Petugas medis memindahkan pasien Covid-19 dari RS Daenam ke Cheongdo, Korea Selatan, Jumat (21/2). | YONHAP/EPA

Internasional

24 Feb 2020, 02:00 WIB

Korsel Siaga Merah Covid-19

Pertama kalinya, Korsel menerapkan siaga merah dalam 11 tahun terakhir. 

 

 

SEOUL – Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in menyatakan, siaga virus korona pada level merah, yaitu level tertinggi. Korsel melaporkan ratusan kasus dan kematian kelima akibat virus korona pada Ahad (23/2). Seorang wanita yang diyakini berusia 57 tahun itu mengalami gagal ginjal kronis ketika didiagnosis terinfeksi virus korona atau Covid-19. 

"Wabah telah mencapai daerah yang penting dan beberapa hari ke depan akan menjadi momen krusial," ujar Moon.  

"Meski situasinya genting, kita bisa mengatasinya.... Pemerintah memiliki kemampuan dan keyakinan untuk mengendalikan serta mengatasi penyebaran penyakit infeksi ini," katanya dikutip the Independent, Ahad. 

Hingga berita ini ditulis, jumlah kasus korona dilaporkan melampaui angka 78 ribu secara global. Sementara, jumlah pasien yang tewas mencapai 2.466 orang. Angka ini melampaui wabah SARS pada 2013 yang menewaskan 774 orang.

Laman the Independent melaporkan, ini pertama kalinya Korsel menerapkan siaga merah dalam 11 tahun terakhir. Sebelumnya, siaga merah diberlakukan saat dunia memerangi influenza A (H1N1).

Dalam rapat, Moon mengatakan, sekte Shincheonji Church of Jesus di Kota Daegu diperkirakan menjadi pusat terbaru penyebaran korona. Infeksi diperkirakan mulai menyebar setelah salah satu anggota gereja hadir beberapa kali dalam misa di Daegu sebelum dites dan dinyatakan positif terkena korona pada 18 Februari. Dia diketahui tidak memiliki catatan perjalanan ke luar negeri dalam beberapa waktu belakangan. 

Para pejabat mengatakan, seorang anggota jemaat wanita itu tetap menghadiri kebaktian di gereja dan mengunjungi tempat-tempat lainnya sebelum didiagnosis terinfeksi virus korona. 

Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Jeong Eun-kyeong mengatakan, ada 556 pasien dan lebih dari separuhnya terkait kegiatan Gereja Shincheonji. Wali Kota Daegu Kwon Yong-jin mengatakan, ada kekhawatiran bahwa jumlah orang yang terinfeksi dapat meningkat. 

Daegu adalah  kota terbesar keempat di Korsel. Pusat Kota Daegu kini tampak seperti kota mati. Sebagian besar barang-barang kebutuhan yang dijual di supermarket maupun toko kelontong telah ludes diserbu warga. 

Selain itu, banyak restoran, bar, perkantoran, dan agen perjalanan di Daegu tutup. Warga Daegu lebih banyak menghabiskan waktu mereka di rumah dan memesan makanan maupun kebutuhan lainnya secara daring. 

Salah satu pemilik toko kue di Daegu, Kim Mi-yeon, membuka tokonya pada Ahad meski khawatir wabah virus korona. Dia memilih untuk membuka tokonya agar dapat mencari nafkah sehari-hari. Kim mengatakan, dia hanya kedatangan satu pelanggan.

"Pada akhir pekan saya biasa mempekerjakan lima karyawan paruh waktu, tetapi saya baru-baru ini mengatakan kepada mereka semua untuk tidak datang. Bagaimana saya bisa mempekerjakan mereka pada saat saya memiliki kurang dari 10 pelanggan sehari?" ujar Kim. 

Pada Sabtu malam Perdana Menteri Korsel Chung Sye-kyun mengatakan dalam pidato yang disiarkan secara nasional bahwa wabah virus telah memasuki "tahap yang lebih parah". Dia berulang kali mengatakan, pemerintah berupaya keras untuk menahan penyebaran penyakit ini. 

Wabah virus korona telah menimbulkan ketakutan bagi kota-kota lain di Korsel. Stasiun TV menyiarkan siaran khusus tentang wabah virus korona sepanjang hari. Selain itu, media sosial juga penuh dengan informasi terkait virus dan segala rumornya. 

Terminal bis ekspres yang biasanya ramai di Seoul kini tampak sepi. Beberapa penumpang tampak mengenakan masker wajah. 

Pada Sabtu (22/2) Samsung Electronics melaporkan ada satu kasus korona di pabriknya di Gumi, Korsel. Pabrik ditutup hingga Senin (24/2) pagi. 

Laman South China Morning Post melaporkan, Duta Besar Israel untuk Cina Zvi Heifetz dikarantina di Beijing, Cina. Alasannya, pada 15 Februari ia terbang dalam penerbangan yang sama dengan warga Korsel yang dinyatakan terinfeksi korona.

photo
Seorang penumpang Diamond Princess yang belum boleh turun karena tertular Cobid-19 melambai dari atas kapal di Pelabuhan Yokohama, Rabu (19/2). - (Jae C. Hong/AP Photo)

Keprihatinan kaisar Jepang

Kaisar Jepang Naruhito menyuarakan keprihatinan atas kian merebaknya wabah virus korona. Lebih dari 80 warga Jepang telah terinfeksi virus tersebut dan tiga di antaranya meninggal. 

"Virus korona baru ini menjadi perhatian. Saya ingin mengirim simpati kepada mereka yang terinfeksi serta keluarga mereka," kata Kaisar Naruhito pada Ahad (23/2). 

Dia turut menyampaikan perhatiannya pada mereka yang terlibat dalam usaha perawatan pasien dan pencegahan penyebaran wabah. "Saya berharap upaya mereka akan berbuah segera," ujanya. 

Kaisar Naruhito juga menyinggung tentang penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas yang dijadwalkan dihelat di Tokyo pada 24 Juli mendatang. Ia khawatir kegiatan olahraga akbar itu batal dilaksanakan karena wabah Covid-19.

Dia mengaku, menantikan Olimpiade Musim Panas tahun ini. "Saya berharap, Olimpiade dan Paraliampide akan memperdalam pemahaman orang lain di dunia dan betapa berharganya perdamaian, terutama di kalangan anak muda," ucapnya.

Sementara, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe memerintahkan badan pemerintah untuk menyiapkan aturan medis dan rancangan rencana yang komprehensif untuk mengatasi penyebaran korona. n ap/reuters ed: yeyen rostiyani

 

 

WHO akan Bantu Afrika

 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, akan mendukung negara-negara Afrika dalam menghadapi serta menangani wabah virus korona atau Covid-19. Menurutnya, masih ada kesenjangan kritis dalam hal penanganan di sana. Hal itu disampaikan Direktur Regional WHO untuk Afrika Dr Matshidiso Moeto saat menghadiri pertemuan darurat dengan para menteri kesehatan Afrika di Komisi Uni Afrika di Addis Ababa, Etiopia, Sabtu (22/2). 

WHO telah melakukan survei terhadap negara-negara di benua tersebut untuk menilai kesiapan mereka menghadapi wabah Covid-19. Hasilnya, WHO menemukan bahwa tingkat kesiapan regional diperkirakan 66 persen. 

"Kita perlu segera memprioritaskan penguatan kapasitas bagi negara untuk menyelidiki peringatan, merawat pasien di fasilitas isolasi, meningkatkan infeksi, pencegahan, dan pengendalian di fasilitas kesehatan serta di masyarakat," kata Moeti, dikutip laman Anadolu Agency

WHO telah membantu negara-negara Afrika dalam membangun kapasitas diagnostik untuk Covid-19. Saat ini, ada 26 laboratorium mampu menguji patogen baru. Sebelumnya, Afrika hanya memiliki dua laboratorium. Pada 20 Februari lalu negara-negara Afrika melaporkan bahwa sejak 22 Januari terdapat 210 orang yang telah diawasi dan diselidiki apakah mengidap Covid-19. n 


×