Adiwarman Karim | Prayogi/Republika

Analisis

24 Feb 2020, 02:00 WIB

Hindari Risiko Sistemik

 

 

Oleh Adiwarman A Karim

 

Tahun ini diperkirakan akan penuh tantangan. Paling tidak, ada empat hal yang membuat perekonomian rentan bila muncul pemicu yang dapat mendorong timbulnya risiko sistemik.

Pertama, perekonomian global masih galau. Perang dagang AS-Cina diperparah dengan wabah virus korona, sehingga kesepakatan dagang AS-Cina yang akhirnya tercapai, seakan kehilangan momentum. Ketegangan dagang antara dua negara ekonomi terbesar dunia ini tentu sangat dikawatirkan menurunkan volume perdagangan dunia.

Wabah virus korona menjadi sangat terasa dampak ekonominya karena Cina adalah negara ekonomi tebesar kedua, sehingga penurunan permintaan dari Cina memukul negara-negara mitra dagang Cina, termasuk Indonesia. Posisi Cina sebagai mitra dagang utama Indonesia langsung terasa dampaknya. Penurunan ekspor ke Cina diikuti dengan penurunan impor dari Cina. Penurunan impor dari Cina yang berupa bahan baku akan menekan sektor produksi.

Kedua, ekonomi Indonesia kembali mengandalkan konsumsi domestik rakyatnya sebagai motor penggerak ekonomi. Sektor infrastruktur harus menarik napas dulu saat ini; kinerja profitabilitas dan rasio utang perusahaan yang bergerak di sektor ini perlu diperbaiki setelah ngebut dalam lima tahun pertama. Pertumbuhan kredit sektor ini masih sangat tinggi diikuti dengan tingkat kredit bermasalah yang juga tinggi.

Penerbitan efek oleh perusahaan di sektor ini untuk menggantikan kredit perbankan yang habis masa tenggang dihadapkan pada lemahnya daya serap pasar dan rating kinerja perusahaan yang belum menggembirakan.

Ketiga, risiko sektor keuangan meningkat dengan meningkatnya risiko gagal bayar di beberapa perusahaan. Bila hal ini tidak ditangani dengan baik, risiko gagal bayar segelintir perusahaan akan merebak menjadi risiko reputasi industri yang pada gilirannya akan menimbulkan risiko sistemik.

 
Saling keterkaitan transaksi antara satu perusahaan dengan beberapa perusahaan lainnya secara lintas industri keuangan menyebabkan penanganannya harus cermat. Menangkap tikus tanpa harus membakar lumbungnya. Menarik rambut dalam tepung.
 
 

Keempat, proses konsolidasi sektor keuangan dengan perubahan pengurus dan aksi korporasi harus dapat dipisahkan dari kesan yang menyiratkan seakan-akan semua perusahaan tersebut menyimpan api dalam sekam.

Proses konsolidasi ada dua jenis, yaitu sebagai proses perbaikan berkelanjutan dan sebagai proses koreksi atas suatu kekeliruan. Untuk jenis yang pertama, yaitu perbaikan berkelanjuitan, proses penyegaran pengurus merupakan hal yang sangat lazim dilakukan. Aksi korporasi pun demikian, dilakukan berdasarkan pertimbangan bisnis. 

Sedangkan, konsolidasi jenis yang kedua, yaitu sebagai proses koreksi atas suatu kekeliruan harus dilakukan dengan definisi yang jelas tentang cakupan dan rentang waktunya. Dua hal inilah yang membedakannya dengan jenis konsolidasi jenis pertama yang bersifat perbaikan berkelanjutan.

Ketika dua jenis konsolidasi ini dilakukan pada saat bersamaan, apalagi bila ditambah dengan kegaduhan dan tidak jelasnya mana yang jenis pertama dan mana yang kedua, pasar akan kesulitan membedakan dua jenis konsolidasi ini. Sehingga, memberikan sinyal yang keliru ke masyarakat. Masyarakat sulit membedakan mana yang sakit mana yang sehat, sehingga akhirnya perusahaan yang sehat pun akan tertular penyakit akibat hilangnya kepercayaan masyarakat.

 
Persoalan yang menerpa satu perusahaan yang gagal bayar harus dilokalisasi pada perusahaan tersebut dan dampak kerugian keuangan atas fraud yang terjadi tidak dibebankan kepada nasabahnya. Perlu pembedaan dalam penanganan dua hal yang berbeda. Pertama, tata kelola hubungan bisnis perusahaan dan nasabah. Kedua, tata kelola internal perusahaan yang berindikasi fraud.
 
   

Rudiger Dornbusch, Park Yung, dan Stijn Claessens, para peneliti Bank Dunia, dalam riset mereka "Contagion: Understanding How It Spreads" membedakan dua jenis penularan penyakit dalam industri keuangan. Pertama, spill-over effect, yaitu penularan yang disebabkan pemburukan faktor eksternal secara fundamental. Kedua, fenomena irasional, yaitu penularan tanpa adanya pemburukan faktor eksternal secara fundamental.

Guillermo Calvo, profesor Universitas Columbia, dalam risetnya "Contagion in Emerging Markets: When Wall Street is a Carrier" menjelaskan bagaimana penularan itu terjadi ketika nasabah menarik dananya yang selanjutnya diikuti oleh nasabah lainnya.

Gagal bayar tepat waktu di satu perusahaan asuransi menimbulkan kecemasan hal yang sama akan terjadi di perusahaan lain. Nasabah menarik dananya dari perusahaan asuransi tersebut. Perusahaan asuransi harus mencairkan portofolionya untuk memenuhi kebutuhan nasabahnya. Penjualan besar-besaran portofolio akan menurunkan harganya di bursa, sehingga kemampuan perusahaan membayar ke nasabah juga menurun karena portofolio dijual dengan harga yang sedang jatuh.

Kejadian di industri asuransi akan menular ke industri pasar modal. Pemegang reksadana yang melihat jatuhnya nilai reksadana akan mencairkan pula dananya. Manajer Investasi akan melepas portofolionya di bursa untuk memenuhi pencairan tersebut. Harga efek semakin tertekan akibat penjualan besar-besaran di bursa.

Pencairan reksa dana bahkan memaksa beberapa manajer investasi menutup beberapa reksadananya. Total net redemption atau penarikan dana bersih di reksadana sudah mencapai Rp 8,82 triliun pada periode sejak awal 2020 hingga 12 Februari 2020.

Dalam perekonomian tertutup, dana dari industri asuransi dan pasar modal itu akan dialihkan ke industri perbankan. Likuiditas perbankan meningkat, tapi pertumbuhan kredit masih lesu karena bank menghindari risiko kredit yang masih tinggi. Too much money, too little credit.

 

Dalam perekonomian terbuka, dana nasabah akan mencari //safe haven//, tempat aman, pindah ke luar negeri, pindah ke mata uang asing, atau ketika kedua pilihan itu juga dirasa tidak aman, pindah ke emas. Naiknya permintaan emas akan menaikkan harga emas, uang ditarik nasabah dipindahkan ke emas, yang dapat berdampak pada penurunan fungsi intermediasi perbankan dan efektivitas kebijakan moneter bank sentral.

 

Kaidah fikih //dar'ul mafasid muqaddamun 'ala jalbil mashalih//, mencegah kemudaratan lebih prioritas dibandingkan menarik kemanfaatan. Mencegah risiko sistemik lebih baik daripada manfaat konsolidasi perbaikan berkelanjutan dan konsolidasi koreksi pada waktu bersamaan. Harus jelas dipahami pasar, mana yang sehat mana yang sakit agar penularan akibat fenomena irasional dapat dicegah. n


×