Fi | AP

Nusantara

14 Apr 2020, 02:00 WIB

Warga Sebesi Masih Rasakan Debu Anak Krakatau

 

BANDAR LAMPUNG – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai menurun pada Senin (13/4) petang. Meskipun mengalami penurunan, warga Pulau Sebesi yang berdekatan langsung dengan GAK di Perairan Selat Sunda masih merasakan debu pasir halus, sisa letusan akhir pekan kemarin.

"Sekarang sudah tidak sekuat letusan beberapa hari minggu lalu. Sudah mendingan. Tapi, debunya masih tersisa di Sebesi ini," kata M Yusuf (57 tahun), tokoh masyarakat Dusun Regahan Lada III, Desa Tejang, Pulau Sebesi, Lampung Selatan, kepada Republika, Senin (13/4).

Menurut Yusuf, saat GAK meletus, beberapa kali mengeluarkan bau belerang yang bisa tercium sampai di Pulau Sebesi. Saat erupsi, warga berhamburan keluar rumah. Mereka, selain menghirup belerang, juga mengalami mata perih oleh debu pasir halusnya. Sekarang, ujar Yusuf, bau belerang sudah hilang, tapi debu halus masih turun di Pulau Sebesi.

Yusuf juga mengaku, masker permintaan masyarakat Pulau Sebesi sudah datang dan dipakai warga. Bantuan masker tersebut diberikan bupati Lampung Selatan kepada masyarakat setelah permintaan masker warga diberitakan. "Pak bupati sudah memberikan bantuan masker, terima kasih pemberitaannya," kata Yusuf yang juga berprofesi nelayan.

Pada Jumat (10/4) pukul 22.00, GAK mengalami erupsi. Letusan beberapa kali terdengar keras di warga di Pulau Sebesi dan Desa Way Muli dan Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Erupsi GAK semakin kuat hingga Sabtu (11/4) dini hari. Lava pijar GAK dan kolom letusan terlihat jelas dari Pulau Sebesi. Warga keluar rumah dan khawatir terjadi gelombang tsunami seperti yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu.

photo
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terlihat dari pinggir pantai di Desa Pasauran, Serang, Banten, Sabtu (11/4/2020). - (MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS/ANTARA FOTO)

Pada erupsi yang terjadi sejak Jumat (10/4) hingga Sabtu (11/4) lalu, GAK melontarkan debu material vulkanik beberapa kali. Kepala Pos Pemantauan GAK di Desa Hargo Pancuran Kabupaten Lampung Selatan Andi Suardi mengatakan, GAK pada Sabtu pagi mengalami delapan kali erupsi dan lontaran debu material vulkanik diperkirakan mencapai 2.000 meter.

Ia menyebutkan, bau belerang dari gunung itu memang tercium dan mulai pukul 06.00-12.00 WIB telah terjadi delapan kali erupsi. Pada Jumat malam pukul 22.35 WIB, GAK erupsi dengan menyemburkan abu vulkanik sekitar 657 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan pantauan kamera pengawas pada pos pemantauan GAK, abu vulkanik berwarna hitam dan abu-abu itu bergerak ke arah timur dengan ketinggian sekitar 500 meter dari dasar kawah.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan, tingkat aktivitas gunung yang terletak di Selat Sunda itu berada pada level II atau waspada. PVMBG mengimbau masyarakat atau wisatawan untuk tidak mendekati kawah dalam radius dua kilometer dari GAK. Erupsi yeng terjadi di GAK akhirnya tidak berpotensi menyebabkan tsunami. Meskipun, warga di sekitar GAK khawatir kalau terjadi tsunami lagi seperti pada 2018 lalu. 

Menurut Arifin (58 tahun), warga Desa Tejang, butuh waktu setahun dari kejadian tsunami agar warga berani beraktivitas melaut. Beberapa perahu dan mesin perahu bantuan dari donatur telah dimanfaatkan nelayan untuk melaut. Dia mengatakan, masyarakat Pulau Sebesi mulai bangkit lagi beraktivitas, baik yang bertani, berkebun, dan nelayan. Kehidupan masyarakat mulai normal lagi setelah beberapa waktu lalu tidak bisa melaut dan bekerja karena perahu rusak, hilang, dan tidak ada mesinnya.

Selain itu, ujar dia, Pulau Sebesi sudah teraliri listrik selama 24 jam, setelah sebelumnya penduduk hanya menikmati aliran listrik hanya enam jam pada malam hari. "Sekarang listrik sudah 24 jam, selama tahun 2020," katanya. n


×