
Sastra
Siang Sesudah Wabah
Puisi Rudiana Ade Ginanjar
Oleh RUDIANA ADE GINANJAR
Tahun Keempat
Tahun-tahun lewat sudah.
Sebuah perjalanan, tujuan.
Dengan kata-kata sederhana, nyanyian,
waktu jeda panjang.
Masih kujalani hari, riak,
cerita-cerita kecil.
Ceruk danau kemarin,
mulai kehilangan muasal
dari mata air
yang mengunjungi samudera.
Jalan-jalan kian hening,
sebuah barisan sunyi.
2024
***
Siang Sesudah Wabah
Tampak lebih jauh
memanen sepi:
sebuah gelanggang
padat dalam gelisah.
2024
***
Denyut Aubade
(1)
Pagi lebih rendah.
Tangan halimunan,
sebentuk kerangka dibajak seusai malam.
Pagi, mungkin ia yang melepas
jubah sang surya,
dan melipat tiga putaran roda
di jalan perkampungan.
(2)
Masih basah, ruang baru saja
menitipkan mimpi kita.
Sebuah tanda koma lama
dan dedaunan bergoyang
sebab angin tuntas pertama malam.
Fajar, elok dan bahagia.
Berlabuh cahaya,
dan sebuah perjalanan baru
akan bertolak kembali.
(3)
Perlahan saja, kau akan mencerap
tembok dan bebatuan
ke warna lumut,
kenangan dan pintu-pintu rahasianya.
2021
***
Kebaikan
Di tempat jauh
hanya sebatang ranting
mengusung akar langit.
Berjajar, hanya tembok dari
senyum kekal.
Bunga-bunga hidup,
bunga dari kembang budi.
2021
Rudiana Ade Ginanjar, lahir di Cilacap, 1985. Menulis puisi, esai, dan menerjemahkan. Karya-karyanya diterbitkan dalam media massa dan sejumlah buku, antara lain antologi tunggal Wanita dari Tarifa: Vol. II (2025). Bergabung dengan Komunitas Sastra “Kutub”, Yogyakarta. Bisa dihubungi di ginanjarpustaka@gmail.com.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.