Aktris Amerika Serikat (AS), Sharon Stone | AP

Geni

Cerita Sharon Stone dan Gaslighting Medis yang Nyaris Merenggut Nyawanya

Gashlighting medis merupakan kondisi di mana tenaga medis mengabaikan atau meremehkan keluhan pasien.

Aktris Sharon Stone sempat merasa putus asa saat merasakan gejala serangan strok pada 2001. Betapa tidak, tenaga medis yang seharusnya menanggapi keluhan Stone dengan serius justru menuduh Stone hanya berpura-pura.

Semua ini bermula ketika Stone datang ke rumah sakit dengan keluhan yang dia curigai sebagai strok. Tim dokter lalu melakukan tes angiogram pada Stone, tapi tak menemukan hasil apa-apa. "Dan mereka menganggap saya hanya berpura-pura," ujar Stone, seperti dilansir Yahoo! Life. Selasa (31/10/2023).

Tim dokter hampir saja memulangkan Stone dalam kondisi seperti itu. Namun, untungnya, sahabat Stone berhasil meyakinkan para dokter untuk melakukan tes angiogram yang kedua kali pada Stone.

photo
Aktris AS Sharon Stone saat mengunjungi parlemen Polandia di Warsawa, Polandia, Selasa, 22 Oktober 2013. Stone datang ke Warsawa untuk menghadiri pertemuan para penerima Hadiah Nobel Perdamaian dan menerima Penghargaan KTT Perdamaian sebagai pengakuan atas dirinya kegiatan melawan HIV dan AIDS. Para penerima Hadiah Nobel Perdamaian sedang mendiskusikan tantangan yang dihadapi dunia: konflik bersenjata, kesenjangan ekonomi, dan migrasi. (AP Photo/Alik Keplicz) - (AP)

Melalui tes kedua inilah, tim dokter baru berhasil menemukan adanya perdarahan di otak Stone. Kondisi ini dikenal sebagai strok hemoragik. "Arteri vertebralis saya pecah. Saya bisa mati bila mereka memulangkan saya ke rumah," ujar Stone.

Stone mengungkapkan, dirinya mengalami perdarahan di otak selama sembilan hari. Pada saat itu, Stone hanya memiliki harapan hidup sekitar satu persen saat menjalani operasi otak.

Stone mengatakan, dia benar-benar merasa seperti akan meninggal dunia saat terkena strok. Dia bahkan sempat meminta sang ibu untuk bergegas ke rumah sakit agar dia bisa berpamitan sebelum dirinya benar-benar meninggal dunia.

Tak hanya itu, Stone juga sempat mengalami fenomena yang kerap dirasakan oleh orang-orang menjelang kematian. Fenomena tersebut adalah melihat pancaran cahaya putih dan melihat kerabat yang sudah meninggal dunia. Kabar baiknya, nyawa Stone berhasil terselamatkan berkat sebuah prosedur medis bernama endovascular coiling.

Apa itu Gaslighting Medis?

photo
Petugas beraktivitas di halaman Mayapada Hospital Bandung seusai diresmikan di Jalan Terusan Buah Batu, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (6/3/2023). Presiden Joko Widodo meresmikan Mayapada Hospital Bandung yang tersertifikasi Greenship & Edge serta memiliki empat pelayanan Center of Excellence yakni Oncology Center (layanan pasien kanker), Center Excellence Cardiovascular (layanan gangguan jantung), Tahir Neuroscience Center (layanan gangguan saraf) dan Tahir Uronrphrology Center (layanan terpadu ginjal dan saluran kemih). Presiden Jokowi berharap kehadiran rumah sakit tersebut dapat mengurangi jumlah masyarakat yang berobat ke luar negeri. - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Situasi yang dialami oleh Stone kala itu dikenal dengan istilah gashlighting medis. Gashlighting medis merupakan kondisi di mana tenaga medis mengabaikan atau meremehkan keluhan pasien dan bersikeras meyakinkan pasien bahwa keluhan mereka tidak serius dan kekhawatiran mereka tidak beralasan.

Menurut studi, gaslighting medis bisa membawa dampak yang merugikan bagi pasien, seperti keterlambatan menerima diagnosis atau menerima terapi pengobatan yang tidak sesuai. Studi juga mengungkapkan, gaslighting medis paling sering dialami oleh pasien berkulit hitam, pasien obesitas, dan pasien perempuan.

Stone tampaknya setuju dengan temuan tersebut. Stone meyakini bahwa salah satu faktor terbesar yang membuatnya menerima gaslighting medis adalah karena dia seorang perempuan.

Menurut Stone, pengalaman menerima gaslighting medis membuat dirinya tersadar bahwa suara perempuan masih jarang didengar dalam lingkup medis. Terlebih, bila tak ada dokter perempuan yang ikut terlibat memberikan penanganan.

Perjuangan Memulihkan Diri

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Sharon Stone (@sharonstone)

 

Meski nyawanya berhasil diselamatkan dengan prosedur endovascular coiling, bukan berarti semua kesulitan yang dihadapi oleh Stone berakhir. Stone mengungkapkan bahwa serangan strok membuatnya kerap tergagap saat bicara dan sulit untuk berjalan. Tak hanya itu, Stone juga sempat mengalami depresi akibat kondisinya.

Stone mengatakan, dia harus berjuang selama beberapa tahun untuk memulihkan diri. Menurut Stone, masa-masa itu terasa sangat berat, seperti ada yang menonjoknya setiap saat.

"Saya menyembunyikan disabilitas saya, saya takut untuk keluar dan tidak ingin orang-orang mengetahui disabilitas saya. Saat itu saya berpikir tak akan ada orang yang mau menerima saya," ujar Stone.

Namun, seiring berjalannya waktu, Stone menyadari bahwa pemikiran tersebut keliru. Dia menyadari bahwa disabilitas yang dia miliki tak membatasi dirinya.

Dia juga merasa sangat berterima kasih karena mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekatnya saat melalui masa sulit. Beberapa orang yang menurut Stone banyak membantunya adalah Michael J Fox dan Steven Spielberg. 

 

 
Studi mengungkapkan, gaslighting medis paling sering dialami pasien berkulit hitam, pasien obesitas, dan pasien perempuan.
 
 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat