Petugas Kesatuan KBR (Kimia Biologi Radioaktif) Gegana Mabes Polri bersama petugas PTKMR (Pusat Teknologi Keselamatan Meteorologi Radiasi) mengukur paparan radiasi di area terpapar di Perumahan Batan Indah, Kota Tanger | Thoudy Badai/Republika

Jawa Timur

16 Feb 2020, 16:31 WIB

Paparan Radiasi di Serpong tak akan Meluas

Sumber materi yang memancarkan radiasi nuklir tersebut masih akan diselidiki lebih lanjut.

JAKARTA -- Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Indra Gunawan mengatakan, kontaminasi paparan radiasi nuklir yang ditemukan di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, tidak akan meluas.

"Kemungkinan tidak akan meluas. Hanya pada radius 10 meter x 10 meter yang ada di lokasi saja," kata Indra saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (15/2). Indra mengatakan, Bapeten dan Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) telah mengeruk tanah yang terkontaminasi hingga ketebalan 10 sentimeter. Paparan radiasi di lokasi pun sudah menurun meski masih di atas ambang batas normal. "Bila diperlukan maka tanah yang dikeruk akan lebih dalam," katanya.

Terkait dengan kondisi warga, Indra mengatakan, Bapeten dan Batan memeriksa warga yang mau diperiksa secara sukarela untuk mengetahui ada atau tidaknya dampak radiasi. "Warga yang diperiksa terutama yang tinggal di sekitar lokasi ditemukannya materi yang memancarkan radiasi nuklir yang sudah diamankan dan sedang diperiksa di laboratorium Batan," ujarnya.

Sumber materi yang memancarkan radiasi nuklir tersebut, menurut Indra, masih akan diselidiki lebih lanjut. Begitu pula ketika ditanya bagaimana materi tersebut bisa ada di permukim an warga, Indra mengatakan masih memerlu kan penelusuran. "Logikanya kan tidak mungkin tiba-tiba ada di situ. Pasti ada yang membuang atau meletakkan di situ, entah sengaja atau tidak," tuturnya.

Batan membersihkan daerah yang terpapar radiasi nuklir di depan Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan. Tingkat radiasinya dinya takan di atas ambang batas oleh Bapeten. "Saat ini (kemarin Red), Batan sedang melakukan clean up di sekitar area yang terpapar," kata Kepala Biro Hukum, Hubungan Masyarakat, dan Kerja Sama Batan Heru Umbara melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu siang.

Heru mengatakan, temuan Ba peten tersebut langsung ditang gapi oleh Batan. Dengan fasilitas laboratorium dan pengolah an limbah radioaktif, Bapeten meminta Batan untuk membantu proses pembersihan dan ana lisis material penyebab paparan radiasi tinggi.

Upaya pembersihan yang Ba tan lakukan adalah dengan meng ambil material sumber pemapar yang memancarkan radiasi di atas ambang batas dan mengambil seluruh vegetasi dan ta nah untuk diuji. Menurut Heru, dari hasil clean up, bahan penyebab paparan radiasi ditemukan telah bercampur de ngan tanah.

"Temuan itu saat ini sedang di analisis di laboratorium Batan," tutur dia. Menurut Heru, pembersihan me rupakan upaya pertama yang di lakukan untuk menyelamatkan masyarakat dan lingkungan dari paparan radiasi. Sebanyak 52 drum berkapasitas 100 liter digunakan untuk membawa ve ge tasi dan tanah dari lokasi.

Se telah pem bersihan, paparan radiasi menurun 30 persen dari 149 mikrosivet per jam menjadi 98,9 mikrosivet per jam pada Sabtu dini hari. "Proses clean up akan terus dilanjutkan sampai area tersebut benar-benar bersih dan tidak membahayakan warga dan lingkungan," ujarnya.

Heru mengungkapkan, pembersihan diperkirakan berlangsung selama 20 hari sejak 12 Februari 2020, tetapi diharapkan da pat dinyatakan bersih lebih cepat dari itu. Batan juga sedang mem persiapkan pengecekan seluruh tubuh kepada warga untuk mengetahui dampak kontaminasi.

Heru mengimbau masyarakat agar tidak panik karena kejadian tersebut telah ditangani oleh pihak yang berkompeten. Warga diharapkan melakukan aktivitas seperti biasa dan tidak me masuki area yang sudah dibe ri tanda terkontaminasi. "Papar an radiasi, bila dikelola dengan baik, tidak akan membahayakan keselamatan warga," tuturnya.

Mabes Polri bersama Polda Metro Jaya mengirimkan personel untuk memeriksa kondisi lahan yang terpapar radioaktif. Akan tetapi, sampai saat ini kepolisian masih belum mengetahui bagaimana radiasi nuklir itu bisa muncul di area tersebut.

"Iya (melakukan penyelidikan), tapi belum (tahu penyebabnya), masih dicek di Polda Metro," ujar Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Argo Yuwono saat dikonfirmasi, Sabtu (15/2).

Saat ditanya mengenai jumlah personel yang diturun kan dalam penyelidikan terse but, Agro belum bisa memas ti kan. Argo mengaku masih me nunggu laporan dari tim di la pangan untuk informasi je las nya. antara ed: firkah fansuri


×