|
17 Mar 2020, 11:47 WIB

Luthfy Noorhafizh: Santri Pembuat Ramen

Ramen Luthfy Noorhafizh mulai dirasakan manfaat ekonominya oleh tetangga.

Ramen merupakan salah satu makanan yang tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia saat ini. Tapi, ternyata, sebelum ramen booming seperti sekarang, Luthfy Noorhafizh sudah melirik peluang bisnis mi kuah dari Negeri Sakura itu. Bermula dari menjual ramen untuk jajanan para santri di sekitar pondok pesantrennya, tak pernah terbayang oleh pria asal Kuningan, Jawa Barat, itu bisnis ramennya bisa bertahan selama tujuh tahun.

Ramen Saga, begitu bisnis Luthfy dinamai. Nama itu diambil dari nama angkatan saat ia nyantri di Pondok Pesantren Khusnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat. Saga sendiri adalah singkatan dari nama angkatannya ketika nyantri saat itu, yaitu angkatan 13 atau satu tiga. Luthfy ingat betul tujuh tahun lalu, tepatnya Juli 2013, ia mulai menjajakan ramen pertamanya melalui bazar penerimaan santri baru di pondok pesantrennya.

Berbekal nekat, Luthfy menjajakan sekitar 2.000 mangkuk ramen. Tadinya, 2.000 ramen tersebut ia perkirakan akan habis selama empat hari masa bazar berlangsung. Namun, karena ramen merupakan kuliner baru di wilayah Kuningan, Jawa Barat, 2.000 mangkuk ludes dalam waktu satu hari.

"Saat itu, dunia F and B (food and beverages-Red) belum kayak sekarang. Pas kami jualan, adik-adik kelas enggak asing karena punya abang kelas, jadi ngajaknya enak," kenang Luthfy.

Namun, ludesnya ramen pada hari itu tak langsung membuat Luthfy mengembangkan Ramen Saga. Ia mengaku, sempat vakum beberapa bulan. Selain karena masih harus menempuh pendidikan di UPI Bandung, Jawa Barat, eksistensi Ramen Saga milik Luthfy juga masih terganjal restu orang tua yang menganggap miring usaha makanannya itu.

Seiring waktu berlalu, ternyata anak-anak pondok pesantren tak jarang menanyakan Ramen Saga. Rumah Luthfy yang tak jauh dari lingkungan pondok pesantren kerap menjadi tempat tongkrongan santri. Berbekal dapur rumah dan butik orang tua, tidak jarang orang yang datang ke rumahnya memesan ramen untuk santap siang.

"Santri dan guru-guru banyak yang nanyain. Yaudah buka ajalah, kata orang tua. Buka di dapur rumah," ujar Luthfy.

Oktober 2013 akhirnya Luthfy menasbihkan dirinya untuk mengembangkan Ramen Saga. Hal inilah yang membuat sulung dari empat bersaudara ini mulai membuat kios kecil di rumah. Ia juga memanfaatkan rumah yang terletak di pinggir jalan lintas provinsi menjadi pangsa pasar yang menjanjikan.

Dua-tiga bulan, bisnis Ramen Saga lumayan pesat. Semula, konsumen adalah mereka yang membeli baju di butik yang kemudian makan ramen. Makin ke sini, Luthfy merasa, Ramen Saga mendapat sambutan bagus.

"Oktober 2013, buka di rumah. Kebetulan jauh dari kota, perbatasan ada jalur cepatnya, nah di situ. Kita enggak expect sampai besar seperti sekarang," ujar Luthfy.

Mulai dikenalnya Ramen Saga di kalangan orang sekitar membuat Luthfy akhirnya mulai serius untuk benar-benar terjun mengembangkan Ramen Saga. Pada 2015 Luthfy mulai berbenah. Ia mulai melakukan promosi melalui media sosial. Tak lupa, ia juga memoles butik orang tua menjadi warung ramen.

Pada awal 2015 bisnis Ramen Saga mulai besar. Karena tetap harus ke Bandung, bisnis itu Luthfy jalankan sambil kuliah.

 

Sempat ditolak tetangga

Ia tak sendiri, semakin besar Ramen Saga, Luthfy dan orang tua mulai kewalahan menerima pesanan. Akhirnya, ia memberdayakan tetangga sekitar untuk bekerja di sana. Hal ini juga bukan tanpa tantangan. Luthfy menjelaskan, awal mula Ramen Saga besar tak sedikit warga sekitar yang menolak. Beberapa tetangga yang ingin ikut bekerja di Ramen Saga bahkan harus ngumpet-ngumpet. Pernah ada seorang suami yang datang, marah-marah karena istrinya bekerja di Ramen Saga.

Namun, omzet yang meningkat dan banyaknya pengunjung mulai dirasakan manfaat ekonominya oleh orang sekitar. Luthfy bahkan menyebut, ramen malah menjadi kultur baru di desanya. "Kalau orang sini mah kalau mau nongkrong sebutannya ngebakso, sekarang mah hayuk ngaramen," ujar Luthfy.

Dampak ekonomi tak hanya dirasakan oleh pegawai. Tak jarang, banyak tetangga sekitar yang memanfaatkan kardus bekas dan botol-botol bekas hasil jualan untuk kemudian dijual lagi. Selain itu, beberapa anak yang tak tamat sekolah saat ini punya peluang untuk kerja di Ramen Saga.

"Omzet mulai naik, orang ngeliat potensi juga. Tetangga ambil barang bekasnya, juga nawarin saudara buat kerja. Cewek-cewek yang enggak lanjut SMA ya sudah kerja di rumah (gerai Ramen Saga?Red)," kata Luthfy.

Karena makin besar, Luthfy pun mulai membuka cabang di beberapa tempat. Saat ini, Ramen Saga ada di Ciawi, Kuningan, dan Tegal. Memang, diakui Luthfy, Ramen Saga sempat membuka hingga tujuh cabang. Namun, saat ini, ia memutuskan untuk mengoperasikan tiga titik saja, yang penting fokus.

Ia membandrol semangkok ramen seharga Rp 17 ribu hingga Rp 30 ribu, tergantung varian dan pelengkap pilihan konsumen. Saat hari kerja, satu kedai ramen bisa menjual hingga 500 mangkuk sehari. Namun, saat akhir pekan, Ramen Saga bisa menjual hingga 1.500 mangkuk.

Dalam satu bulan, Luthfy bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 500 juta hingga Rp 700 juta dari Kedai Manisan Lor, Kuningan, saja. Sedangkan, di cabang, ia bisa mengantongi sebesar Rp 100 juta hingga Rp 150 juta per bulan.

Untuk menjaga konsistensi dan keberlangsungan usaha ramen di beberapa cabang, Luthfy melibatkan keluarga untuk mengelola bersama Ramen Saga. Namun, untuk bahan baku ramen, Luthfy masih memusatkan produksi bahan baku di rumahnya. Ia menjelaskan, semua bahan baku ia buat sendiri dengan resep yang ia kembangkan selama ini.

 

Pembuktian kepada orang tua

Pemilik Ramen Saga, Luthfy Noorhafizh, bercerita, mengembangkan Ramen Saga sedari awal bukan tanpa tantangan. Sulung dari empat bersaudara ini mengaku, kedua orang tuanya sempat menganggap remeh bisnis ramennya itu.

Luthfy memang sudah hobi memasak sedari bangku sekolah menengah pertama. Dulu, ia sering mengkreasikan mi instan dengan berbagai rasa dan modifikasi. Ia lalu melihat hal ini bisa menjadi peluang baru.

Keputusan Luthfy mengambil jurusan tata boga di UPI Bandung pun sempat diremehkan oleh orang tua. "Mau jadi apa atuh masuk tata boga?" cerita Luthfy saat ia menceritakan rencananya ke orang tua.

Apalagi, saat 2012, jurusan ini belum banyak dikenal masyarakat. Namun, Luthfy tak gentar. Ia tetap menjalani perkuliahannya sambil mengelaborasi ramen.

Berbekal uji coba resep dan belajar dari senior juga menerapkan ilmu di bangku perkuliahan, Luthfy mengembangkan Ramen Saga menjadi seperti saat ini. Melihat animo teman-teman dan warga sekitar yang menggemari Ramen Saga, sedikit demi sedikit membuka hati kedua orang tuanya.

"Orang tua enggak ngizinin. Orang tua enggak lihat potensi saat itu. Padahal, saya memang suka masak," ujar Luthfy.

Perjalananya harus bolak-balik Bandung-Kuningan untuk menyelesaikan kuliah dan mengembangkan Ramen Saga juga memaksa pria kelahiran 1993 ini menamatkan sekolahnya selama enam tahun. Meski begitu, dari semula kedua orang tua menganggap miring usahanya, mereka malah ikut serta membantu penjualan Ramen Saga.

Saat ini, Ramen Saga bukan sekadar kedai ramen. Luthfy yang memang mempunyai panggilan hati di bidang kuliner dan mencoba mengembangkan sayap, tahun ini, sedang mengembangkan jenama kedai kopi bersama lima orang temannya. Ia berharap, kedai kopi ini juga bisa sesukses Ramen Saga.

Tak hanya itu, Luthfy juga tak menutup potensi di ramen saja. Ia juga menerima //katering//, pesanan kue, serta makanan lain agar dapat terus menggali minatnya dalam bidang kuliner.

"Fokusnya di kopi tahun ini, Kopi Saga. Memang akhirnya semua bagaimana peluang yang ada, saya coba kembangkan," kata Luthfy.


×