Biro Umrah | Republika

Nasional

29 Feb 2020, 02:00 WIB

Biro Dibayangi Kerugian

Hotel-hotel di Tanah Suci bisa merugi 40 persen.

 

 

UNGARAN -- Kebijakan penghentian sementara izin masuk bagi ibadah umrah oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi akibat dampak pandemik Covid-19, menjadi pukulan berat bagi pelaku jasa (biro) perjalanan ibadah umrah. Beberapa sudah mulai berancang-ancang menghadapi kerugian yang menjelang.

Di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, sejumlah pengelola biro perjalanan umrah mengaku, tengah menghadapi potensi kerugian yang tidak sedikit akibat adanya kebijakan tersebut.

Pengelola Biro Umrah dan Haji Plus, Haninda Utama Tour and Travel, Ahmad Hanik meyakini, penghentian sementara izin masuk bagi jamaah ibadah umrah bakal berdampak besar bagi usahanya tersebut. "Terlebih lagi jika keperluan akomodasi calon jamaah umrah sudah diselesaikan, seperti tiket pesawat, visa, penginapan bahkan catering," ujarnya, saat dikonfirmasi di Ungaran, Jumat (28/2).

Hanik mengatakan, kendati surat resmi--terkait kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi tersebut belum diterimanya, gambaran tentang kerugian tersebut sudah ada di depan mata.

Sebab terkait dengan hal-hal, seperti pelunasan, sewa hotel, dan catering selama berada di Arab Saudi, setahu dia, tidak bisa di-refund. "Maka, para pengelola biro umrah menginginkan agar pemerintah mengupayakan negosiasi dengan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, agar biro umrah tidak menjadi pihak yang dirugikan," katanya.

Menyusul adanya penghentian tersebut, menurut Hanik, sudah berupaya menyampaikan kepada calon jamaah umrah agar menangguhkan pelunasan biaya umrah. Hal ini sambil menunggu Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mencabut kembali keputusannya.

Hanik menuturkan, Haninda Utama Tour and Travel terakhir telah memberangkatkan rombongan umrah sepekan yang lalu. Berdasarkan informasi terbaru, rombongan yang dibawa biro perjalanannya tersebut telah berada di Mesir. "Kami berharap, memang ada solusi terbaik karena permasalahan tidak bersumber dari biro umrah ataupun Pemerintah Indonesia," katanya.

Sedangkan Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Barat mendata, kurang lebih 200 agen perjalanan (travel) terkena dampak dari kebijakan Pemerintah Arab Saudi tentang larangan bagi jamaah untuk beribadah umrah sementara waktu.

Kabid Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Jabar, Ajam Mustajam mengungkapkan, Kemenag pusat meminta seluruh wilayah mendata agen perjalanan yang akan memberangkatkan jamaah setelah larangan tersebut ada. Menurut dia, diperkirakan sudah banyak agen yang memesan tiket pesawat dan akomodasi dalam waktu dekat.

"Kisaran 200 travel, untuk jamaah saya belum bisa memastikan kemungkinan puluhan ribu jamaah. Di bulan Rajab trennya naik, termasuk bulan puasa dan libur sekolah," ujarnya, Jumat (28/2) saat dihubungi. Ia juga meminta jamaah bersabar dengan adanya pelarangan ibadah umrah sementara waktu mengantisipasi virus korona ini.

Kerugian

Ketua Komite Hotel-Hotel Kamar Dagang dan Industri Makkah (MCCI) di Saudi, Abdullah Filali mengatakan, sektor hotel di Makkah, yang jumlahnya lebih dari 1.300 hotel sedang mengalami musim yang sulit. Tidak menutup kemungkinan mereka menghadapi kerugian tinggi jika larangan umrah terus berlanjut.

Filali mengatakan, sektor ini akan menanggung kerugian besar hingga 40 persen jika krisis korona terus berlanjut. "Sektor akomodasi menderita krisis okupasi di daerah pusat dan seluruh Kota Suci Makkah dan Madinah. Larangan umrah akan semakin berkontribusi menekan sektor yang sudah lelah," ujarnya dikutip di Arabnews, Jumat (28/2).

Ia memperkirakan, kerugian besar akan terjadi jika larangan berlanjut, terutama mendekati bulan suci Ramadhan, yang merupakan musim puncak dan pemulihan untuk sektor ini.

Anggota komite hotel-hotel MCCI, Fadhel Manqal mengatakan, hotel akan semaksimal mungkin memanfaatkan pasar lokal dan penawaran promosi untuk mengganti kerugian mereka. "Keamanan penghuni dan peziarah lebih penting daripada semua pertimbangan material. Pemerintah Raja Salman memprioritaskan melayani Islam dan Muslim di atas pertimbangan lainnya, dan keselamatan mereka adalah tujuan utama," ujarnya. n zahrotul oktaviani ed: fitriyan zamzami


×