-masjid yang berada di bawah naungannya. Misalnya masjid agung di tingkat kabupaten/kota dan masjid raya di tingkat provinsi. Kepala daerah harus memberdayakan masjid-masjid yang didirikannya agar dapat berperan demi kepentingan masyarakat terdampak wabah corona.

"Pemerintah daerah harus memberdayakan masjid-masjidnya. Karena kan itu sudah terdata sebagai masjidnya pemerintah. Maka pemerintah daerah bisa menggunakan sarana masjid ini untuk menjadi kanalisasi distribusi bantuan sosial," ungkapnya.

Selain itu, Imam menjelaskan, masjid-masjid milik pemerintah daerah biasanya mendapatkan anggaran dari pemerintah setempat yang dialokasikan untuk suatu program atau pos tertentu. Namun, dia menyarankan, di tengah pandemi saat ini, anggaran tersebut perlu direalokasi ke pos-pos lain yang lebih bermanfaat langsung bagi masyarakat.

"Dalam keadaan krisis sekarang ini, kalau ada kelebihan (dana) maka bisa dibicarakan ulang mengenai alokasi dana itu termasuk untuk penanggulangan krisis yang dirasakan para jamaah dhuafa. Jadi polanya atau sistem penyalurannya seperti penyaluran zakat. Ini untuk membantu pemerintah juga," kata dia.

Juru Bicara Satgas Covid-19 MUI KH M Cholil Nafis juga mengatakan selama pandemi ini masjid dapat bergerak mengumpulkan infaq secara daring. "Saya pikir bagus jika mushala dan masjid tetap melaksanakan rutinitasnya untuk infaq via online dengan mendata penerima infaq di lingkungan terdekat lebih dahulu," kata dia kepada Republika, Rabu (15/4).

Penerima infaq dapat diprioritaskan ustaz-ustaz yang biasa mengisi kajian di mushala dan masjid tersebut. Takmir masjid atau imam biasanya lebih paham dengan kondisi sekitarnya.

Jamaah masjid juga bisa menjadi prioritas sehingga tidak perlu lagi mendata yang lain rentan salah data. Takmir masjid juga tidak perlu lagi untuk menanyakan kebutuhan mereka. "Jika memang di lingkungan sekitar melihat ada yang membutuhkan dapat langsung diberikan, tidak perlu ditanya lagi kebutuhannya apa," ujar dia.  


×