Sejumlah kapal wisata jenis pinisi berlabuh di perairan Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT Selasa (22/1/2020). | Kornelis Kaha/Antara
24 Feb 2020, 08:46 WIB

Membangun Wisata Mahal Labuan Bajo

Pembangunan infrastruktur digenjot untuk mendukung pengembangan Labuan Bajo.

 

 

Salah satu kegiatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam memulai 2020 adalah membenahi Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagai salah satu kawasan pariwisata strategis nasional (KPSN), pemerintah meletakkan target menjadikan Labuan Bajo sebagai kawasan pariwisata superpremium.

 

Jokowi memetakan, terdapat lima kawasan utama yang perlu ditata di Labuan Bajo. Kelima kawasan tersebut, yaitu Bukit Pramuka, Kampung Air, pelabuhan peti kemas dan dermaga penumpang, kawasan Marina, serta Kampung Ujung.

 

Dia mengatakan, pemerintah menginginkan segmen pasar wisatawan yang hadir di Labuan Bajo adalah yang pengeluarannya lebih besar dari wisawatan pada umumnya. "Oleh sebab itu, kita perlu melakukan integrasi baik berkaitan dengan kerapian, kebersihan, dan kenyamanan bagi para wisatawan," kata Jokowi di Labuan Bajo, bulan lalu.

 

 
Jokowi menuturkan, saat ini Labuan Bajo sudah memiliki hotel berbintang dengan berbagai fasilitas. Namun, Jokowi merasa keberadaan hotel berbintang di Labuan Bajo masih perlu ditambah untuk mengakomodasi kebutuhan wisawatan.
 
 

 

Untuk menjadikan Labuan Bajo kawasan wisata superpremium, Jokowi menuturkan, pengembangan juga diperlukan dalam infrastrukturnya. "Saya berharap awal tahun ini landasan pacu (di Bandara Komodo) dan terminal bandara akan segera dimulai (dikembangkan)," tutur Jokowi.

 

Jika semua pengembangan bandara siap, Bandara Komodo akan mendapatkan lalu lintas atau pergerakan pesawat dan penumpang yang semakin banyak. Tak hanya itu, Jokowi juga meminta peningkatan kapasitas masyarakat lokal untuk menjadi bagian dari pembangunan tersebut. "Karena itu, SDM, masyarakat lokal cepat-cepat harus kita tingkatkan keahliannya, kompetensinya, baik dari sisi keterampilan yang disesuaikan dengan kebutuhan yang ada di industri pariwisata yang ingin kita kerjakan," ungkap Jokowi.

 

Dia menambahkan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ada di Labuan Bajo juga jangan sampai ditinggal. Jokowi mengharapkan akan ada creative hubdi Labuan Bajo yang akan menggarap produk-produk lokal, baik dari sisi kemasan, desain, harga, dan lain-lain.

 

“Kita harapkan nantinya tenun, kopi, kerajinan, makanan khas betul-betul bisa tumbuh. Dan, seiring dengan itu juga atraksi budaya lokal, kesenian daerah juga harus semakin hidup dan menghidupkan area yang ada di Labuan Bajo,” ungkap Jokowi.

 

Untuk menata lima zona di Labuan Bajo, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah melakukan pembenahan infrastruktur. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono memastikan saat ini tidak hanya Labuan Bajo yang dikembangkan, tetapi empat KSPN lainnya yakni Borobudur, Mandalika, Danau Toba, dan Likupang.

 

photo
Nelayan melintas saat matahari tenggelam di perairan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (12/10). - (Indriarto Eko Suwarso/Antara)
 
 

 

“Tahun 2020 memang difokuskan lima KSPN. Khususnya untuk infrastruktur harus selesai di akhir 2020,” kata Basuki.

 

Basuki mengatakan, akan meningkatkan kemantapan ruas jalan di Labuan Bajo. Pada tahun ini, anggaran peningkatan jaringan jalan di Labuan Bajo sebesar Rp 250 miliar yang digunakan untuk rekonstruksi jalan, pelebaran, penataan trotoar, pemeliharaan rutin, dan pembangunan drainase.

 

Dia menuturkan, program penanganan jalan di Labuan Bajo pada 2020 meliputi sembilan paket. Sebanyak lima paket pekerjaan penanganan ruas dalam kota sepanjang 16,8 kilometer, yakni peningkatan jalan, trotoar, dan drainase Jalan Soekarno Atas (2,19 kilometer/km), Jalan Soekarno Bawah (2,01 km, Jalan Simpang Pede (4,51 km), Jalan Yohannes Sahadun (4,05 km), dan peningkatan jalan kawasan pariwisata Waecicu (4 km).

 

“Ketersediaan infrastruktur jalan tersebut sangat krusial untuk menunjang operasional peti kemas yang mendistribusikan logistik dari Pelabuhan Wae Klambu menuju pusat kota Labuan Bajo atau sebaliknya,” ungkap Basuki.

 

Basuki mengatakan, pelabuhan khusus logistik Wae Klambu dibangun untuk menggantikan pelabuhan lama yang berada di tengah Kota Labuan Bajo. Basuki memastikan lokasi pelabuhan logistik yang akan dibangun, hanya 19 menit waktu tempuh dari Bandara Komodo dan dari pusat Kota Labuan Bajo.

 

Selain itu, Kementerian PUPR juga masih melanjutkan pembangunan Puncak Waringin sebagai creative hub di Labuan Bajo yang terletak sekitar 2-3 km dari Bandara Komodo. Basuki mengatakan, penataan Puncak Waringin tahap satu sudah dilaksanakan sejak Juli-Desember 2019 dengan komponen kegiatan terdiri atas gedung utama seluas 350 meter persegi. Gedung utama tersebut berfungsi sebagai lounge dan pusat cendera mata serta viewing deck dengan biaya sebesar Rp 9,3 miliar.

 

Selanjutnya, pada tahun ini, Basuki memastikan pembangunan tahap dua dilanjutkan dengan komponen kegiatan teridiri dari bangunan komersial seluas 525 meter persegi. “Bangunan ini berfungsi sebagai kios lengkap dengan mushala serta toilet dan area tenun,” tutur Basuki.

 

 
Kemudian juga akan dibangun ruang terbuka publik yang dilengkapi dengan amphitheater seluas 267 meter persegi dan area parkir seluas 235 meter persegi. Basuki mengatakan pembangunan tahap dua sudah dalam proses lelang dengan estimasi biaya sebesar Rp 22 miliar.
 
 

 

Basuki menambahkan, penataan kawasan waterfront Labuan Bajo juga akan dilakukan. Lima penataan zona tersebut akan memasuki tahap lelang yang terdiri atas Zona A Bukit Pramuka, Zona B Kampung Air, Zona C Dermaga, Zona D kawasan Pantai Marina (Inaya Bay), dan Zona E Kampung Ujung.

 

“Semua desain sudah selesai, sudah mulai lelang pada Desember 2019, sehingga kegiatan konstruksi fisik dapat dimulai pada Februari-Maret dan selesai akhir Desember 2020," ujar Basuki.

 

Sementara itu, dari sisi konektivitas di Labuan Bajo, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan perusahaan konsorsium PT Cinta Airport Flores (CAF) dengan anggota Changi Aiports International Pte Ltd, Changi Airport MENA Pte Ltd, dan perusahaan Indonesia PT Cardig Aero Service telah melaksanakan penandatanganan perjanjian kerja sama dengan skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) Bandara Komodo Labuan Bajo.

 

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan, Kemenenhub melakukan kerja sama pengelolaan dengan izin konsesi selama 25 tahun dengan PT CAF. Setelah penandatanganan tersebut, Budi memastikan status bandara internasional di Labuan Bajo tersebut akan dipercepat.

 

Menhub mengaku sudah berkoordinasi dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama untuk mempercepat status Bandara Komodo menjadi bandara internasional. Dia menargetkan, pada Juni 2020 atau sebelum musim puncak kedatangan wisman, bandara itu sudah naik kelas.

 

Dia menjelaskan, sebelumnya status bandara internasional ditargetkan akan dicapai pada 2021. Namun, percepatan tersebut dapat dilakukan, sehingga Changi Aiports menurut Budi harus mulai menerbangkan penerbangan internasional dari Singapura ke Indonesia mulai Juni 2020.

 

Dengan target status bandara internasional pada Juni 2020, Budi menargetkan pada Juni 2020 penyelesaian perpanjangan landasan pacu bisa selesai. Landasan pacu pada tahap pertama akan diperpanjang dari 2.450 meter menjadi 2.600 meter dan setelah itu menjadi 2.700 meter.

 

Budi mengatakan, investasi pengelolaan Bandara Komodo sebesar Rp 1,2 triliun dan estimasi total nilai biaya operasional selama 25 tahun sekitar Rp 5,7 triliun. Budi memastikan, pengelola Bandara Komodo memiliki kewajiban membayar konsesi di muka sebesar Rp 5 miliar dan konsensi tahunan dari pendapatan sebesar 2,5 persen dengan pembayaran bertahap dua kali setiap tahun.

 

Selain itu, Budi mengatakan, pembangunan pelabuhan multipurpose logistik maupun revitalisasi Pelabuhan Labuan Bajo yang ada saat ini ditargetkan diselesaikan dalam kurun waktu enam bulan. “Untuk pelabuhan, sudah dibantu untuk pembebasan lahan. Lalu berkaitan dengan inventarisasi pelabuhan-pelabuhan yang belum terdaftar, juga buku pelaut perlu kita sediakan dengan baik untuk penertiban sertifikasinya,” ungkap Budi.

 

Direktur Utama Pelindo III Doso Agung mengatakan, sudah menyiapkan rencana pembangunan pelabuhan logistik tersebut. Persiapan dilakukan mulai dari segi kajian teknis hingga penyiapan akses atau infrastruktur jalan dari dan menuju pelabuhan.

 

“Pelindo III akan menginvestasikan infrastruktur untuk kebutuhan bongkar muat kapal di sini, baik curah cair maupun peti kemas,” tutur Doso.

 

Doso mengatakan, tahun ini Pelindo III akan langsung melakukan pembangunan. Prediksinya, kata dia, kapasitas pelabuhan tersebut terus bertambah dari awalnya 4.000 TEU hingga mencapai 100 ribu TEU per tahun. n ed: ahmad fikri noor

 

 

 

Labuan Bajo tak Boleh Kumuh

 

 

 

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengingatkan pemerintah agar upaya membuat Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi kawasan wisata superprioritas harus ditetapkan menyeluruh. Anggota Komisi V DPR Tamanuri menuturkan, tak boleh ada satu titik di Labuan Bajo yang masih kumuh, meski terdapat lima zona prioritas.

 

"Kita harus perhatikan. Jalan-jalan sebelum ke objek wisatanya, ini harus mendapat perhatian juga," kata Tamanuri saat mengadakan rapat kerja soal kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) dengan Kementerian Perhubungan dan Kementerian PUPR pada awal Februari.

 

Dia menjelaskan, daerah kumuh menuju tempat wisata di Labuan Bajo juga perlu menjadi perhatian untuk ditata. Sebab, hal tersebut akan menjadi sorotan bagi para wisatawan yang mengunjungi Labuan Bajo.

 

 
photo
Seorang pemandu wisata mendekati Komodo (Varanus komodoensis) di kawasan objek wisata Pulau Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. - (Muhammad Adimaja/Antara)

 

Sementara itu, anggota Komisi V DPR Ansar Ahmad menyambut baik upaya pemerintah dalam menata Labuan Bajo. Ansar meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Labuan Bajo dapat berkoordinasi. Khususnya, untuk mengatasi persoalan daerah kumuh yang ada di Labuan Bajo.

 

"Berkolaborasi harus dilakukan karena daerah-daerah kumuhnya masih banyak. Jalannya juga masih banyak yang kecil, ini perlu mendapatkan perhatian,\" tutur Ansar.

 

Tak hanya soal itu, Ansar menambahkan, dari sisi keamanan dan keselamatan transportasi juga perlu ditingkatkan. Menurut Ansar, kawasan wisata Labuan Bajo akan banyak menggunakan transportasi laut terutama untuk mengakses sejumlah atraksi wisata kepulauan.

 

Sementara itu, Anggota Komisi V DPR Irwan meminta penataan di Labuan Bajo juga harus menyoroti persoalan sanitasi. "Mohon diperhatikan, sanitasi baru 66 persen dan penanggulangan sampahnya juga masih 46 persen," ujar Irwan.

 

Irwan mengkhawatirkan jika persoalan sanitasi tidak disoroti maka akan menjadi permasalahan baru. Dia menilai, rumah tangga yang memiliki akses air bersih di kawasan wisata Labuan Bajo masih belum tersedia.

 

Irwan meminta dalam pengembangan Labuan Bajo, pemerintah juga harus melibatkan masyarakat lokal. Irwan tidak ingin saat pemerintah membangun kemajuan di Labuan Bajo namun masyarakat lokal tidak dijadikan aktor.

 

Terlebih, di Labuan Bajo saat ini juga sudah dibangun kawasan Marina yang dikembangkan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) yang menjadi bagian dari zona prioritas. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama menjamin pembangunan Labuan Bajo menjadi kawasan wisata superpremium adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, menjaga alam, serta menambah devisa negara.

 

“Proyek kawasan marina Labuan Bajo ini salah satu buktinya untuk peningkatan itu semua," kata Wishnutama.

 

Sementara itu, Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi mengatakan, proyek Kawasan Marina Labuan Bajo dibangun dengan bersinergi bersama PT Pembangunan Perumahan (PP). Selama tiga tahun terakhir, kawasan Marina Labuan Bajo sudah dibangun.

 

ASDP melalui PT Indonesia Ferry Property membangun dan mengembangkan Kawasan Marina Labuan Bajo dengan total investasi sekitar Rp 600 miliar. “Kawasan ini meliputi area komersial yang mendongkrak perekonomian lokal dan mempromosikan produk UMKM,” tutur Ira.

 

Ira mengatakan, dermaga penyeberangan di kawasan Marina juga menjadi tumpuan konektivitas wilayah dan logistik. Selain itu, Hotel Inaya Bay di kawasan Marina Labuan Bajo juga akan memiliki multifunction hall yang mendukung industri meetings, incentives, conferences, and exhibitions (MICE). Proyek Marina nantinya juga mampu menampung hingga lebih 125 unit yacht atau kapal pesiar pada akhir 2020. n

 


×