|

Newswrap

22 Feb 2020, 02:07 WIB

BAB Sembarangan Masih Menjadi Kebiasaan

Cegah BAB sembarangan, Dompet Dhuafa membangun 11 kakus di rumah warga Kampung Lorog.

Bau busuk menyengat sudah tercium dari jarak 15 meter sebelum sampai di lokasi yang ditunjuk oleh ketua RT di Kampung Lorog, Kelurahan Bendung, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, Nawawi (46 tahun). Siang itu ia menunjukkan kondisi miris, tempat warganya biasa buang air besar (BAB).

Tempat BAB itu ternyata berupa jamban darurat yang dibuat hanya bermodal sisa spanduk partai atau karung bekas yang dilingkarkan di bambu. Ada sekitar lima titik yang ditunjuk Nawawi. Lokasinya menyebar. Beberapa ada di tengah rimbun pohon bambu, sementara ada pula yang di atas saluran irigasi.

Musim kemarau panjang yang melanda Kampung Lorog membuat tinja yang dibuang warga hanya tergeletak dan tidak terhanyut oleh air. Meski begitu, kondisi tinja yang menumpuk di bawah jamban darurat tidak menyurutkan minat warga untuk BAB di jamban tersebut. Tempatnya yang berangin dan luas, menurut Nawawi, lebih disukai warga karena mereka merasa lebih nyaman saat BAB.

"Ya gini lagi kemarau, ada banyak di bawah (menunjuk bagian bawah jamban) tahinya. Biasanya kan ada airnya, tapi karena lagi kering jadi enggak tersapu itu," kata Nawawi ketika menunjukkan salah satu jamban darurat yang berada di dekat saluran irigasi saat ditemui Republika pada Selasa (5/11).

Dia menuturkan, ada sekitar 125 kepala keluarga (KK) yang tinggal di Kampung Lorog. Mayoritas warga termasuk dirinya masih BAB di kebun, sawah, hingga sungai. Hal itu disebabkan oleh kebanyakan warga kampung memang tidak memiliki kakus sendiri. Selain karena warga tidak memiliki jamban di rumah masing-masing, dia menambahkan, kebiasaan BAB sembarangan ini seperti sudah menjadi tradisi. Bahkan, Nawawi mengisahkan, BAB sembarangan dianggap turun-temurun terjadi sejak masa kakek-nenek atau pendahulu warga Kampung Lorog.

Nawawi menambahkan, masalah ketersediaan air bersih di kampungnya juga menjadi kendala tersendiri untuk penggunaan kakus sebagai kebutuhan BAB warga. Air tanah yang payau karena dekat pantai dianggap warga tidak nyaman untuk sekadar digunakan kebutuhan cebok, apalagi mandi. Dia menyebut, warga merasa kulitnya lengket kalau mengambil air dari sumur.

"Kayak sudah jadi tradisi di sini mah. Memang enak kayak-nya BAB di luar itu, luas, angin sepoi kan? Tapi, harapan saya sih memang dibina supaya kebiasaan ini diperbaiki, dibantu untuk pembuatan WC-nya," ucapnya.

Untungnya, kata Nawawi, baru-baru ini salah satu lembaga zakat memberikan bantuan pembangunan kakus di Kampung Lorog. Di 11 rumah dari sekitar 90 rumah yang ada di kampung tersebut telah dibangun kakus pada tahap pertama, sementara sisanya dilanjutkan dalam waktu dekat. "Alhamdulillah ada bantuan kemarin. Tahap pertama sudah 11 unit dibangun yang bahan bangunannya dikasih oleh Dompet Dhuafa," katanya.

Dia mengatakan, kendala lain justru muncul saat bahan bangunan untuk membuat kakus diberikan oleh Dompet Dhuafa. Pasalnya, ada beberapa warga yang mengaku belum sanggup membangun jamban di rumahnya karena keterbatasan ekonomi. Nawawi mengakui hampir semua warganya bekerja sebagai buruh tani, bukan pemilik lahan, sehingga pendapatannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

"Cuma yang merawat (sawah) saja. Jadi, sebagian besar itu masih prasejahtera. Ketika bantuan bahan bangunan datang, sebagian bilang belum mampu buat bangunnya. Kan memang bangun itu perlu uang tukangnya, buat kopi atau makanan tukang," kata Nawawi.

Meski begitu, dia melanjutkan, berkat bantuan pembangunan jamban ini terjadi perbaikan kebiasaan warga. Berdasarkan pantauan Nawawi, sejak bantuan digulirkan pada akhir Oktober lalu, jumlah warga yang BAB di sawah atau kebun perlahan berkurang. Namun, ia berharap bantuan ini dapat diberikan secara penuh kepada seluruh warga. Dia juga berharap adanya pembuatan sumur demi mengentaskan masalah ketersediaan air bersih di kampungnya. Pasalnya, kalau masih kesulitan mendapatkan air bersih, warga akan kembali memilih BAB di sungai atau kebun.

Lurah Bendung Ari Kurnianto menuturkan, pihaknya sangat bersyukur dengan adanya bantuan pembangunan kakus di Kampung Lorog. Dia memiliki data bahwa sekitar 70 persen dari 6.000 jiwa warganya hingga kini memang masih BAB sembarangan. Masalah air bersih, menurut dia, menjadi kendala utama dalam mengubah kebiasaan warga yang tinggal di Kelurahan Bendung.

Ari mengklaim sudah berupaya berkomunikasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Serang untuk membuat pipanisasi sebagai sarana untuk mencukupi kebutuhan air bersih warga. Tidak sekadar pembuatan saluran pipa air bersih, pihaknya juga ingin penyulingan air dilakukan supaya warga mudah mendapatkan pasokan air bersih. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut usulan tersebut.

"Di sini itu kan tidak seperti (Kelurahan) Bojonegara. Kalau di sana kan air laut terhalang oleh bebatuan. Jadi, airnya tidak asin meski di pinggir pantai. Kalau di sini cuma lumpur, jadi airnya asin. Kalau buat BAB itu perih, buat cuci baju bisa rusak, buat minum enggak bisa," katanya.

 

Enam kelurahan

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang menyebutkan, baru enam dari 66 kelurahan di ibu kota Provinsi Banten ini yang sudah bebas dari katagori open defication free (ODF) alias bebas BAB sembarangan. Enam kelurahan tersebut terdiri atas Sumur Pecung, Dalung, Ciracas, Cipare, Lopang, dan Penancangan. Adapun di 60 kelurahan lainnya, warga masih BAB sembarangan.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Serang Lenny Suryani mendapati sebagian warga memang masih suka buang air di sawah, sungai, atau di tempat lapang seperti perkebunan. Padahal, aktivitas itu bisa menimbulkan penularan penyakit dan membuat lingkungan menjadi tidak sehat. "Baru enam kelurahan ODF. Lainnya belum penuh punya jamban," katanya.

Menurut Lenny, kebiasaan BAB sembarangan akhirnya kerap menimbulkan masalah kesehatan yang banyak terjadi di Kecamatan Kasemen. Daerah yang tercatat paling banyak angka warga BAB sembarangan disertai penggunaan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari memiliki dampak berupa banyak penyakit yang diderita warga Kecamatan Kasemen. Minimnya penerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di masyarakat, dia melanjutkan, juga berimbas pada gangguan kesehatan jangka panjang.

"Lingkungan kotor salah satunya akan menyebabkan cacingan. Cacingan bisa berdampak pada gangguan anemia. Anemia pada usia remaja juga bisa berpeluang terjadi pada usia dewasa nanti saat remaja putri hamil. Jika ibu hamil terkena anemia maka bisa menyebabkan bayi dengan berat badan rendah, kematian ibu dan bayi, bahkan kalau bayi tidak diberi ASI atau makanan pendukung bisa terjadi //stunting//," ucap Lenny.

Dari penelitian yang dilakukan Dinkes Kota Serang, tingginya angka gangguan kesehatan yang terjadi di Kecamatan Kasemen merupakan dampak dari perilaku dan lingkungan yang tidak sehat. Untuk mengentaskan masalah ini, pihaknya mendorong berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkot Serang untuk mempercepat penyelesaian persoalan yang bertahun-tahun tidak dituntaskan tersebut. Lenny menegaskan, dinkes tidak dapat bekerja sendiri untuk mengatasi masalah tersebut.

Dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, serta Dinas Pertanian Kota Serang diperlukan untuk menuntaskan masalah penyakit warga maupun kasus stunting akibat dampak rentetan lingkungan tidak sehat karena warga gemar BAB sembarangan. "Kasus stunting yang terjadi di Kasemen, Kilasah, dan Sawah Luhur itu karena perilaku dan lingkungan yang tidak sehat," kata Lenny.

Wakil Wali Kota Serang Subadri Usuludin mengakui problem warga BAB sembarangan di wilayahnya masih menjadi isu yang belum dapat dituntaskan secara menyeluruh. Meski begitu, pihaknya mengklaim pemkot sudah meluncurkan berbagai program untuk mengubah kebiasan warga, seperti Gerakan Dua Ribu Rupiah untuk Jamban Keluarga (Gardujaga) yang diusung salah satu puskesmas di Kecamatan Cipocok. Dia mengakui memang di Kecamatan Kasemen paling banyak warga yang punya kebiasan buruk BAB sembarangan. Namun, program yang melibatkan unsur masyarakat untuk bersama-sama membuat jamban umum sudah diluncurkan.

"Pada 2020 juga nanti kita akan mengurangi MCK komunal yang dananya kita alihkan untuk hibah masyarakat untuk membuat MCK sendiri. Daripada dana habis untuk pemeliharan MCK komunal mending langsung diberikan kepada masing-masing," kata Subadri.

Dia pun menjanjikan kasus BAB sembarangan yang marak tersebut secara bertahap akan dientaskan oleh pemkot sebagai salah satu program prioritas. Namun, keterbatasan APBD pada 2019 sebesar Rp 1,42 triliun yang dimiliki Kota Serang membuat hasil perubahan di masyarakat tidak bisa berlangsung cepat. Namun, Subadri meyakinkan, Serang yang bermoto Kota Madani ini terus berproses dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat sehingga satu per satu persoalan di lapangan pasti mendapat perhatian pemkot untuk dituntaskan.

"Kalau menyelesaikan masalah langsung sekaligus belum bisa karena keterbatasan anggaran. Yang penting, pemkot punya keseriusan untuk menangani ini," kata ketua DPRD Kota Serang periode 2014-2018 ini. n alkhaledi kurnialam ed: erik purnama putra

Bertekad mengentaskan dolbon

BAB sembarangan atau yang sering disebut masyarakat Sunda sebagai dolbon alias singkatan modol di kebon masih menjadi masalah pelik di Kota Serang. Data Dinkes Kota Serang menyebut baru enam dari 66 kelurahan di Kota Serang yang bebas kategori BAB sembarangan. Hal itu menunjukkan bahwa banyak pekerjaan rumah Pemerintah Kota (Pemkot) Serang yang harus dituntaskan segera.

Wali Kota Serang Syafrudin mengakui masyarakat yang masih banyak melakukan dolbon merupakan hal miris yang seharusnya tidak terjadi di lingkup perkotaan. Karena itu, ia memprioritaskan penanganan masalah itu dari semua sisi agar tertangani dengan baik.

"Sengaja program terpadu Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) baru-baru ini juga saya arahkan ke Kelurahan Bendung, Kasemen, itu supaya juga ada penyuluhan dan pembinaan untuk tidak buang air sembarangan," kata Syafrudin saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (11/11).

Menurut dia, edukasi kepada masyarakat untuk membiasakan pola hidup sehat sudah gencar dilakukan seluruh puskesmas yang ada di Kota Serang. Namun, memang warganya yang ada di Kecamatan Kasemen mayoritas seolah tidak bisa menghentikan kebiasaan dolbon yang sudah turun-temurun. Syafrudin mengatakan, berbagai program, seperti Gerakan Dua Ribu Rupiah untuk Jamban Keluarga (Gardujaga), kredit kakus, hingga donasi kakus, telah diluncurkan untuk membantu masyarakat prasejahtera agar memiliki jamban sendiri. Meski bantuan sudah diberikan kepada warga prasejahtera yang membutuhkan, terkadang ada saja yang kembali ke kebiasaan lama, yaitu BAB di kebun atau sungai.

Syafrudin menerangkan, Pemkot Serang sedang menyiapkan infrastruktur penyediaan air bersih menuju Kecamatan Kasemen. Namun, jaringan pipa baru sampai melayani sekitar 50 persen wilayah. "Tahun depan rencana kita akan genjot terus untuk infrastruktur. Jadi, saya harap dari sisi kebiasaan masyarakat juga semakin sadar untuk tidak melakukan dolbon. Di sana itu saya temukan rumah bagus tapi enggak punya WC, punya motor tapi enggak punya WC," katanya.

Tingginya kasus dolbon di Kampung Lorog, Kelurahan Bendung, Kota Serang, turut disorot oleh Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Banten melalui program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM). Penanggung jawab program LKC Dompet Dhuafa Banten, Danan, mengatakan, dipilihnya Kampung Lorog karena ditemukan lebih banyak masyarakat yang gemar BAB sembarangan daripada yang punya jamban sendiri di rumah. "Kalau kita jalan ke belakang rumah mereka, kita akan lihat sendiri bagaimana kebiasaan BAB sembarangan ini banyak dilakukan," kata dia.

Menurut dia, Dompet Dhuafa mengawali program itu dengan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), khususnya dalam hal sanitasi. Setelah program pemicu dijalankan dan masyarakat mulai sadar akan pentingnya memiliki jamban, barulah pihaknya memberikan bantuan bahan pembangunan kakus kepada sekitar 40 kepala keluarga di Kampung Lorog yang pelaksanaannya bertahap.

"Jadi, bukan bantuan pembangunan jamban. Bantuan kita itu kayak pemicu saja. Kita berikan sosialisasi, memicu rasa malu mereka sampai sadar kalau BAB sembarangan itu tidak baik. Baru setelah itu kita bantu pembuatan jambannya dengan semen tiga sak dan satu jamban duduk," katanya.

Wakil Ketua DPRD Kota Serang Roni Alfanto mengatakan, banyaknya kebiasaan dolbon yang ditemukan di masyarakat menunjukkan adanya program pembangunan yang salah. Dia mendesak pemkot lebih serius dalam mengentaskan masalah tersebut. Dia menerangkan, masalah ketersediaan air bersih yang dikeluhkan warga sebagai pemicu maraknya dolbon harus diatasi dengan inovasi agar kebiasaan buruk itu dapat dihentikan.

"Seharusnya tidak ada lagi kasus dolbon ini di Kota Serang yang merupakan ibu kota Provinsi Banten. Pemkot saya harap merancang dan melakukan program untuk menyelesaikan masalah ini," kata Roni.


×