Patung-dada Piri Reis di sebuah museum di Mersin, Turki | wikipedia

Dunia Islam

Biografi Piri Reis, Laksamana Turki Utsmani

Walaupun hidupnya berakhir tragis, Piri Reis dikenang sebagai ahli maritim kenamaan.

Tokoh ini bernama lengkap Haji Ahmed Muhiddin Piri bin Haji Mehmet. Dialah salah seorang penyokong kejayaan Turki Utsmaniyah pada abad ke-15 M.

Piri Reis, demikian dirinya akrab disapa, lahir di Semenanjung Gallipoli, wilayah Turki dataran Eropa (kini Provinsi Canakkale). Sumber lain, semisal yang disebut Charles H Hapgood (1966), menyebutkan bahwa ilmuwan ini berasal dari Karaman, Turki Tengah.

Sebelum terkenal sebagai ahli geografi dan kartografi, ia mengawali kariernya di dunia kemaritiman. Selcuk Aksin Somel dalam buku Historical Dictionary of the Ottoman Empire (2003) menjelaskan, Piri ambil bagian bersama dengan pamannya yang seorang pelaut terkenal, Kemal Reis.

Salah satu ekspedisi yang pernah dijalaninya adalah misi bantuan militer Utsmaniyah untuk Granada, kerajaan Islam terakhir di Andalusia (Spanyol), pada 1487. Ketika itu, armada Turki bekerja sama dengan Barbarossa bersaudara, yakni duo bajak laut Muslim Uruc (Aruj) dan Hayreddin (Khair ad-Din) Barbarossa. Selain itu, Piri dan sang paman juga ikut memerangi armada Spanyol dan Venesia antara tahun 1500-1502.

ILUSTRASI Armada Barbarossa bersaudara yang mengabdi pada Turki Utsmaniyah, turut membantu para pengungsi dari Andalusia.  - (DOK WIKIPEDIA)

  ​

Pada 1511, Kemal Reis gugur dalam sebuah pertempuran. Piri kemudian kembali ke Gallipoli. Di kampung halamannya, ia tidak sekadar menenangkan diri, tetapi juga larut dalam penelitian dan menulis risalah tentang ilmu merancang peta (kartografi). Studi dan pengalamannya di dunia maritim hingga saat itu sudah cukup baginya untuk menjadi seorang kartografer mumpuni.

Pada 1513, Piri berhasil membuat peta dunia pertamanya. Sekitar empat tahun kemudian, peta tersebut dipersembahkannya untuk Sultan Selim I. Waktu itu, ia mengikuti kampanye militer sang sultan untuk menaklukkan Dinasti Mamluk. Pada 1517, dinasti yang berpusat di Mesir itu berhasil dikalahkan.

Kemenangan tersebut menjadikan Turki Utsmaniyah berhak menyandang gelar kekhalifahan. Sebab, kendali atas dua kota suci, Makkah dan Madinah, yang sebelumnya berada di tangan Mamluk pun ikut diambil alih.

Sekitar 10 tahun setelah kepergian pamannya, Piri kembali ke kancah pertempuran untuk membela kedaulatan negerinya. Ia ikut berjuang di Pengepungan Pulau Rhodes. Misi itu berhasil setelah pasukan Kristen yang terus menerus digempur akhirnya menyerah pada 25 Desember 1522.

Nama Piri pun semakin bersinar. Dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi nakhoda kapal yang mengantarkan perdana menteri Ibrahim Pasha ke Mesir. Sejak saat itu, hubungannya dengan elite pemerintahan kian dekat.

 
Pada 1547, ia diangkat menjadi laksamana sehingga berhak memakai titel reis.
   

Pada 1547, ia diangkat menjadi laksamana sehingga berhak memakai titel reis. Piri Reis membawahi pasukan maritim Turki Utsmaniyah yang beroperasi di Mesir hingga Samudra Hindia. Markasnya berkedudukan di Suez.

Hanya dalam jangka waktu beberapa bulan sejak pelantikannya, ia sukses menjalankan sejumlah misi. Di antaranya adalah pembebasan Aden (Yaman) dan Muskat (Oman) dari tangan Portugis.

Saat usianya mendekati 90 tahun, Piri Reis memilih pulang ke Mesir. Beberapa waktu kemudian, gubernur Basrah Kubad Pasha dikabarkan memimpin kampanye militer untuk menghalau Portugis dari timur Jazirah Arab. Akan tetapi, Piri enggan mendukung misi tersebut.

Sultan Turki menganggapnya sebagai suatu upaya pembangkangan. Tuduhan itu diperberat lagi dengan fakta, Piri Reis kembali ke Mesir ketika Portugis masih bercokol di Teluk Arab. Akhirnya, tokoh yang puluhan tahun mengabdi di angkatan laut kekhalifahan itu pun dieksekusi mati pada 1553.

 
Meskipun nyawanya berakhir tragis, nama dan reputasinya (Piri Reis) tetap harum.
   

Meskipun nyawanya berakhir tragis, nama dan reputasinya tetap harum bahkan hingga zaman modern. Saat ini, sejumlah kapal perang dan kapal selam Angkatan Laut Republik Turki diberi nama Piri Reis sebagai bentuk penghormatan.

Harumnya nama Piri Reis ditunjang oleh karyanya yang tak lekang zaman. Contoh utama dalam hal ini ialah Kitab-i Bahriye. Seperti tampak pada namanya, dalam buku tersebut sang laksamana memaparkan pelbagai pengetahuan tentang dunia kelautan. Di samping itu, ada pula catatan-catatan perjalanan termaktub di dalamnya.

Misalnya, kisah perjalanan yang dialami paman Piri Reis, Kemal Reis. Pada 1501, Kemal yang saat itu menjabat sebagai laksamana Angkatan Laut Turki Utsmaniyah berhasil meringkus empat kapal berbendera Spanyol di lepas pantai Valencia. Saat melakukan penggeledehan, paman Piri Reis itu mendapati sebuah hiasan kepala bulu yang tampak aneh dan sebuah batu hitam.

Seorang tawanan mengungkapkan, benda-benda itu diperolehnya saat mengunjungi "suatu daerah yang terbentang jauh di barat sana", melewati Lautan Gelap. Si tawanan juga mengatakan, dirinya saat masih bekerja pada Kolonbo sudah tiga kali menyambangi lokasi tersebut.

Sosok yang disebut Kolonbo itu adalah Christopher Columbus (1451-1506). Cerita yang menyebut nama penjelajah kelahiran Genoa (Italia) itu tercantum dalam peta Piri Reis yang dibuat tahun 919 Hijriyah atau antara Maret dan April 1513 M.

Dalam catatan di peta tersebut, kartografer Turki Utsmaniyah itu menuturkan bagaimana Kolonbo sampai di daratan di ujung barat Samudra Barat (Atlantik) yang diberi nama Antilia pada 896 H. Misi tersebut disokong raja (bey) Spanyol yang kepadanya Kolonbo alias Columbus berjanji membawakan banyak emas, perak, dan segala logam mulia lainnya dari tanah jauh itu.

photo
Christopher Columbus - (DOK Wikipedia)

Piri mengutip penuturan budak pamannya yang pernah bekerja pada Columbus dalam misi ke Antilia, “Awalnya, kami mencapai Selat Gibraltar. Dari sana, kami berlayar lurus ke arah antara selatan dan barat. Setelah berlayar lurus empat ribu mil, kami pun melihat daratan. Perlahan, ombak lautan tak lagi berbuih. Laut menjadi tenang. Bintang Utara lama-kelamaan terbenam dan akhirnya tak kelihatan.

Jajaran bintang di wilayah itu terlihat dalam pola yang berbeda. Kami mendarat di pulau. Tak lama kemudian, penduduk asli datang sambil melemparkan anak panah yang ujungnya terbuat dari tulang ikan. Mereka seluruhnya tidak berpakaian.”

Karena ditolak penduduk lokal, sang budak bercerita, rombongan yang dibiayai Kerajaan Spanyol itu lantas berlayar kembali. Mereka kemudian membuang sauh di dekat pesisir pulau seberang. Di sana, tampak sebuah kapal kayu.

Seorang awak kapal Columbus disuruh menyelidiki isi muatannya. Ternyata, di dalamnya ada bekas mayat manusia yang sudah terkoyak. Si awak menduga, pemilik kapal itu merupakan pemakan sesama alias kanibal. Ketakutan, Columbus dan anak buahnya pun meninggalkan pantai tersebut.

Begitu mendekati pulau lainnya, kapal-kapal Columbus tidak sampai mendarat. Dari kejauhan, mereka mengamati pulau tersebut dikerubungi ular berukuran besar. Selama dua pekan, mereka pun memilih bertahan di atas kapal.

Beberapa hari kemudian, beberapa nelayan lokal datang menghampiri kapal Columbus dan memberikan ikan hasil tangkapannya. Sebagai bentuk terima kasih, sang pelaut Genoa menyerahkan sebuah manik-manik kaca kepadanya.

photo
Karya monumental Piri Reis ialah Kitab-i Bahriye (Buku tentang Lautan) yang ditulisnya pada 1521. - (Pirireis Edu)

“Suatu hari, kami melihat perhiasan emas pada seorang perempuan lokal. Kami meminta emas itu untuk ditukar dengan manik-manik kaca milik kami. Kami katakan kepadanya dengan bahasa isyarat, agar ia mengungkapkan dari mana emas itu berasal. Jika begitu, ia bisa mendapatkan lebih banyak manik-manik dari kami. Lalu, orang-orang (penduduk lokal) pergi dan membawa kepada kami lebih banyak emas,” tulis Piri Reis mengulangi kesaksian budak pamannya.

 

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Apa yang Ditutupi Israel Soal Badai Al-Aqsa?

Muncul laporan di media Israel bahwa IDF tembaki warga Israel.

SELENGKAPNYA

Alasan Saintifik Mengapa Wajah Kita Kurang Cakep Ketika Zoom Meeting

Era Zoom membawa dampak serius terhadap kepercayaan diri masyarakat.

SELENGKAPNYA

Laporan Kasus Kementan Diterima KPK 2020, Berbeda dengan Klaim Firli?

Laporan baru ditindaklanjuti satu tahun setelah masuk di bagian Dumas KPK.

SELENGKAPNYA