Mardianti, tenaga pendidik mengajar secara daring di SDN Gunung 05 Mexico, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (3/2/2022). | Republika/Thoudy Badai

Opini

Guru Adaptif di Era Disruptif

Setiap anak di kelas itu unik sehingga guru harus terus belajar, mencari ide memecahkan tantangan di kelas.

ARI WIDOWATI, Direktur Program Pendidikan Dasar Tanoto Foundation

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Demikian kata tokoh dunia Nelson Mandela. Mengangkat manusia dari jurang kemiskinan, membangun SDM, hingga menyalakan mesin kemajuan sebuah bangsa bisa dicapai melalui pendidikan.

Satu hal tak boleh dilupakan, sosok penting dalam pendidikan adalah guru. Sehingga, kualitas guru menjadi faktor krusial yang menentukan kualitas pendidikan di setiap negara. Di sinilah tantangan itu menjulang.

Sejak awal abad ke-21, gelombang disrupsi teknologi menyentuh berbagai aspek kehidupan, dari bisnis/industri, pola interaksi sosial, hingga pendidikan. Gelombang disrupsi membesar sepanjang satu dekade terakhir, memicu perubahan besar dalam bentang kehidupan.

Lalu, tibalah 2020 ketika gelombang pandemi Covid-19 menerjang. Gelombang yang awalnya mengguncang sektor kesehatan, membesar dan meluas hingga memantik perubahan besar-besaran pada sektor perekonomian, pola interaksi sosial, hingga pendidikan.

 
Gelombang disrupsi membesar sepanjang satu dekade terakhir, memicu perubahan besar dalam bentang kehidupan.
 
 

Maka, muncul istilah disrupsi ganda ketika disrupsi teknologi berkelindan dengan disrupsi akibat pandemi. Pada titik ini, dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan besar. Pembatasan mobilitas memicu perubahan pola belajar dari tatap muka menjadi jarak jauh.

Dinamika penanganan pandemi pun membuat proses belajar mengajar harus menemukan titik keseimbangan agar aspek kesehatan dan efektivitas belajar berjalan beriringan, termasuk aspek psikologis siswa.

Riset menunjukkan,  siswa mengalami kondisi negatif selama pendidikan jarak jauh. Data lembaga pendidikan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) menyatakan, sekolah daring  membuat mayoritas siswa sedih.

Dari survei terhadap 1.263 siswa SD/MI hingga SMA/SMK/MA pada Agustus 2021, ada 57 persen siswa SD dan 70 persen siswa SMA merasakan emosi negatif karena sekolah daring. Di momen inilah kemampuan adaptif dibutuhkan.

 
Riset menunjukkan,  siswa mengalami kondisi negatif selama pendidikan jarak jauh.
 
 

Guru tak hanya harus beradaptasi dengan sistem pembelajaran baru tetapi juga cepat meningkatkan kemampuan adopsi teknologi. Dengan begitu, guru bisa mengakses sumber ilmu baru agar dapat berkreasi dan berinovasi sehingga belajar mengajar tetap efektif di tengah pandemi.

Namun ketika pandemi melandai, bukan berarti proses adaptasi tak lagi penting. Sebab, pemanfaatan teknologi terus berevolusi, dari yang awalnya untuk pembelajaran jarak jauh saat pandemi, kini bergerak makin dalam ke ranah learning management system (LMS).

Lebih jauh, kemampuan adaptif tak hanya dibutuhkan untuk menyikapi perubahan akibat pemanfaatan teknologi, tapi juga perubahan sistem belajar. Sebab, sejatinya Kurikulum Merdeka untuk mendisrupsi sistem lama agar pendidikan lebih berkualitas dan bermakna.

Karakter guru pembelajar

Prof Carol S Dweck, psikolog dari Stanford University, puluhan tahun melakukan studi untuk merunut faktor apa yang menentukan seseorang sukses atau gagal dalam hidupnya.

 
Lebih jauh, kemampuan adaptif tak hanya dibutuhkan untuk menyikapi perubahan akibat pemanfaatan teknologi, tapi juga perubahan sistem belajar.
 
 

Penulis buku best seller “Mindset: Changing the way you think to fulfil your potential” ini sampai pada kesimpulan, salah satu faktor terpentingnya adalah pola pikir. Profesi guru menjadi salah satu bahasan Prof Carol S Dweck.

Lantas, apa faktor yang menentukan guru sukses mendidik siswanya? Jawabannya, pemahaman bahwa sekolah bukan saja tempat siswa belajar tapi juga tempat guru belajar memahami tantangan pengajaran ke siswa, lalu mencari solusi untuk mengatasinya. Kita bisa menyebutnya guru pembelajar.

Karakter semacam ini yang tak jarang kami temui ketika Tanoto Foundation menjalankan program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (PINTAR) yang hingga saat ini berjalan di tujuh provinsi.

Melalui program ini, Tanoto Foundation mendorong pengembangan kompetensi guru dan kepala sekolah serta memodelkan praktik baik dalam belajar mengajar dan kepemimpinan sekolah. Intinya, menyuntikkan kreativitas dan inovasi serta optimalisasi pemanfaatan teknologi dalam proses belajar mengajar dan manajemen sekolah.

 
Apalagi, Merdeka Belajar pada dasarnya manifestasi nilai pendidikan yang diusung Ki Hadjar Dewantara dengan konsep pendidikan berpusat pada siswa.
 
 

Apalagi, Merdeka Belajar pada dasarnya manifestasi nilai pendidikan yang diusung Ki Hadjar Dewantara dengan konsep pendidikan berpusat pada siswa. Ini artinya, guru harus bisa memahami karakteristik masing-masing anak didiknya.

Sebab, setiap anak di kelas itu unik sehingga guru harus terus belajar, mencari ide memecahkan tantangan di kelas. Karena itu, kemampuan adaptif harus terus diasah, pola pikir pembelajar  diperkuat, dan proaktif menangkap setiap peluang pengembangan kompetensi.

Semangat ini  harus terus dipupuk  guru dan difasilitasi pemerintah serta pemangku kepentingan lainnya agar Kurikulum Merdeka tak hanya menjadi program tapi bertransformasi menjadi gerakan yang memperkokoh fondasi sistem pendidikan. Selamat Hari Guru. 

Muslim Melayu dan Prinsip Jalan Tengah

Islamisasi secara damai dan perlahan ini membentuk ciri muslim Asia Tenggara

SELENGKAPNYA

Siti Walidah Dahlan, Perempuan Pejuang dari Aisyiyah

Menantang zaman mengangkat derajat perempuan.

SELENGKAPNYA

Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas

Penciptaan lapangan kerja formal mempersempit ketimpangan upah antarpekerja.

SELENGKAPNYA