Pantia melempar hasil bumi saat pelarungan ritual ruwat cukur rambut gimbal di Telaga Cebong, Sembungan, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Ahad (3/7/2022). Ritual cukur rambut gimbal kembali diadakan usai absen selama dua tahun imbas pandemi Covid-19. Dalam t | Wihdan Hidayat / Republika

Fatwa

Perbedaan Ulama Memandang Sedekah Laut

Bahtsul Masail PBNU menjelaskan, fenomena sedekah laut tidak dapat dipandang secara sederhana.

Sedekah laut merupakan sebuah acara tradisional yang kerap dilakukan para nelayan di pesisir jawa. Beragam daerah pesisir melakukan ritual ini pada bulan Muharram atau Syura. Ritual itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur warga terhadap hasil tangkapan ikan dan rezeki yang didapatkan selama setahun.

Ritual tersebut dilakukan dengan menyembelih kerbau atau hewan yang biasa disembelih pada hari raya kurban. Berbagai makanan disajikan. Ada yang dibagi-bagikan untuk dimakan, terkadang ada juga makanan yang dilarungkan ke laut.

photo
Pengunjung mengambil perlengkapan protokol kesehatan, seperti masker, hand sanitizer, dan sabun cuci tangan pada gunungan saat Larung Covid-19 di Teras Malioboro 1, Yogyakarta, Selasa (11/10/2022). Acara Larung Covid-19 ini diadakan oleh BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengingatkan kembali pentingnya proses meski pandemi Covid-19 sudah melonggar. Gunungan itu diperebutkan oleh pengunjung Teras Malioboro 1 setelah didoakan. - (Republika/Wihdan Hidayat)

Pakar syariah Prof Amin Suma menjelaskan masalah itu, khususnya dari aspek kemurnian bertauhid kepada Allah (tauhidullah, pemahaesaan Allah), di samping dari aspek fikih (hukum Islam). Terutama, terhubung dengan sajian yang berasal-usul dari hewan sembelihan (dalam hal ini pelarungan kepala kerbau atau kepala kambing); dan dari sudut pandang akhlak atau etika ekonomi, khususnya etika konsumsi (al-asyribah).

Dari sudut pandang tauhidullah, langsung maupun tidak langsung, sedikit atau besar, disengaja atau tidak disengaja, samar-samar atau terang-terangan, dia menegaskan, sedekah laut sulit dinyatakan terbebas, apalagi bersih dari unsur syirik/kemusyrikan (penyekutuan Tuhan).

Lebih-lebih, ketika sedekah laut itu dipersepsikan dengan iktikad atau sekurang-kurangnya diposisikan sebagai suguhan/sesajen dalam arti sesembahan/penghambaan kepada arwah-arwah yang diyakini oleh masyarakat tertentu yang sesungguhnya tidak dikenal dalam syariat Islam.

Dari sudut pandang sembelihan, Alquran melarang atau tepatnya mengharamkan sembelihan yang penyembelihannya tidak menyebut nama Allah (bacaan bismillahi Allaahu akbar), atau menyebutkan nama Allah sewaktu menyembelihnya tetapi tujuan penyembelihannya dibelokkan untuk kepada selain Allah, misalnya untuk sesajen bagi arwah-arwah atau apa pun sebutannya.

 
Katakanlah, "Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam"
QS AL-AN'AM: 162-163
 

"Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)'." (QS. al-An'aam: 162-163).

Dalam menjelaskan, tentang ayat itu Imam Ibnu Katsir mengungkapkan, Allah memerintahkan Nabi SAW agar memberi tahu kepada orang-orang musyrik yang menyembah kepada selain Allah dan menyembelih dengan tidak menyebut nama Allah. Menurut Ibnu Katsir, Nabi SAW menyelisihi mereka (tidak sesuai dengan ajaran Islam).

Prof Amin Suma menjelaskan, meski yang menyembelih hewannya itu jelas-jelas beragama Islam dan saat menyembelih menyebut nama Allah, hal tersebut tetaplah haram. Sebab, adanya tujuan terselubung dari penyembelihan hewan itu memang diperuntukkan bagi acara dan upacara sedekah laut.

photo
Warga Suku Tengger membawa seekor sapi dan kambing untuk dilarung ke kawah Gunung Bromo pada Upacara Yadnya Kasada di Desa Ngadisari, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/6/2022). Upacara Kasada merupakan upacara adat masyarakat suku Tengger sebagai bentuk ucapan syukur kepada Sang Hyang Widi sekaligus meminta berkah dan menjauhkan dari malapetaka. - (ANTARA FOTO/Umarul Faruq/wsj.)

Berbeda dengan Prof Amin Suma, Bahtsul Masail PBNU menjelaskan, fenomena sedekah laut tidak dapat dipandang secara sederhana menjadi persoalan hitam dan putih, syirik/kufur dan iman. Di dalamnya banyak masalah yang dapat dikaji dengan hati-hati. Bahtsul Masail PBNU berasumsi, fenomena sedekah laut mengandung dua persoalan. Pertama, persoalan akidah atau keimanan. Kedua, masalah fiqiyyah.

Perihal persoalan akidah atau keimanan, hal itu tidak dapat dilihat secara sederhana menjadi hitam/syirik/kufur dan putih/tauhid/iman. Masalah itu dapat diperinci berdasarkan situasi di lapangan.

Fenomena tersebut bisa dihukumi haram bila mengandung unsur kemusyrikan atau syirik sebagaimana pernah diputuskan dalam Muktamar NU ke-5 pada 1930 M/1349 H di Pekalongan perihal peringatan sedekah bumi atau jin penjaga desa. Para kiai ketika itu mengutip Syarah Tafsir Jalalain karya Syekh Sulaiman al-Jamal dan Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali.

Artinya, "Orang yang pertama meminta perlindungan kepada jin adalah kaum dari bani Hanifah di Yaman, kemudian hal tersebut menyebar di Arab. Setelah Islam datang maka berlindung kepada Allah menggantikan berlindung kepada jin" (lihat Syekh Sulaiman al-Jamal, al-Futuhatul Ilahiyyah).

 
Fenomena itu bisa dihukumi mubah bila upacara dengan melakukan penyembelihan hewan tertentu ini diniatkan sebagai takarub kepada Allah untuk mengusir jin jahat
 
 

Namun, fenomena itu bisa dihukumi mubah bila upacara dengan melakukan penyembelihan hewan tertentu ini diniatkan sebagai takarub kepada Allah untuk mengusir jin jahat atau makhluk penguasa laut. Namun, ketika penyembelihan hewan ini diniatkan untuk menyenangkan jin penguasa laut, hal itu dihukumi haram sebagaimana keterangan Syekh Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu'in sebagai berikut.

Artinya, "Siapa saja yang memotong (hewan) karena takarub kepada Allah dengan maksud menolak gangguan jin maka dagingnya halal dimakan. Namun, kalau jin-jin itu yang ditakarubkan maka daging sembelihannya haram."

Wallahu a'lam.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Pesawat Delay 15 Jam, Ratusan Jamaah Diinapkan di Hotel Transit

Ratusan oper jamaah haji kloter 16 Kabupaten Semarang masih ada di Jeddah

SELENGKAPNYA

Hilang di Mina, Niron Ditemukan di Kamar Jenazah

Pada 5 Juli sore ada laporan tas paspor, kalung identitas dan baju Niron ditemukan.

SELENGKAPNYA

Kuwait Cetak Seratus Ribu Alquran untuk Swedia

Negara-negara Muslim menyatakan, penodaan terhadap Alquran sama dengan menghasut kebencian agama.

SELENGKAPNYA