Jemaah Umat muslim memadati Lapangan saat gelaran peringati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW di Lapangan Monas, Jakarta, Sabtu (9/11/2019). | Thoudy Badai/Republika
28 Feb 2020, 09:51 WIB

Memimpikan Rasulullah SAW.

 

Oleh Nasaruddin Umar.

Memimpikan orang yang sudah wafat lumrah terjadi pada diri setiap orang. Namun agak sulit memaknai dan membedakan mana mimpi yang benar-benar bisa memberikan isyarat hidayah dan mana mimpi dalam arti kembang tidur.

Dalam literatur tasawuf, bermimpi atau bahkan berkomunikasi interaktif dengan orang-orang yang sudah wafat sesuatu yang biasa terjadi di kalangan para arifin. Mimpinya orang saleh, apalagi ulama yang taat dan bersih, dianggap bagian isyarat dari Tuhan. Dalam Alquran, dapat dipahami bahwa mimpinya para nabi dapat disejajarkan dengan wahyu. Syariah qurban, menyembelih hewan qurban, yang kita lakukan sampai saat ini pada awalnya adalah mimpi Nabi Ibrahim yang diminta untuk menyembelih anak kesayangannya.

Terkait

Banyak hadis sahih yang meriwayatkan keutamaan mimpi berjumpa Rasulullah SAW. Di antara hadis itu ialah: “Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak dapat menjelma sepertiku. (HR Muslim dari Abi Hurairah).

Dalam redaksi lain, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang melihat aku dalam mimpi, maka dia benar-benar melihat sesuatu yang benar.” (HR Muslim dari Abu Qatadah). Dalam riwayat lain disebutkan, “Barang siapa yang sering berselawat terhadapku, aku tahu dan aku tentu memberikan syafaat di hari kiamat.” Dalam redaksi lain dikatakan, “Barang siapa memimpikan aku, maka aku akan bersamanya nanti di surga.”

Penggambaran Rasulullah SAW dalam Alquran menarik untuk dikaji karena hampir semuanya menggunakan bentuk fi’il mudhari’ (present and future), bukannya menggunakan bentuk fi’il madhi (past tense). Salah satu contohnya ialah:

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 151). Kata membacakan, menyucikan, dan mengajarkan digunakan bentuk fi’il mudhari’. Itu artinya Rasulullah masih bisa berkomunikasi aktif dengan umatnya secara khusus.

Mimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW tentu merupakan dambaan setiap umatnya. Sejumlah ulama khawas menasihatkan, jika ingin bermimpi berjumpa dengan Rasulullah maka berdoalah kepada Allah SWT, wujudkan rasa cinta yang sangat mendalam, dan banyaklah bershalawat terhadapnya.

Mimpi berjumpa Rasulullah memiliki banyak bentuk, mulai dari melihat anggota badan Rasulullah secara samara-samar sampai menjumpainya secara utuh, bahkan berkomunikasi (batin) dengannya. Mimpi berjumpa dengan Rasulullah merupakan kenikmatan tersendiri. Bagaimana orang yang selama ini kita cintai dan kita rindukan tiba-tiba muncul di hadapan kita. Air mata tak tertahankan dan rasa cinta semakin mendalam.

Ada umatnya yang merasa sangat bahagia karena perjumpaannya dengan Rasulullah bisa dinikmati berulang kali. Pantas sekitar 500 sahabat yang hidup bersama Rasulullah dan masing-masing di antara mereka mengesankan bahwa akulah yang paling dicintai Rasulullah.

Dalam kitab-kitab kuning banyak sekali dijelaskan pengalaman para sufi yang menggambarkan pengalaman mistisnya menjumpai Rasulullah SAW. Sebagai contoh, suatu ketika Imam al-Gazali (1058-1111 M) ditanya, “Mengapa engkau sering mengutip hadis-hadis ahad (tidak populer) di dalam kitab Ihya’ ‘Ulumud Din? Ia menjawab, “Saya tidak pernah menulis satu hadis di dalam buku ini sebelum saya konfirmasikan kepada Rasulullah.” Padahal, Rasulullah wafat tahun 632 M dan al-Gazali wafat tahun 1111 M, selisih 479 tahun. Kitab Ihya’ ‘Ulumud Din merupakan masterpiece al-Gazali yang ditulis di puncak menara masjid Damaskus.

Kejadian serupa juga dialami Ibn ‘Arabi (1165-1240 M), seorang sufi besar, ketika ditanya seorang muridnya perihal bukunya, Fushush al-Hikam, yang terasa seperti mengandung misteri. Kata muridnya, setiap kali ia membaca buku ini, setiap itu pula ia mendapatkan sesuatu yang baru. Lalu dijawab, “Buku itu memang pemberian Rasulullah langsung kepada saya, bahkan judul bukunya pun dari Rasulullah (khudz hadza kitab Fushuhsh al-Hikam). Padahal, selisih masa hidup Rasulullah dan Ibn ‘Arabi terpaut 608 tahun.

Dalam kitab, Jami’ Karamat al-Auliya’ karangan Yusuf Isma’il al-Nabhani (dua jilid), sejumlah wali disebut bisa berkomunikasi lancar dengan Rasulullah atau dengan ulama-ulama besar di zaman jauh sebelumnya melalui kekuatan ”mimpi”. Bahkan dikatakan, alangkah miskinnya seorang murid (pencari ma’rifah) kalau gurunya hanya orang-orang hidup.

Bermimpi menjumpai Rasulullah SAW salah satu bagian dari karunia Allah SWT yang paling tinggi. Apalagi, dengan hadis yang disampaikan Nabi: “Barang siapa yang bermimpi memimpikan diriku akan bersama-sama aku di dalam surga. Jika seseorang ingin memimpikan Rasulullah, tentu harus selalu menghidupkan rasa cinta yang sangat dalam di dalam dirinya seraya selalu mengucapkan shalawat terhadapnya. Semoga di antara kita ada yang berhasil memimpikan dirinya. Amin. n


,
×