Ilustrasi banjir di Jakarta | Republika

Jakarta

23 Feb 2020, 14:25 WIB

DKI Jakarta Kembali Digenangi Banjir

Alat kesehatan di RSCM terdampak banjir.

JAKARTA -- Hujan dengan intensitas lebat yang mengguyur Jakarta pada Sabtu (22/2) malam hingga Ahad (23/2) dini hari mengakibatkan sejumlah wilayah tergenang air. Beberapa pintu air, seperti Manggarai, Banjir Kanal Barat, Sungai Sunter, dan aliran Ciliwung lainnya sempat dinyatakan berstatus siaga.

Ratusan rumah warga di dua wilayah rukun warga (RW) Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, terendam banjir akibat Kali Sunter yang meluap. ?Ketinggian air di lokasi terparah hampir mencapai dua meter sejak Subuh tadi,? kata Lurah Cipinang Melayu, Agus Sulaeman, di Jakarta, Ahad (23/2).

Agus mengatakan, ratusan jiwa warga yang terdampak banjir langsung dievakuasi oleh petugas Damkar Jakarta Timur dan Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU). Proses evakuasi menuju lokasi aman di pelataran masjid setempat menggunakan bentangan tali tambang yang dikaitkan dari satu tiang ke tiang listrik.

Tali tambang digunakan warga untuk berpegangan saat berjalan menuju dataran tinggi. Sementara itu, sebagian warga lansia dan anak-anak dievakuasi menggunakan perahu karet Damkar. Tali tambang menjadi jalur evakuasi yang harus ditempuh warga akibat arus banjir dari luapan Kali Sunter yang deras.

Sementara itu, menurut data yang dihimpun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, ada 10 jalan yang tergenang akibat hujan berintensitas lebat itu dengan perincian dua jalan tergenang di Jakarta Pusat, empat jalan tergenang di Jakarta Selatan dan empat jalan tergenang di Jakarta Timur.

Tidak hanya jalanan, BPBD DKI juga mencatat ada 23 kecamatan dengan 36 kelurahan dari 1.750 kepala keluarga (KK) terdampak banjir dengan ketinggian 10 hingga 60 cm.

Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) juga turut terdampak. Genangan air terjadi di dua tempat, yaitu Gedung A sebagai ruang rawat inap dan Gedung Tiara. Salah satu pengunjung yang menengok rekannya di RSCM, Ardi, mengatakan, ada tiga ruangan yang terlihat tergenang, yaitu Departemen Radiologi, Radioterapi, dan Penyakit Dalam.

?Jadi, saya lihat tadi itu ada penyedot air terpasang di lorong-lorong. Selangnya masuk ke ruang radiologi //tuh//, di situ banyak yang lagi bersih-bersih,? kata Ardi.

Kepala Bagian Humas RSCM Ananto mengatakan, pada pukul 05.00 WIB telah terjadi genangan air setinggi mata kaki sekitar 8 cm di sepanjang selasar Gedung GH RSCM. Kendati demikian, kata dia, pada pukul 08.00 WIB, genangan air telah surut dan lokasi pelayanan seperti radiologi dan radioterapi telah selesai dibersihkan.

?Tak hanya itu, sampai saat ini pelayanan pasien di RSCM tidak terganggu dan tetap berjalan seperti biasa, baik itu di ruang IGD maupun di ruang rawat inap,? kata dia.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto sempat menyambangi RSCM untuk mengecek kondisi genangan yang terjadi. Dalam kunjungannya, Terawan mengecek ruang radiologi. Dia ditemani Kepala Dinas Kesehatan DKI Widyastuti dan pihak RSCM.

?Saya mengecek, oh ternyata sudah dikeringkan. Kita sudah panggil para vendor untuk melakukan tindakan agar bisa membuat alat itu operasional,? kata Terawan.

Terawan mengaku, sudah memanggil vendor-vendor dari alat-alat kesehatan terkait agar segera mengecek apakah alat-alat tersebut dapat beroperasi normal atau tidak setelah terdampak banjir.

Genangan yang berada di RSCM berhasil ditangani Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta seusai menurunkan pompa menyedot keluar air yang terjebak di departemen radiologi pada pukul 14.00 WIB.

Cuaca ekstrem

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk terus mewaspadai potensi cuaca ekstrem di beberapa daerah. Curah hujan lebat hingga sangat lebat diprakirakan masih terjadi hingga hari ini, Senin (24/2).

?Potensi curah hujan ekstrem masih ada, tapi tidak sampai setinggi curah hujan tanggal 1 Januari 2020. Prakiraannya besok (Senin, 24/2) memang lebat hingga sangat lebat,? kata Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Rajab di Jakarta, Ahad (23/2).

Indonesia saat ini masih dalam masa puncak musim hujan. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca resmi dari BMKG. Curah hujan dengan kategori lebat, yakni 50-100 mm per hari sementara kategori sangat lebat dengan 100-150 mm per hari.

Curah hujan lebat hingga sangat lebat disebabkan massa udara yang masuk di wilayah Indonesia masih banyak mengandung uap air. Selain itu, ada daerah yang menjadi pertemuan angin di Indonesia sehingga hujan yang turun berpotensi lebat.

BMKG mengimbau agar masyarakat terus memantau informasi mengenai cuaca dari BMKG dan merencanakan aktivitas sesuai dengan kondisi potensi hujan. Wilayah yang berpotensi hujan lebat di antaranya Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Maluku.

Sementara itu, wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai angin kencang, kilat atau petir adalah Sumatra Barat, Bengkulu Jambi, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jabodetabek, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Gorontalo, dan Papua.

Kepala Stasiun Klimatologi Sleman Yogyakarta Reni Kraningtyas, dalam keterangan resminya, mengimbau masyarakat terus mewaspadai potensi kejadian cuaca ekstrem, yaitu hujan lebat disertai kilat petir dan angin kencang, ataupun hujan dengan durasi yang panjang karena dapat berdampak terjadinya longsor, banjir, dan banjir bandang.

Kondisi cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh pertumbuhan awan-awan konvektif atau awan kumulonimbus secara intensif. Kejadian banjir bandang umumnya dipicu oleh hujan dengan intensitas lebat atau hujan berdurasi panjang, yang terjadi di hulu sungai. Kejadian banjir bandang sering ditandai dengan terlihatnya awan hitam tebal ke arah hulu sungai meskipun cuaca di daerah hilir sungai cerah atau tidak hujan.

n antara/rr laeny sulistyawati ed: mas alamil huda

Nelayan di Gunung Kidul dan Jepara Hilang

Tim pencarian dan penyelamatan Satuan Perlindungan Masyarakat II Kabupaten Gunung Kidul, Daerah istimewa Yogyakarta, mencari Supardiyono (33 tahun), nelayan Pantai Grigak, Desa Girikarto, Kecamatan Panggang. Supardiyono dinyatakan hilang setelah memasang jaring krendet.

Sekretaris SAR Satlinmas Wilayah II Gunung Kidul Surisdiyanto mengatakan, pada Sabtu (22/2) sore, Supardiyono melakukan pemasangan jaring krendet di bawah tebing Pantai Grigak Desa Girikarto. Jaring krendet digunakan untuk menangkap lobster atau ikan yang berada di sekitar tebing.

?Pada Ahad (23/2) sekitar pukul 03.00 WIB, korban saat menarik jaring krendet terpeleset jatuh terhantam ombak, kemudian tenggelam,? kata Surisdiyanto.

Koordinator SAR Satlinmas Wilayah II Gunung Kidul Marjono menambahkan, pihaknya mengimbau kepada nelayan untuk menjaga keselamatan saat melaut. Apalagi, tebing yang cukup curam, ditambah kondisi cuaca yang sering kali berubah cepat.

Seorang nelayan asal Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, juga dinyatakan hilang menyusul perahu yang digunakan untuk melaut diketahui dalam kondisi tanpa awak. Perahu tersebut ditemukan sekitar pukul 08.00 WIB terombang-ambing ombak di laut pada Ahad (23/2).

Menurut Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Jepara Arwin Noor Isdianto mengatakan, perahu yang ditemukan di tengah laut dengan jarak sekitar 1 mil dari daratan merupakan milik Legiman, warga Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo. Berdasarkan informasi dari keluarga ataupun teman korban, kata dia, korban melaut pada Ahad (23/2) pukul 04.30 WIB di Perairan Empu Rancak.

Terpisah, BPBD Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur mencatat sebanyak empat kecamatan di Kabupaten Probolinggo terendam banjir akibat hujan deras yang mengguyur di wilayah setempat sejak Sabtu (22/2) sore hingga malam hari. Hujan disertai angin kencang itu mengakibatkan banjir dan pohon tumbang.

?Hujan deras yang mengguyur beberapa jam dan pasangnya air laut di kawasan pesisir, serta jebolnya tanggul menyebabkan rumah warga di beberapa desa di Kecamatan Gending terendam banjir,? kata Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo Anggit Hermanuadi. n antara ed: mas alamil huda


×