B J Habibie | Republika | Edwin Dwi Putranto
27 Feb 2020, 02:00 WIB

Mengenang Kemesraan Dua Tokoh Bangsa

Buku ini sekaligus membantah berbagai isu yang tidak tepat tentang Habibie dan Soeharto.

 

Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie pertama kali mengenal Soeharto pada 1950. Kala itu, Soeharto memimpin Brigade Expedisi dari Divisi Diponegoro dengan nama Brigade Mataram untuk menumpas pemberontakan Andi Azis di Makassar. Markas pasukan Soeharto berada tepat di seberang rumah keluarga Habibie di Jalan Klaperlaan, Makassar. Pertemuan pertama itu menandai awalnya kedekatan dua presiden RI tersebut.

Hingga akhirnya, pada 21 Mei 1998 Soeharto dilengserkan setelah 32 tahun berkuasa. Kursi presiden pun beralih kepada Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden. Peralihan kekuasaan itu tampaknya tidak hanya membuat kondisi politik, sosial, dan ekonomi Indonesia goyah, tetapi juga mengguncang hubungan keduanya. Kesanggupan Habibie menggantikan Soeharto sebagai presiden menjadi puncak relasi keduanya. Benih-benih kekecewaan kepada Habibie muncul dan Habibie dianggap telah mengkhianati Soeharto.

Dalam buku Saya dan Mas Harto yang ditulis Probosutedjo juga disebut bahwa persetujuan Habibie untuk mengusut praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di era Soeharto makin memperlebar jarak keduanya. Habibie dan Soeharto pun tak pernah lagi bertemu hingga akhir hayat.

Terkait

Meski demikian, selama hampir 48 tahun sejak pertemuan pertama pada 1950 hingga 1998, Habibie dan Soeharto menjalin hubungan yang cukup mesra. Habibie muda yang cerdas dan gemilang rupanya menarik perhatian Soeharto. Di mata Soeharto, Habibie muda juga dipandang sebagai pribadi yang memiliki nasionalisme tinggi.

"Jiwa ketimuran Habibie masih ada. Ia selalu meminta nasihat mengenai pegangan hidup, juga ia meminta foto saya dan memberikan foto yang ia pilih sendiri, foto saya waktu mengenakan pakaian Jawa. Saya berikan dengan wejangan dalam bahasa Jawa: Kang tansah eling, iku oboring urip kang becik, sejatining becik. (Jadi, kita selalu harus ingat, takwa kepada Tuhan dan beriman. Jangan sampai berilmu tetapi meninggalkan Tuhan)," kata Soeharto dalam autobiografinya.

Kemesraan antara dua presiden RI tersebut juga semakin kuat setelah Habibie dilantik menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) merangkap kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) oleh Soeharto pada 30 Mei 1978. Semua gagasan yang pernah didiskusikan dengan Presiden Soeharto di Jalan Cendana pada 28 Januari 1974 mulai direalisasikan.

Adalah Andi Makmur Makka, anggota Dewan Pengurus The Habibie Centre yang secara ciamik mengabadikan kemesraan keduanya dalam buku berjudul Habibie dan Soeharto. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Imania itu menjadi buku tentang Habibie ke-53 yang ditulis maupun disunting oleh Andi Makmur Makka.

Dalam 188 lembar, Makka memotret bagaimana kedekatan yang terjalin antara kedua tokoh bangsa tersebut. Andi juga berharap, bukunya tersebut bisa membantah berbagai isu yang tidak tepat tentang Habibie dan Soeharto. Salah satunya, isu diangkatnya Habibie sebagai wakil presiden Soeharto.

Luruskan opini

Melalui buku ini, dia ingin meluruskan bahwa Habibie bukan titipan Soeharto untuk melanjutkan posisi RI satu. Karena, kala itu, setelah tugasnya sebagai Menristek selesai, Habibie hendak pamit dan tidak akan masuk lagi menjadi bagian pemerintahan Soeharto. Habibie ingin beristirahat di Jerman. Namun, tiba-tiba Soeharto mengusulkan Habibie menjadi wakil presiden.

"Melalui buku ini, saya ingin meluruskan opini dan persepsi yang sudah telanjur dipercaya masyarakat. Meskipun tidak perlu ditanggapi, tapi itu liar sekali. Jadi, saya harap, dengan buku ini semua yang tidak tepat bisa terbantah sendiri," kata Makka dalam peluncuran buku tersebut di The Habibie Centre, Kemang, Jakarta Selatan, beberapa hari lalu.

Buku Habibie dan Soeharto juga membeberkan bagaimana Soeharto memasang badan untuk Habibie. Misalnya, kala Presiden Soeharto menginstruksikan agar Habibie mendirikan Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang kemudian menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Industri terbang ini kemudian menjadi sasaran kritik berbagai pihak dan menyudutkan Habibie. Industri penerbangan tersebut dituduh tidak mengantongi studi kelayakan. Namun, Soeharto, seolah tetap setia menjadi penyangga keberlangsungan IPTN/PTDI.

Yang tidak kalah menarik, yakni pemilihan sampul buku yang menggambarkan keharmonisan kedua tokoh bangsa tersebut. Habibie mengendarai motor gede sambil membonceng Soeharto. Keduanya tampak tersenyum, kompak dengan jaket tebal ala rider, juga peci hitam. Saat disinggung mengapa memilih foto itu, Makka hanya menjawab bahwa potret itulah yang dia nilai ideal untuk menyimbolkan kemesraan Habibie dan Soeharto.

"Ini kan foto yang diambil oleh Setneg (Sekretaris Negara). Pernah suatu hari mereka jalan-jalan menggunakan moge saling bergantian. Kadang, Pak Harto yang mengemudi, kadang Pak Habibie yang mengemudi. Jadi, ini sebagai simbol betapa dekatnya hubungan keduanya," kata Andi.

Menteri Agama era Presiden Habibie, Abdul Malik Fadjar, menilai, buku ini memuat informasi yang sesuai dengan fakta-fakta sejarah tentang Habibie dan Soeharto. ?Apa yang dituliskan dalam buku ini sesuai dengan penuturan Pak Habibie selama saya banyak bertemu beliau,? kata Abdul Malik. 

 


×