Pegawai melintas di depan layar pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (25/10/2019). | M RISYAL HIDAYAT/ANTARA FOTO
16 Mar 2020, 02:00 WIB

Tetap Tenang di Tengah Gejolak

Pandemi virus korona baru menyebabkan penurunan bursa saham di seluruh dunia.

 

Pergerakan bursa saham domestik mendapatkan pengaruh yang cukup besar dari sentimen penyebaran virus korona baru atau Covid-19. Sejak awal tahun, indeks saham terus menunjukkan tren penurunan yang signifikan.

Koreksi tajam terjadi ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan dua orang warga negara Indonesia (WNI) telah terinfeksi virus yang menyerang sistem pernapasan tersebut. Pada saat itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah di level 5,361.25 atau terkoreksi 1,68 persen. 

Pasar saham dunia kembali melorot setelah WHO mengumumkan status pandemi dari penyebaran virus korona pada pekan lalu. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan sempat dihentikan atau mengalami trading halt pada Kamis (12/3) dan Jumat (13/3) karena melorot lebih dari 5 persen. 

Pada akhir pekan lalu, IHSG ditutup di level 4.907,57. Secara harian, IHSG menguat 11,82 poin atau 0,24 persen. Secara year to date, IHSG telah mengalami penurunan sebesar 22,28 persen dari 6283,58 pada 2 Januari 2020. 

photo
Karyawan melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/2). Prayogi/Republika. - (Prayogi/Republika.)

Analis menilai, indeks saham domestik masih berpeluang mengalami pelemahan. "Potensi IHSG turun lebih dalam di bawah 5.000 masih terbuka karena sentimennya cukup parah," kata Analis Panin Sekuritas William Hartanto, pekan lalu. 

Meski demikian, BEI mengimbau agar pelaku pasar tetap tenang dalam menanggapi pergerakan IHSG yang cukup volatil tersebut. Pasalnya, penurunan indeks saham ini juga dialami oleh bursa saham negara lainnya.

Di regional ASEAN, penurunan rata-rata berada di rentang 9-20 persen. Indonesia merupakan negara ketiga yang mengalami koreksi terdalam setelah Thailand (minus 20,84) dan Filipina (minus 18,71). 

"Kita harapkan pelaku pasar tidak panik dan tidak reaktif terhadap penurunan harga. Kita harus selalu optimistis," kata Direktur Utama BEI Inarno Djajadi.

Menurut Inarno, penurunan terjadi menyusul antisipasi investor terhadap dampak virus korona yang diperkirakan semakin meluas. Hal ini mengingat makin banyaknya jumlah negara yang terdampak. Tidak hanya itu, penyebaran virus ini juga memengaruhi aktivitas ekonomi dan perdagangan global. 

Meski demikian, lanjut Inarno, Indonesia masih merupakan tujuan investasi yang menarik. Secara makro, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tercatat di level 5 persen. 

 
Inarno mengatakan, pihaknya selalu berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah untuk merumuskan inisiatif dan insentif yang akan diberikan dalam mengantisipasi dampak virus korona terhadap aktivitas di Pasar Modal Indonesia. 
   

Sejumlah inisiatif yang disiapkan, di antaranya larangan aktivitas transaksi short selling, yaitu aksi menjual saham tanpa memiliki saham terlebih dahulu. Dengan tidak adanya short selling, diharapkan kondisi pasar bisa lebih stabil. 

Selain penghentian sementara short selling, menurut Inarno, BEI juga memiliki protokol lainnya untuk menjaga pergerakan IHSG tetap stabil mulai dari suspensi perdagangan hingga autorejection asimetris. 

Direktur Penilai Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menambahkan, minat perusahaan untuk melantai di pasar modal masih cukup baik. Dari 24 perusahaan yang berencana untuk menggelar initial public offering (IPO), belum satu pun yang menginformasikan akan menunda rencana tersebut. 

"Begitu juga dengan 13 perusahaan yang berencana menerbitkan obligasi, masih on schedule," ujarnya. 

Angin segar buyback

Otoritas dan regulator juga melonggarkan kebijakan pembelian kembali atau buyback saham bagi emiten. Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK, Anto Prabowo, menyebut kebijakan ini sebagai upaya memberikan stimulus perekonomian dan mengurangi dampak pasar yang berfluktuasi secara signifikan.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai, aksi buyback saham cukup efektif untuk meredam penurunan harga saham. "Buyback saham akan menyebabkan permintaan saham meningkat, dengan sendirinya harga saham bisa naik," kata Hans saat dihubungi Republika.

Manfaat lainnya, yaitu bisa memberikan keuntungan tambahan bagi emiten. Pasalnya, saham yang sudah dibeli dengan harga murah biasanya akan dijual kembali di bursa dengan harga normal. Sehingga, emiten bisa mendapatkan keuntungan yang cukup besar dari selisih penjualan saham tersebut. 

Menurut Hans, aksi buyback juga merupakan sinyal dari emiten bahwa harga sahamnya saat ini sudah murah. Sehingga, ini menjadi kesempatan bagi pemegang saham lain untuk ikut membeli saham. 

Hans menilai, selain menstabilkan harga, buyback saham juga dapat meningkatkan optimisme pasar. Menurutnya, buyback saham akan menjadi katalis positif di tengah tekanan penyebaran virus korona baru atau Covid-19.

Hans mengapresiasi sejumlah kebijakan yang telah dikeluarkan otoritas untuk meredam penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi beberapa waktu ke belakang. Menurut dia, buyback bisa menjadi solusi jangka pendek maupun jangka panjang bagi emiten.

Secara global, Hans melihat, pergerakan pasar saham dipengaruhi oleh kebijakan dan stimulus pemerintah dalam mengantisipasi dampak penyebaran Covid-19. Dua pekan lalu pasar saham dunia sempat menguat akibat harapan stimulus moneter berbagai bank sentral dunia. 

"Pelaku pasar kembali berharap the Fed melakukan pemotongan bunga pada pertemuan 18-19 Maret mendatang untuk menghadapi perlambatan ekonomi dunia," kata Hans.

Pasar saham global juga masih menunggu realiasi berbagai stimulus lembaga dunia terkait penyebaran virus korona. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva mengatakan, pihaknya menyediakan dana yang ditujukan bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan emerging market. 

Bank Dunia juga siap membantu negara anggota mengatasi tantangan kemanusiaaan dan perekonomian akibat wabah virus korona melalui dana darurat. Negara anggota G-7 juga menyampaikan akan menggunakan berbagai alat untuk membantu ekonomi global menangani ancaman virus korona. N ed: ahmad fikri noor

 

Momen Emas Investor Jangka Panjang

Dalam satu bulan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi yang cukup dalam akibat merebaknya virus korona baru atau Covid-19. Di sisi lain, kondisi ini disebut menjadi momen yang tepat untuk masuk pasar saham.

Di tengah kelesuan IHSG, investor dianjurkan untuk mulai membeli saham-saham diskon. "Sekarang valuasinya sangat menarik untuk investasi," kata Deputy CIO Mandiri Investasi, Aldo Perkasa.

Aldo mengatakan, momen ini sebaiknya dimanfaatkan oleh investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang. Investor bisa mengatur ulang kembali portofolio investasi mereka untuk mendapatkan profit yang maksimal.

Sementara untuk investor dengan horizon investasi jangka pendek atau maksimal satu tahun, tidak disarankan untuk masuk ke pasar saham saat ini. Menurut Aldo, tingkat volatilitas pasar saham saat ini masih sangat tinggi sehingga cukup berisiko. 

Aldo menyarankan, investor jangka pendek sebaiknya memilih investasi yang lebih aman, seperti produk berbasis pendapatan tetap. "Fixed income yang short duration cenderung rendah volatilitas,” kata Aldo.

Aldo memperkirakan, kondisi pasar saham akan mulai membaik pada semester II 2020. Perbaikan tersebut didorong oleh pemberian stimulus baik dari sisi fiskal maupun moneter. Meskipun tren penurunan masih terbuka, Aldo melihat, indeks saham sulit jatuh lebih dalam lagi dari posisi saat ini. 

Aldo optimistis perekonomian global akan mulai membaik, terutama pada kuartal III 2020. "Semoga sudah bottom karena secara valuasi ini sudah yang paling murah dalam 10 tahun terakhir," ujarnya.

Sektor-sektor yang bisa menjadi pilihan investor saat ini adalah konsumer dan perbankan. Sedangkan sektor yang harus dihindari adalah properti, industri dasar, dan pertambangan. Di luar sejumlah sektor tersebut, saham emiten milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga dinilai menarik untuk dikoleksi. 

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengakui, dari 20 emiten BUMN yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak banyak yang membukukan kinerja positif. Sebagian besar bahkan mengalami penurunan harga saham dengan rentang satu persen sampai 40 persen. 

"Pada periode 31 Desember 2019 sampai 24 Februari 2020 total kapitalisasi pasar BUMN tergerus Rp 75,74 Triliun atau turun 4,3 persen," kata Alfred. 

Alfred menyarankan untuk mengoleksi saham Bank Mandiri, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), dan PT Wijaya Karya Tbk (Wika). Menurut dia, saham-saham tersebut menarik dikoleksi, terlebih dengan kondisi bearish yang terjadi di pasar saham. 

"Ketiga emiten ini menjadi pilihan karena memiliki fundamental yang masih sangat baik dan bahkan masih akan kembali tumbuh di tahun ini," tutur Alfred. n

Pergerakan IHSG

Perdagangan Jumat (13/3)

IHSG: 4.907,57

naik 11,82 poin / 0,24 persen

 

Perkembangan IHSG 2020 (hingga 13 Maret)

2 Januari: 6.283,58

3 Februari: 5.884,17

2 Maret: 5.361,25

13 Maret: 4.907,57

Aksi investor asing (ytd)

Asing beli: Rp 133,3 triliun

Asing jual: Rp 141,1 triliun

Jual bersih: Rp 7,8 triliun

Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS

9/3: 14.342

10/3: 14.411

11/3: 14.323

12/3: 14.490

13/3: 14.815

Sumber: BEI dan BI

 


×