Tugu Gong Si Bolong | Republika/Edwin Dwi Putranto

Bodetabek

Dubes Belanda Ingin Kembangkan Depok Lama

Pemkot ingin pengembangan kawasan Depok Lama dilakukan melalui kolaborasi.

DEPOK – Duta Besar (Dubes) Belanda untuk Indonesia Lambert Grijns menyatakan, pihaknya ingin berkolaborasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok untuk menggali potensi wisata sejarah di kawasan Depok Lama. “Saya sudah dua kali mengunjungi Kota Depok, suatu kehormatan yang besar karena Belanda dan Depok ada hubungan yang kuat terhadap peninggalan sejarah,” katanya dalam siaran pers di Kota Depok, Jawa Barat, Ahad (27/11).

Menurut Grijns, Kedutaan Besar (Kedubes) Belanda ingin memperbaiki hubungan dengan Pemkot Depok untuk menggali potensi wisata sejarah. Dia juga mengajak sektor wisata, akademisi, dan masyarakat untuk bersinergi bersama dalam mengembangkan potensi wisata sejarah di Kota Depok. “Kami ingin semuanya punya peran agar peninggalan sejarah bisa lebih menarik,” ujar Grijins yang lahir di Kota Bogor pada 1962.

Dubes yang fasih berbahasa Indonesia tersebut berharap rencana itu dapat terealisasi. Sehingga masyarakat di Kota Depok dapat bangga karena memiliki tempat khusus yang dapat dimanfaatkan untuk wisata sejarah Belanda. Karena alasan itulah, Grijns sengaja mengunjungi Rumah Cimanggis yang merupakan rumah asli peninggalan Belanda.

 
Kami ingin semuanya punya peran agar peninggalan sejarah bisa lebih menarik.
LAMBERT GRIJINS Dubes Belanda
 


Wakil Wali Kota Depok Imam Budi Hartono yang mendampingi Grijns mengatakan, pengembangan kawasan Depok Lama akan dilakukan melalui kolaborasi, revitalisasi, elaborasi sister city antara Kota Depok dan sebuah kota di Belanda. Nantinya, dihelat penyelenggaraan festival budaya Belanda di Kota Depok, yang mengadopsi kegiatan Festival Drama Depokkers (A Colonial Tale Unravels) di Belanda.

photo
Warga memperhatikan bangunan Rumah Cimanggis yang saat ini dijadikan situs cagar budaya di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Rabu (19/12/2018). Bangunan seluas 1.000 meter dan diperkirakan berdiri sejak 1775-1778 tersebut, merupakan peninggalan petinggi kongsi dagang Belanda Hindia Timur (VOC) bernama Albertus Van Der Parra yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jendral VOC. Tempat itu kerap ia gunakan sebagai peristirahatan saat melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Bogor. ANTARA FOTO/Kahfie Kamaru/foc. - (ANTARA FOTO)


Menurut Imam, dalam merealisasikan peningkatan peninggalan sejarah Belanda, perlu mendapat dukungan dari komunitas, akademisi, unsur masyarakat, serta media massa. "Untuk itu, tentunya butuh bantuan semua pihak agar keberadaannya dapat terus dikenal dan terjaga," kata dia.

Imam mengatakan, sejumlah peninggalan sejarah Kolonial Belanda di Kota Depok, di antaranya Stasiun Depok Lama, bangunan di sekitar Jalan Pemuda, serta Rumah Cimanggis. Selain itu, juga ada beberapa heritage lainnya berupa hutan raya, 23 situ, dan tiga sungai besar.

Ketua DPRD Kota Depok TM Yusufsyah Putra mendukung penuh pengembangan kota bersejarah Depok. Perhatian dan kesungguhan yang ditunjukkan pemkot bersama komunitas dan warganya dalam menjaga dan mengembangkan heritage, terutama Rumah Cimanggis dan Kawasan Depok Lama patut diapresiasi.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Dutch Embassy Indonesia (@nlinindonesia)



Ahli sejarah Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), Boy Loen (72 tahun), menyatakan, optimistis atas inisiatif Pemkot dan DPRD Depok untuk berkolaborasi bersama kalangan kampus untuk ambil bagian dalam penelitian dan pengembangan potensi heritage di kawasan Depok Lama. Kampus yang dilibatkan adalah Universitas Indonesia (UI), Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Trisakti, hingga alumni Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, yang ada di Indonesia.

Boy menjelaskan, sebagai generasi ke-8 Kaoem Depok atau yang familiar dipanggil Belanda Depok dari marga Loen, Kota Depok tidak bisa lepas dari peran saudagar Cornelis Chastelein. Menurut dia, Belanda Depok dalam sejarahnya memiliki tanah luas dan menjadi orang yang berada. Hal itu karena mereka mewarisi berbagai aset Cornelis yang pada abad ke-17 merupakan tuan tanah kaya raya pada zamannya.

Namun, seiring berjalannya waktu, kata dia, ada kondisi yang menyebabkan beberapa aset sejarah tersebut punah atau beralih kepemilikan karena dijual pemilik aslinya. Hal itu berpotensi hilangnya nilai-nilai atau aset sejarah yang jadi bagian dari salah satu identitas kawasan. “Semoga inisiatif yang baik dari pemkot dan para peneliti UI ini dapat terwujud setahap demi setahap dan dapat dukungan konstruktif dari semua pemangku kepentingan,” kata Boy.

photo
Sekolah Belanda Pribumi di SDN 02 Pancoran Mas, Depok. - (Republika/Edwin Dwi Putranto)


Kota events

 

Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Depok merancang strategi untuk menggaet wisatawan domestik hingga mancanegara mengunjungi Depok sebagai kota destinasi events. Sekretaris Bappeda Kota Depok Ahmad Ubaidillah menjelaskan, Depok memiliki potensi yang cukup besar di sektor pariwisata dan budaya.

 
Dengan banyaknya orang ke Depok, mereka akan spent time (menghabiskan waktu) dan spent money (menghabiskan uang) di sini.
AHMAD UBAIDILAH Sekretaris Bappeda Kota Depok
 


Oleh sebab itu, pihaknya bersama perangkat daerah dan tujuh aktor pembangunan (heptahelix) ingin menyamakan persepsi untuk mencapai tujuan tersebut. Ubaidillah menuturkan, wisatawan bakal mengunjungi Depok jika banyak acara berskala nasional hingga internasional.

"Dengan banyaknya orang ke Depok, mereka akan spent time (menghabiskan waktu) dan spent money (menghabiskan uang) di sini," ujarnya. Ubaidillah mengungkapkan, Lebaran Depok merupakan salah satu wisata tahunan yang sudah masuk kalender event di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).