Layu Dimakan Rindu | Dok Republika

Sastra

Layu Dimakan Rindu

Cerpen Irwansyah

Oleh IRWANSYAH

Aku tidak bisa menolak setiap kali Mamak mengajakku ke sini. Mungkin dengan cara ini, wanita yang kini tubuhnya layu dimakan rindu, bisa tetap menyemangati diri. Di sini, Mamak menghabiskan banyak waktu dan membiarkan angin-angin nakal memainkan ujung kerudungnya.

“Bang …, hari ini Lekha masak gulai daun ubi sama sambal ikan teri kesukaan Abang.”

Mendengar kalimat itu, rasanya air mataku berdesak-desakan berebut ingin keluar. Entah kenapa setiap kali datang ke tempat ini, Mamak selalu membuat masakan kesukaan laki-laki tercintanya itu. Untung saja sekarang rantang tiga tingkat tidak lagi dibawa seperti sebelum-sebelumnya.

Sejujurnya aku sering bertanya-tanya, bagaimana cara orang-orang dahulu membangun cinta dalam rumah tangga mereka. Padahal, tidak sedikit dari mereka yang menikah hanya satu atau dua kali setelah bertatap muka. Namun, mereka menjaga setia hingga tubuh renta. Bahkan, ketika salah satunya lebih dahulu terkubur di dalam tanah, yang masih hidup pun tetap menolak menikah untuk kedua kali. 

Sejujurnya aku sering bertanya-tanya, bagaimana cara orang-orang dahulu membangun cinta dalam rumah tangga mereka. 
 

“Lekha! kau masih muda, cantik pula. Tak payah kalau kau mau menikah lagi, pasti banyak laki-laki yang mau.” Aku masih ingat betul ketika barisan kata-kata itu diucapkan Kakek.

Tidak terhitung entah berapa kali Kakek berusaha membujuk Mamak agar mau menikah lagi. Lembar demi lembar kertas berwarna yang menampakkan laki-laki dengan berbagai rupa juga disodorkan Kakek kepada Mamak. Hasilnya aku sudah bisa menduga, wanita berceruk di pipi itu mengatup rapat-rapat kedua kelopak bibirnya, lalu menggeleng.

 “Apa hebatnya laki kau itu, hah?! Sudah ditinggal mati pun masih juga kau setia sama dia!" Melihat putri semata wayangnya terus saja bergeming, laki-laki pensiunan militer itu terpancing marahnya. “Puluhan tahun kau jadi bininya, tak juga kaya hidup kau!”

Sayangnya, aku yang saat itu masih duduk di bangku kelas dua SMP tidak punya keberanian untuk membela wanita yang telah melahirkanku. Aku cuma bisa bersembunyi di balik pintu kamar. 

Kaya? Kalau harta yang menjadi ukuran, aku pun akan mengatakan bahwa Bapak tidak memberikan hal itu untuk kami. 
 

Kaya? Kalau harta yang menjadi ukuran, aku pun akan mengatakan bahwa Bapak tidak memberikan hal itu untuk kami. Dari pekerjaannya sebagai pemecah batu di sungai, bisa menghadirkan nasi setiap hari saja sudah sangat bersyukur. Namun, jika kaya yang dimaksud adalah cinta, kasih sayang, dan perhatian, maka tidak ada yang meragukan bahwa itu semua diberikan berlimpah-limpah oleh Bapak.

“Adnan! Bujuklah mamakmu biar mau menikah lagi. Nanti Kakek belikan kau sepeda.” Cara seperti itu pun pernah dilakukan Kakek demi memuluskan niat.

Kakek tahu betul aku sangat menginginkan sepeda. Sampai terbawa mimpi aku karenanya. Ketika anak-anak seumuranku tertawa riang beradu cepat mengayuh sepeda, aku cuma bisa menyemangati mereka dengan terus berteriak di tepi jalan sampai suaraku serak. Satu-satunya sepeda yang kami punya, adalah sepeda unta kesayangan Bapak. Jangankan duduk di atas sadel, untuk menggapai kedua setang saja aku masih kesulitan.

Saat itu, aku memilih tidak menceritakan kepada Mamak atas apa yang sudah ditawarkan Kakek kepadaku. Mimpi memiliki sepeda aku pendam. Aku pun seperti tidak ingin mengkhianati kesetiaan Mamak kepada Bapak. Laki-laki itu telah membuktikan kesungguhan hatinya setelah menikahi Mamak. 

Mimpi memiliki sepeda aku pendam. Aku pun seperti tidak ingin mengkhianati kesetiaan Mamak kepada Bapak. 
 

Kulit Bapak yang beradu legam dengan helaian-helaian di kepala, mengisyaratkan betapa keras perjuangan demi wanitanya. Pembuluh darah bertimbulan seperti kawat-kawat yang dililitkan pada lengan kekarnya. Telapak tangan pun menebal setelah gelembung-gelembung berisi cairan pecah. Kuku-kuku jarinya tetap menghitam meski sudah berkali-kali disikat dengan berus untuk mencuci pakaian.

Suatu ketika, Bapak pulang dengan luka menganga, tidak lebih dari dua senti di bawah kelopak mata. Luka itu cuma ditutupin daun singkong yang sebelumnya dikunyah. Darah masih tetap merembes. Lelehan berwarna merah itu mungkin seperti yang sering dikatakan orang dengan istilah 'menangis darah'. Ngeri. Tidak bisa dibayangkan jika pecahan batu menyinggahi bola mata.

Mamak gemetaran membersihkan luka Bapak. Ada sebentuk bening di sudut mata wanita itu. Mamak memintaku mengambil sarang laba-laba yang bergayutan mesra di rangka atap rumah kami, lalu mencelupkan ke dalam minyak tanah. Kata Mamak, ramuan itu manjur untuk menghentikan darah pada luka. Entah tabib mana yang mengajarkan cara seperti itu. Jangan-jangan itu hanya karena ketiadaan uang di rumah kami untuk membawa Bapak berobat ke mantri desa.

Satu-satunya yang menjadi permintaan paling istimewa Bapak ketika memiliki uang lebih, adalah gulai daun singkong dan sambal ikan teri. Kemudian, kuah gulai itu untuk menyiram kerak nasi di dasar priuk. Dengan lahapnya Bapak memakan kerak itu. Sesederhana itu cara Mamak untuk membuat Bapak senang. 

Satu-satunya yang menjadi permintaan paling istimewa Bapak ketika memiliki uang lebih, adalah gulai daun singkong dan sambal ikan teri. 
 

Ketika bulan puasa tiba, kebersamaan kami lebih terasa. Dengan sepeda unta, Bapak mendudukkan aku di palang sepeda di depannya, sedangkan Mamak di boncengan belakang. Bertiga, kami menuju mushala untuk tarawih.

Pada bulan itu, akan lebih banyak lagi diperdengarkan ayat-ayat Al-Quran di rumah panggung kami. Berjam-jam Bapak dan Mamak menekuri mushaf yang tidak memiliki sampul. Malam-malam di rumah kami akan terasa lebih panjang.

Aku sering menemani ketika mereka tenggelam dalam kenikmatan bacaan kitab itu. Tidak jarang aku yang lebih dahulu tenggelam dalam mimpi-mimpi bertumpu pada paha Mamak.

Menjelang makan sahur, kembali terdengar suara merdu mereka. Selepas shalat subuh, lagi-lagi mushaf dengan lembar-lembar kertas berwarna kekuningan di atas rehal mereka baca. Seperti tidak ada lelahnya lisan-lisan itu. 

Menjelang makan sahur, kembali terdengar suara merdu mereka. 
 

Menjelang berbuka menjadi kesempatan yang paling aku tunggu-tunggu. Dengan sepeda unta yang selalu berkilau, Bapak akan mengajak kami keliling kampung. Terkadang kami menerbangkan layangan di tanah lapang, atau sekadar menikmati langit senja dari atas jembatan ditemani lenguhan burung-burung yang terburu-buru ingin pulang ke sarang.

Dua pekan menjelang lebaran, Bapak dan Mamak mengajakku ke pasar. Mereka ingin melihatku gagah pada hari raya, meskipun pakaian itu dibeli dari penjual yang meletakkan barang dagangannya di atas terpal, ditumpuk begitu saja. Penjual itu pun tidak henti-henti meneriakkan kata ‘murah’.

Namun sayang, semua hal indah bersama sosok Bapak tidak bertahan lama. Semua terhenti ketika aku mulai bersekolah di SMP. Lima hari sebelum lebaran, kabar menyakitkan menyinggahi rumah kami. Setelah tiga hari mengeluh sakit di bagian perut, Bapak dikabarkan meninggal di tempatnya bekerja. Orang-orang mengatakan bahwa angin duduk yang jadi penyebab. Entahlah, apakah angin bisa menjadi sejahat itu kepada Bapak.

Setelah kepergian Bapak, kehidupan kami terombang-ambing. Beruntung Nenek memberikan modal kepada Mamak untuk membuka warung. Tanpa itu, mungkin Mamak yang akan menggantikan Bapak menjadi pemecah batu. 

Setelah kepergian Bapak, kehidupan kami terombang-ambing. 
 

Tidak terbayangkan kalau sampai apa yang pernah aku lihat pada tubuh Bapak berpindah kepada Mamak: telapak tangan yang menebal dan kasar, kulit yang legam, dan kuku-kuku jari yang menghitam.

Satu tahun setelah kepergian Bapak membuat bulan puasa di rumah kami terasa sepi. Suara merdunya tidak lagi aku dapati menghiasi malam. Tidak ada lagi ritual keliling kampung menjelang berbuka dengan sepeda. Momen melepas pergi matahari dari atas jembatan pun hilang bersama kepergian Bapak. 

Hari-hari berikutnya, Kakek mulai melancarkan niatnya. Berbagai bujuk rayu dilakukan agar Mamak mau menikah lagi. Namun, Kakek dipaksa menelan kekesalan karena Mamak tidak pernah mau.

Terkadang aku ingin tertawa lepas melihat laki-laki tua itu meracau tidak tentu arah saat meninggalkan rumah kami karena kecewa. Daun pintu rumah kami pun puas menjadi sasaran kekesalan Kakek. Mamak menang telak menghadapi sosok tua itu.

 
Terkadang aku ingin tertawa lepas melihat laki-laki tua itu meracau tidak tentu arah saat meninggalkan rumah kami karena kecewa.
 
 

“Cinta, kasih sayang, dan perhatian memang tak bikin perut kenyang, Adnan. Tapi, dengan semua itu, seseorang bisa punya alasan untuk bertahan dan berkorban bersama pasangannya.” Begitulah petuah yang selalu disampaikan Mamak ketika aku mulai memahami. Aku sampai menghafal di mana letak titik dan koma pada kalimat-kalimat itu. Bagaimana wajah Mamak saat mengatakan, tatapan mata, dan tekanan suara dengan sempurna aku mengingatnya.

Bahagia dan ketenangan hati, tidak ada nilai yang menjadi ukuran. Setiap orang bisa merasakan keduanya karena sebab dan alasan yang berbeda-beda. Ketika sebagian orang merasa dirinya bahagia dengan harta, sebagian lagi merasa bahagia dengan mencukupkan atas apa yang dimiliki. Betapa adil Zat yang menciptakan manusia. Dia tidak menjadikan kaya sebagai syarat diletakkannya cinta di hati anak manusia. Pesan-pesan itu melekat kuat dalam ingatanku.

“Jadi, apalah yang bikin Mamak cinta kali sama Bapak?” Aku berusaha mengusik kenangan indah yang mungkin telah tersimpan rapi.

Wajah Mamak mendadak seperti dikuasi pemerah pipi. Betapa manis ketika sudut bibirnya ditarik hingga membuat lengkungan pada kelopaknya. Sepasang ceruk di pipi Mamak tampak semakin dalam. Pantaslah Kakek mati-matian berusaha menjodohkan Mamak dengan laki-laki lain, mungkin salah satu alasannya karena manisnya kuah kue serabi kalah oleh senyuman Mamak.

 
Betapa manis ketika sudut bibirnya ditarik hingga membuat lengkungan pada kelopaknya.
 
 

“Waktu nenekmu sakit, bapakmu yang mengurus. Nampaklah sama Mamak waktu bapakmu lagi menyuapin nenekmu, kadang digendong, diajak berjemur, dibersihkan bekas makanan di mulutnya. Ah, luluh hati mamakmu ini.” Makin menjadi-jadi rona di wajah Mamak. Tidak ada kesulitan buatnya mengunduh kisah itu.

Harapan Mamak teramat sederhana dari pernikahannya dengan Bapak, dia ingin memiliki seorang anak yang kelak akan memperlakukannya seperti itu juga ketika tubuhnya renta.

“Kenapa Mamak tak mau menikah lagi?” Ketika pertanyaan itu aku sampaikan, Mamak hanya membalas dengan senyuman.

Itulah cinta, ia akan selalu berjalan beriringan dengan tawa dan air mata. Ia adalah candu bagi penikmatnya. Mamak adalah sebaik-baiknya guru yang mengajarkan kepadaku definisi cinta yang sesungguhnya dan bagaimana cara menjaganya. Cinta selalu memiliki alasan agar setiap anak manusia bisa merasakan singgasananya. Tidak peduli apa dan bagaimana sosok itu, ketika cinta sudah menaungi hati, kepada dia rasa itu ditambatkan.

 
Itulah cinta, ia akan selalu berjalan beriringan dengan tawa dan air mata. Ia adalah candu bagi penikmatnya.
 
 

“Mak ..., bentar lagi berbuka, kita pulang, ya.” Kusentuh pelan bahu Mamak. Ia masih duduk bertelekan lutut di samping pusara suami tercinta. Aku bisa merasakan tulang-tulang yang bertonjolan di balik baju panjang itu. Rindu telah membuat tubuhnya layu.

Ritual ini tidak pernah dilewatkan Mamak sejak sepuluh tahun lalu. Lima hari menjelang lebaran, Mamak akan mengajakku ke tempat ini.

Kini, setiap menjelang berbuka, aku yang mengajak Mamak keliling kampung dan melihat langit senja dengan sepeda unta peninggalan Bapak.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat