Oni Sahroni | Daan Yahya | Republika

Konsultasi Syariah

Menjaga Reputasi, Ada Dalil Ayat dan Sirahnya?

Menjadi orang-orang pilihan yang terbaik pasti meninggalkan kesan dan reputasi baik.

DIASUH OLEH USTAZ DR ONI SAHRONI; Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saya ingin bertanya tentang menjaga reputasi, apakah ada dalil atau landasan dan rujukan yang menjelaskan pentingnya menjaga reputasi? Terima kasih Ustaz. --
Idrus, Bogor

Wa’alaikumussalam wr. wb.

Pertama, adalah Sholih Bin Abdullah Bin Hamid (Mantan Ketua Majelis al-A’la li al-Qadha Arab Saudi) menjelaskan tentang landasan dan rujukan menjaga reputasi. Saya mencoba mengalihbahasakan dengan poin-poin agar runut dan ringan dipahami, termasuk saya tambahkan dan lengkapi dari referensi lain.

Di antara tuntunan dan dalil seputar menjaga reputasi adalah berikut. (1) Sesungguhnya reputasi yang baik itu menyisakan kesan terbaik di hati setiap manusia, menjadi buah bibir masyarakat, dan pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa orang itu memiliki akhlak yang baik.

Oleh karena itu, reputasi yang baik (as-sum’ah al-hasanah) itu hanya dapat didapatkan oleh mereka yang memiliki akhlak yang baik, orang-orang terpilih, dan orang yang paling taat kepada Allah SWT sebagaimana hadis Rasulullah SAW, “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia...” (HR Thabrani).

Dan hadis Rasulullah SAW, “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah jadikan dia manis (bagaikan madu). Ada yang bertanya, 'Apa maksudnya manis?' Rasulullah SAW menjawab, 'Allah bukakan baginya amal saleh menjelang kematiannya sehingga orang-orang di sekitarnya menjadi senang (ridha)'.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, dan Thabrani – dan Sanadnya Shahih).

Dalam hadis tersebut disebutkan ungkapan 'assalahu. Kata ‘assalahu itu diambil dari kata ‘asal (madu) sebagai ilustrasi menyamakan amal saleh yang membuat masyarakat sekitar lapang, berkesan baik, mengapresiasi terhadapnya itu diserupakan dengan madu karena manisnya --yang umumnya-- disukai masyarakat.

(2) Keteladanan Nabi Ibrahim ketika berdoa kepada Allah SWT agar diberikan buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian yang diabadikan dalam firman Allah SWT, “(Ibrahim berdoa) 'Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku hukum (ilmu dan hikmah) dan pertemukanlah aku dengan orang-orang saleh. Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian'." (QS asy-Syu’ara: 83-84).

Ungkapan, “Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian” itu bermakna Nabi Ibrahim berharap dapat meninggalkan legacy yang baik bagi generasi yang ditinggalkannya. Legacy berarti juga pengakuan dan reputasi yang baik.

Sebagaimana firman Allah SWT, “Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi mulia.” (QS Mayyam: 50).

Ungkapan, “Buah tutur yang baik lagi mulia” menunjukkan kesan dan buah bibir masyarakat akan kebaikannya.

Serta firman Allah SWT, “Ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan (dalam taat kepada Allah) dan penglihatan (mata hati yang jernih). Sesungguhnya Kami telah memberikan secara khusus kepada mereka anugerah yang besar, (yaitu selalu) mengingat negeri akhirat. Sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik. Ingatlah Ismail, Ilyasa, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (QS Sad: 45-48).

Menjadi orang-orang pilihan yang terbaik pasti meninggalkan kesan dan reputasi baik di sekelilingnya.

(3) Rasulullah SAW yang menjadi model dalam reputasi, Allah SWT menegaskan, “Dan meninggikan (derajat)-mu (dengan selalu) menyebut-nyebut (nama)-mu.” (QS al-Insyirah: 4).

Dalam ayat tersebut Rasulullah SAW banyak menjadi buah bibir masyarakat sekitar. Tentu bukan karena apa-apa, tetapi karena dikenal dengan kepribadiannya yang jujur dan amanah, dikenal sebagai sosok yang mudah membantu orang lain, menanggung beban kesulitan orang lain, serta kebaikan lainnya.

(4) Sesungguhnya Rasulullah SAW mendidik para sahabatnya agar memerhatikan untuk menjaga reputasi (as-sum’ah al-hasanah) dan memitigasi dari setiap perilaku yang akan mencederai dan merusak kehormatan reputasinya.

Rasulullah SAW menyampaikan kepada para sahabat pada saat sebagian mereka mengusulkan untuk membunuh seorang munafik. “...Biarkan dan lepaskanlah ia! Supaya orang-orang tidak berkata bahwasanya Muhammad membunuh sahabatnya.” (HR Bukhari Muslim).

Menurut para ulama, hadis ini menyiratkan untuk menghindarkan diri (memitigasi) dari potensi orang lain untuk berburuk sangka kepada kita, termasuk memitigasi dari tipu daya setan.

Selanjutnya, para ulama menegaskan bahwa tuntunan ini semakin menjadi perhatian bagi para tokoh dan panutan masyarakat, seperti para ulama, para hartawan, dan para pejabat.

Oleh karena itu, mereka tidak boleh melakukan sesuatu yang membuka potensi khalayak berburuk sangka kepada mereka, walaupun mereka melakukannya karena ketulusan kepada Allah SWT. Karena dengan itu berarti kerja-kerja sosial dan kebaikan mereka menjadi berkurang kebermanfaatannya.

(5) Sahabat Rasulullah SAW. Di antara para sahabat adalah mereka yang diberikan amanah kekuasaan dan menunaikan amanahnya secara adil, merealisasikan kesejahteraan di tengah masyarakat, menenuhi hajat-hajat keseharian mereka, memberikan perlindungan kepada mereka dari setiap kezaliman, menjadi pelindung prinsip-prinsip syariah di tengah masyarakat.

Di antara para sahabat adalah sosok ulama yang sederhana, santun, tawadhu’, mendalam ilmunya, hingga menjadi buah bibir di tengah masyarakatnya.

Di antara para sahabat adalah sosok hartawan yang sukses dalam bisnisnya tetapi dikenal menjadi buah bibir karena kedermawanannya, membantu dhuafa dan anak-anak yatim, membangun infrastruktur kesehatan dan sosial untuk masyarakat.

Jadi yang menjadi concern para sahabat adalah bagaimana menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya, maka reputasi dan keberterimaan dengan sendirinya akan mengikutinya.

(6) Imam Malik berkata; "Tidak apa-apa jika seorang senang untuk dipuji karena kebaikannya. Jika ia berniat untuk mendapatkan ridha Allah SWT, karena sesungguhnya Allah SWT berfirman, 'Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta (dalam hati) mereka'.” (QS Maryam: 96).

Maksud kalimat “wudda” dalam ayat ini adalah rasa simpati, apresiasi, dan kesan positif di tengah masyarakat karena melihat kebaikannya.

(7) Setiap orang atau pihak berkewajiban untuk menjaga nama baik reputasi dirinya, nama baik dan reputasi keluarganya, masyarakatnya, negaranya, dan agamanya agar dirinya dan mereka itu terhormat di mata khalayak.

Sebagaimana firman Allah SWT, “Wahai saudara perempuan Harun (Maryam), ayahmu bukan seorang yang berperangai buruk dan ibumu bukan seorang perempuan pezina.” (QS Maryam: 28).

Dan hadis, “...Barang siapa yang menjaga diri dari perkara-perkara samar tersebut, maka dia telah menjaga kesucian agama dan kehormatannya...” (HR Bukhari Muslim).

Kedua, di antara tuntunannya adalah: (a) Membangun reputasi dengan memastikan setiap aktivitasnya tidak ada yang bertentangan dengan syariah, menunaikan adabnya, dan tidak bertentangan dengan aturan (legal).

Tanpa harus menjadi target, reputasi -dengan sendirinya- akan baik di mata khalayak, seperti pegawai perusahaan, ia fokus bekerja sesuai syariah, sesuai aturan, meningkatkan KPI dan kinerja, sehingga menjadi pegawai teladan.

(b) Setiap mukmin harus mengelola aktivitasnya sesuai tuntunan fikih dan adabnya dalam ruang lingkupnya, baik di tengah keluarga atau di institusi/lembaga tempat ia bekerja, atau di tengah komunitas sosialnya tanpa harus berburu pujian, apresiasi, tepuk tangan dan lainnya.

Tetapi yang ia letakkan sebagai tujuan utamanya adalah ridha Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT, “Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS asy-Syu’ara: 84).

(c) Sedangkan hal yang tidak dibolehkan adalah membangun reputasi dengan niat yang tidak baik, atau dengan tujuan dan cara yang ilegal dan bertentangan dengan prinsip syariah.

Wallahu a’lam.

Keutamaan Muslim yang Kuat

Mereka yang kuat mendapat kecintaan lebih dari Allah SWT.

SELENGKAPNYA

Umrah Mandiri Jadi Tren, Bagaimana Nasib Biro Travel?

Syam tetap menyambut positif tantangan umrah mandiri ini.

SELENGKAPNYA

Religion is Good for You

Apakah agama masih relevan diperdebatkan?

SELENGKAPNYA

Ikuti Berita Republika Lainnya