Atraksi terjun payung yang menghibur oenggembira saat memeriahkan Pembukaan Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah dari luar Stadion Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (19/11/2022). | Republika/Wihdan Hidayat

Opini

Meneguhkan Dakwah Purifikasi Sosial 

Metode dakwah kultural menekankan pentingnya berdakwah melalui beragam budaya.

BIYANTO, Guru Besar UIN Sunan Ampel dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur

Salah satu hasil Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Solo, Jawa Tengah, 18-20 November 2022 adalah risalah tentang isu strategis bidang keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal. Di bidang keumatan, ditekankan pentingnya dakwah keagamaan mencerahkan.

Untuk itu, kajian keagamaan hendaknya diselenggarakan sebagai proses pencerahan agar umat memahami agama secara luas dan mendalam. Agama penting menjadi sumber ajaran dan nilai yang menggerakkan dan memajukan umat.

Beragama yang mencerahkan, menuntun umat meneguhkan kebenaran, akhlak mulia, dan optimistis. Beragama yang mencerahkan ialah menghadirkan risalah agama untuk memberikan jawaban atas problem kemanusiaan.

 
Risalah isu-isu strategis di bidang keumatan terasa relevan dengan tantangan Muhammadiyah pada abad kedua.
 
 

Risalah isu-isu strategis di bidang keumatan terasa relevan dengan tantangan Muhammadiyah pada abad kedua. Dakwah pencerahan harus terus dikembangkan dengan merambah bidang lain di luar soal agama.

Dakwah tidak boleh berhenti hanya pada bidang purifikasi agama, tetapi juga purifikasi sosial. Dakwah memberantas takhayul, bidah, dan churafat (TBC) barangkali penting, tetapi memberantas TBC membutuhkan pendekatan yang tepat.

Karena itu, harus mulai dibiasakan penggunaan pendekatan kebudayaan dalam berdakwah. Pendekatan kebudayaan penting untuk mengurangi resistensi di kalangan umat, yang masih akrab dengan tradisi lokal.

Dengan begitu, dapat diterima beragam komunitas, termasuk abangan dan tradisional. Hasil penelitian Mitsuo Nakamura (1976) penting menjadi pelajaran, yang menyatakan Muhammadiyah merupakan gejala perkotaan.

 
Menurut Nakamura, dakwah Muhammadiyah sangat cocok untuk masyarakat kota, kelas menengah, dan kaum terdidik.
 
 

Menurut Nakamura, dakwah Muhammadiyah sangat cocok untuk masyarakat kota, kelas menengah, dan kaum terdidik. Namun, untuk komunitas lainnya, dakwah Muhammadiyah dinilai kurang bersahabat.

Kritik Nakamura meniscayakan aktivis Muhammadiyah mengevaluasi metode dan kemasan materi dakwahnya. Seakan menyadari pentingnya pendekatan kebudayaan, Muhammadiyah menggulirkan wacana dakwah kultural.

Metode dakwah kultural menekankan pentingnya berdakwah melalui beragam budaya, seperti pendidikan, ekonomi, seni, budaya, dan olahraga. Namun sangat disayangkan, metode dakwah kultural belum mendapat respons positif.

Orientasi dakwah sebagian besar mubalig Muhammadiyah masih bertemakan pemberantasan TBC. Padahal, persoalan yang dihadapi umat berkembang begitu pesat. Tantangan Muhammadiyah masa kini juga berbeda dengan saat didirikan dulu.

 
Metode dakwah kultural menekankan pentingnya berdakwah melalui beragam budaya, seperti pendidikan, ekonomi, seni, budaya, dan olahraga.
 
 

Aktivis Muhammadiyah penting membaca penelitian James Peacock (1986), yang menyimpulkan Muhammadiyah gerakan keagamaan yang berorientasi memurnikan ajaran Islam, dan berperan penting sebagai gerakan purifikasi di bidang akidah dan ibadah.

Kecenderungan dakwah melakukan purifikasi agama juga disadari kalangan insider Muhammadiyah, seperti Muslim Abdurrahman (2003). Menurut dia, dakwah Muhammadiyah dianggap kurang berempati terhadap seni dan budaya lokal.

Padahal seni dan budaya hukumnya boleh sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Namun, selalu ada kecenderungan di kalangan aktivis Muhammadiyah untuk menafikan seni dan budaya lokal.

Karena itu, Kuntowijoyo (2001) menyebut Muhammadiyah gerakan kebudayaan tanpa kebudayaan. Spirit ajaran Muhammadiyah kembali pada Alquran dan sunah serta kehati-hatiannya dalam menyikapi budaya, kadang-kadang terdengar seperti gerakan antikebudayaan.

 
Karena itu, Kuntowijoyo (2001) menyebut Muhammadiyah gerakan kebudayaan tanpa kebudayaan.
 
 

Pada konteks itulah, Muhammadiyah penting menampilkan diri sebagai gerakan kebudayaan baru. Terkait harapan orientasi dakwah pencerahan persyarikatan bergeser dari purifikasi agama ke purifikasi sosial, Muhammadiyah mengambil beberapa langkah.

Materi dakwah Muhammadiyah tidak hanya berkaitan dengan akidah dan ibadah. Di bidang politik kebangsaan, dikembangkan dakwah melalui politik adiluhung.

Muhammadiyah memelopori berbagai kegiatan dalam rangka jihad konstitusi, dengan mengajukan judicial review terhadap UU Migas, Rumah Sakit, dan Minerba. Dakwah ini wujud pengembangan purifikasi dalam kehidupan berbangsa.

 
Teladan Muhammadiyah Krembangan dapat menjadi model dakwah dalam rangka purifikasi kehidupan sosial.
 
 

Dalam bidang sosial, Muhammadiyah terlibat penanganan problem prostitusi. Ini ditunjukkan melalui kiprah di Kecamatan Krembangan, Surabaya. Mereka bersinergi dengan Pemkot Surabaya untuk menutup sejumlah lokalisasi.

Aktivis Muhammadiyah Krembangan secara sukarela urunan untuk membeli rumah-rumah bordil. Tujuannya, mempersempit gerak bisnis prostitusi. Muhammadiyah Krembangan memberikan bantuan modal usaha dan pelatihan keterampilan bagi pekerja seks komersial.

Teladan Muhammadiyah Krembangan dapat menjadi model dakwah dalam rangka purifikasi kehidupan sosial. Kini, tugas aktivis Muhammadiyah mengembangkan dan meneguhkan dakwah purifikasi sosial dalam berbagai bentuk. 

Maroko dan Pengembaraan Ibnu Battuta

Selama kurang lebih 29 tahun, Ibnu Battuta telah singgah di 44 negara.

SELENGKAPNYA

Penyesalan Para Pendurhaka

Tidak mungkin para pendurhaka akan diperlakukan sama seperti orang-orang yang patuh dan taat.

SELENGKAPNYA

Adab-Adab Nobar Piala Dunia

Dengan adab itu, Muslim bisa menyaksikan nobar Piala Dunia, tetapi dalam koridor tuntunan syariah.

SELENGKAPNYA