Deni Asy | Wihdan Hidayat/Republika

Wawasan

18 Mar 2020, 02:00 WIB

Menggerakkan Media Komunitas

Deni Asy'ari Direktur Utama Suara Muhammadiyah

Muhammadiyah kini bisa berbangga dengan hadirnya Suara Muhammadiyah. Media komunitas ini bukan hanya sebagai media internal persyarikatan, tetapi menjelma menjadi bangunan baru dalam lini bisnis milik warga Muhammadiyah.

Perjalanan Suara Muhammadiyah (SM) terbilang singkat jika dibandingkan dengan usianya yang sudah seabad. Di bawah pimpinan seorang pemuda, Deni Asy'ari, SM kini menjadi satu penggerak roda perekonomian di internal Muhammadiyah. Bagaimana cara Deni merombak total media komunitas Muhammadiyah ini menjadi sebuah perusahaan komunitas?

Apalagi rencana Deni memimpin SM ke depan? Wartawan Republika, Silvy Dian Setiawan, berkesempatan berbincang dengan Deni di sela kesibukannya di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Suara Muhammadiyah (SM) menjadi satu media komunitas yang berkembang pesat. Bisa diceritakan kondisi SM saat ini?

Empat sampai lima tahun belakangan ini SM memang berkembang dari sebelumnya yang terkesan lebih monoton dan eksklusif. Sekarang, SM ini lebih menunjukkan betul-betul sebagai media syiarnya persyarikatan (Muhammadiyah). Perubahan ini, pertama di manajemen misalnya. Dari sisi manajemen SM yang dulunya dikelola 20 orang dan rata-rata usia tua, sekarang karyawannya ada usia muda dengan total 120 orang karyawan di Yogyakarta. Jadi, sekian kali lipat kenaikannya.

Kedua, secara konten di majalah SM ini kita juga mengalami perubahan yang signifikan. Kalau dulu banyak di dalam konten SM ini pemikiran-pemikiran seputar SM. Namun, empat atau lima tahun ini sudah berkembang konten-konten keislaman kebangsaan. Kalau kita coba persentasekan itu banyak pemikiran keislaman kebangsaan yag kita munculkan sekarang ini.

Begitu juga dari sisi performa. SM ini dulu kita lihat hanya sekadar terbit saja dengan tampilan yang seadanya dan kertasnya HVS dan hitam-putih. Alhamdulillah, sekarang tampilannya jauh lebih enak dilihat dan kertasnya jauh lebih bagus, full colour, dan lebih meriah dibandingkan sebelumnya.

Bagaimana respons dari warga Muhammadiyah sendiri?

Yang menarik memang perkembangannya dan perubahan respons warga Muhammadiyah itu sendiri. Kalau dulu kesan terhadap media persyarikatan ini, ya sebagai medianya orang tua, media formalnya Muhammadiyah. Namun, hari ini tidak hanya dibaca orang tua, anak muda juga banyak yang membaca. Artinya, mereka bangga dengan majalah ini.

Kalau sebelumnya hampir 70 persen itu pembacanya generasi old. Dari survei kami pada November 2019, usia muda yang usia 18-30 tahun ke atas presentasenya 65 persen yang membaca dan 35 persen itu orang tua, yang 50 tahun ke atas. Jadi, target kami mengubah performa majalah ini relatif tercapai.

Konten yang kita tampilkan memang selain ada yang sifatnya panduan untuk warga Muhammadiyah, ada juga porsi konten-konten yang diisi anak-anak muda. Jadi, sekarang ada penulis dari komunitas anak muda Muhammadiyah yang kita dorong untuk memberikan pikiran-pikirannya di SM. Tentu dengan pola milenial dan cocok dengan milenial.

Kondisi sebelum berkembang seperti hari ini, bagaimana?

Waktu saya awal masuk hanya fokus pada penerbitan majalah yang sifatnya cetak. Itu sekitar 2014 dan kemudian dari 2014 itu saya melihat tantangan media ke depan itu sangat berat. Pertama, ada tantangan dunia digital yang juga menguras untuk media-media printing atau cetak. Lemahnya literasi masyarakat saat ini juga menjadi tantangan karena lemahnya budaya membaca.

Artinya, dengan dua tantangan ini media yang kita kelola tidak akan mungkin bertahan lama jika kita tidak menyiasati jika terus ingin terbit. Maka, kami melakukan beberapa hal agar tetap bisa terbit. Satu, kita menyesuaikan kebutuhan masyarakat sesuai dengan eranya, yakni kita menerbitkan Majalah SM unit digital dan cetak. Artinya, masyarakat tidak hanya bisa mengakses majalah SM versi cetak, tapi juga versi daring.

Kedua, mengelola majalah ini tidak hanya dari aspek medianya saja. Namun, juga ada aspek bisnis lain. Maka, kami pada 2015 itu mencoba mengembangkan unit bisnis SM. Yang kami kelola pertama toko. Toko ini usaha perdagangan yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan warga Muhammadiyah secara nasional. Dan, alhamdulillah, treatment kami awalnya memberikan suatu yang positif. Karena potensi yang besar ini di Muhammadiyah belum ada pengelolaan secara kelembagaan, tapi dikelola secara personal-personal.

Tingkat keberterimaan toko dari warga Muhammadiyah?

Kami buka usaha perdagangan ini, respons warga Muhammadiyah tinggi. Melalui toko ini kami kembangkan outlet-outlet di luar daerah. Alhamdulillah, kami bisa mengembangkan 57 outlet di seluruh Indonesia yang itu dalam jangka waktu dua tahun sejak 2017. Di setiap provinsi outlet ini ada dan ada tiga di luar negeri baru kita buka. Ada di Kuala Lumpur (Malaysia), Melbourne (Australia), dan Turki.

Dulu, SM kantornya kecil sekali di Jalan Cik Di Tiro, Yogyakarta. Sekarang sudah punya gedung sendiri di Jalan KH Ahmad Dahlan Nomor 107, Yogyakarta, dan layak. Pimpinan Muhammadiyah juga sering rapat dan membawa tamu ke sini. Saya dulu punya mimpi untuk kembangkan //SM// ini. Di dari modal nol rupiah, utang, dan pinjaman ke manapun. Ini betul-betul mandiri dari segi kebijakan dan kami mengembangkan usaha tanpa utang.

Selain toko, unit usaha apa lagi yang dikembangkan?

Melalui usaha perdagangan ini kamu melihat potensi ekonomi di Muhammadiyah itu besar. Maka, kami kembangkan unit lain dari usaha ini, yakni unit penerbitan buku. Itu potensinya besar sekali. Kita punya sekolah-sekolah Muhammadiyah dan juga perguruan tinggi Muhammadiyah yang banyak sekali. Sementara itu, buku-buku yang mereka miliki itu belum kita kelola secara kelembagaan.

Maka, kita buka penerbitan untuk buku-buku yang kita pasarkan pada seluruh sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ada di Indonesia. Alhamdulillah itu sudah jalan. Kita juga mengembangkan lini baru event organizer (EO). Di Muhammadiyah ini komunitasnya cenderung banyak acara, seperti di hotel, lapangan, dan kampus. Selama ini, EO yang banyak mengelola kegiatan Muhammadiyah dari luar. Kami berpikir ini potensinya besar. Maka, kami bentuk EO ini dan kami juga ada kemitraan dengan kampus dan Muhammadiyah untuk mengadakan acara-acara.

Selain itu, masih ada lagi?

Pada 2018, kami juga ada membuka unit usaha konveksi SM. Karena toko-toko SM kan sudah 57 outlet dan itu kebutuhan baju dan seragam selama ini kita lempar ke orang lain. Kami punya cabang di Yogyakarta dan Cirebon. Kami memberdayakan masyarakat yang menganggur. Terakhir kami juga membuka SM tour and travel. Ini biro perjalanan sekaligus untuk haji dan umrah. Ada juga SM logistik untuk mengirim barang bagi warga Muhammadiyah.

Selain itu, yang akan kita buka dan baru kami ground breaking perhotelan. Kami juga masuk ke bidang perhotelan, kami sebut namanya SM Tower. Insya Allah akan berdiri dua SM Tower di DIY, satu di belakang Graha Suara Muhammadiyah dan satu di YIA. Di YIA, saya baru beli lahan di sana. SM Tower ini konsepnya jamaah dan akan saya kembangkan di seluruh Indonesia nantinya seperti outlet-outlet tadi. Jadi, nanti ada SM Tower Bandung, SM Tower Jakarta, dan Bali.

Apa manfaat yang dirasakan Muhammadiyah?

Di banyak lini bisnis yang kita kelola ini ternyata mampu mendongkrak dari distribusi, termasuk kebanggaan warga Muhammadiyah memiliki media komunitas ini. Karena melalui usaha-usaha ini kita mendistribusikan sekaligus majalah SM. Misalnya, di 57 outlet itu wajib ada SM. Event yang ada goody bag, di sana kita masukkan SM. Bahkan, perkembangan usaha ini juga bisa mendongkrak distribusi SM sampai ke luar persyarikatan Muhammadiyah.

Dulu, ada yang tidak mau mengaku sebagai bagian dari SM, disembunyikan karena memang banyak yang tidak layak. Baik dari performa dan kualitasnya. Sehingga, tidak ada kepercayaan diri dari karyawan. Dari awal ini yang saya kembangkan ke karyawan. Sekarang tidak hanya karyawan yang bangga, tapi juga pimpinan.

Sudah berapa persen potensi dari Muhammadiyah yang tergarap SM?

Kalau bisa dibilang, baru lima persen yang kita garap. Masih banyak potensi dari warga Muhammadiyah untuk terus mengembangkan lini usaha lainnya. Potensi besar, tapi posisinya masih sebagai konsumen, bukan produsen. Kita, misalnya, punya puluhan ribu sekolah, tapi kertasnya itu dari orang lain, alat dari orang lain, dan pulpen serta meja juga dari orang lain. Belum ada yang diproduksi Muhammadiyah.

Seperti penerbitan buku tadi dan konveksi. Banyak sekolah-sekolah di Muhammadiyah. Muktamar, misalnya, puluhan ribu yang akan datang. Bajunya bagaimana? Kalau kita bisa memanfaatkan potensi itu, satu baju saja untuk satu orang kita sudah bisa membuat berapa. Berapa banyak potensi yang bisa kita manfaatkan. Banyak sekali yang bisa kita manfaatkan potensi Muhammadiyah ini ke depan.

Rumah sakit kita ada 400 ribu rumah sakit dan klinik. Pertanyaannya, obat dan alat kesehatan siapa yang menyuplai. Saat ini, Muhammadiyah belum masuk ke sana. Maka, tahun depan kita akan masuk ke sana secara bertahap.

Apa saja tantangan mengembangkan media komunitas ini?

Kami lihat, pertama tantangan itu di internal kami sebenarnya. Kemarin untuk melakukan perubahan itu, sebenarnya bukan aspek dari luar yang menghalangi dan menjadi persoalan. Tapi, kita sebagai pelaku dari perubahan itu, siap atau tidak mengubah mindset dan mental ini yang agak berat. Selama ini kecenderungannya kita itu mentalnya mental pekerja. Saya minta tinggalkan itu dan menjadi entrepreneur mentality. Jadi, apa yang kita kerjakan ini sebuah perubahan, membangun mental dan mindset itu yang sudah seiring waktu berjalan dan teman-teman di SM bisa melakukan itu.

Kalau dari luar, tantangannya lebih kepada aspek dimana dulu belum ada gerakan ekonomi seperti sekarang ini. Dan ini terus kita bangun. Yang antre ada 12 outlet yang akan diresmikan. Kita ingin menghadirkan ekonomi itu sebagai pilar ketiga lah di persyarikatan.

Bagaimana sinergitas dengan media komunitas lainnya?

Sinergi dan kolaborasi menjadi prioritas bagi SM saat ini. Di era ke depan, kita tidak bisa main sendiri. Maka, kita memprioritaskan program-program kolaborasi, terutama dengan media komunitas. Kami ingin membangun media komunitas Muslim. n

Dilema Menutup Bisnis Pribadi

Menjadi seorang pebisnis yang terbilang sukses, membuat Deni Asy'ari dapat meraup hingga Rp 30 juta tiap bulannya. Ia memiliki usaha percetakan dan toko dengan memiliki setidaknya sembilan karyawan.

Namun, bisnisnya tersebut terpaksa ditutup lantaran mendapatkan amanah memimpin media komunitas Suara Muhammadiyah (SM) pada 2014. Saat itu, ia sempat dilema karena harus meninggalkan semua bisnis yang sudah dibangunnya bertahun-tahun .

"Diminta tutup, saya punya bisnis dan sementara ada karyawan. Saya dilema, maka usaha saya tinggal begitu saja dan karyawan dikeluarkan," kata Deni kepada Republika saat ditemui di Graha Suara Muhammadiyah, Yogyakarta, belum lama ini.

Saat masuk ke SM, kondisi SM saat itu sangat tidak layak. Kantor yang kecil, bahkan tidak ada modal untuk membangun SM. Parahnya, yang ada media komunitas tersebut memiliki utang ke bank. Melihat kondisi tersebut, ia berikhtiar dan memiliki mimpi untuk membangun SM. Membangun SM terus ia lakukan sebagai ikhtiarnya dalam berdakwah. Ia berikhtiar menjadikan SM sebagai pusat syiar dan ekonomi Muhammadiyah. "Ikhlas menerima diminta untuk ditutup. Namun, alhamdulillah, Tuhan memberi yang lebih," ujarnya.

Dengan tugas tak ringan, membuat Deni harus rajin melakukan perjalanan ke luar daerah. Berpisah dengan keluarga sudah menjadi karib saat ia harus keluar dari Kota Pelajar Yogyakarta. Namun, amanah yang diembannya membuat keluarga mengerti. Mereka mafhum dengan tugas yang dikerjakan Deni. Justru keluarga menjadi pendukung utama kiprah sang direktur SM ini membangun kembali media komunitas menjadi kebanggaan warga Muhammadiyah.

Kepada Republika, Deni mengaku keluarga sudah bisa mengimbangi semua kegiatan yang dilakukannya. Sang istri dan anaknya tidak keberatan dengan ikhtiarnya selama ini memimpin SM. "Saya beri anak dan istri kepercayaan yang lebih dan mereka memberi hasil maksimal yang saya lakukan. Ada hasil bagi keluarga dan perserikatan. Prinsip hidup saya memberi manfaat bagi orang lain," kata Deni.

Pengorbanan keluarga adalah hal paling utama yang ingin dibalas Deni. Hilangnya waktu kebersamaan, selalu terbayar tuntas ketika hari libur. Satu komitmen yang sudah diterapkan Deni adalah hari libur milik keluarga. "Hari Ahad saya juga buat komitmen tidak bisa diganggu, itu full untuk keluarga. Kalau ada pernikahan atau acara lain, saya jarang datang. Kecuali kalau ada yang meninggal," tuturnya sembari tertawa. n


×