Warga mengikuti vaksinasi Covid-19 booster di Klinik Mediska Yogyakarta, Jumat (16/9/2022). | Republika/Wihdan Hidayat

Nasional

Kemenkes Izinkan Pemberian Booster Kedua untuk Lansia

Kemenkes mendorong daerah yang cakupan vaksinasinya belum mencapai target kekebalan kelompok.

JAKARTA - Kementerian Kesehatan mengizinkan pemberian vaksinasi booster Covid-19 dosis kedua, atau suntikan keempat, kepada lansia berusia diatas 60 tahun. Kebijakan ini tercantum dalam Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/5565/2022 tentang vaksinasi Covid-19 dosis booster kedua bagi kelompok lanjut usia.

Kebijakan ini berlaku efektif sejak ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu pada 22 November 2022. Kebijakan itu untuk memberikan perlindungan tambahan terhadap kelompok rentan sehingga mengurangi tingkat keparahan dan kematian akibat Covid-19. 

SE juga untuk mendorong pemerintah daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan penyelenggara vaksinasi baik pemerintah maupun swasta untuk melakukan vaksinasi Covid-19 booster kedua bagi lansia.

"Vaksin yang dapat digunakan untuk dosis booster kedua adalah vaksin yang telah mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan POM dan rekomendasi ITAGI serta memperhatikan vaksin yang tersedia di masing-masing daerah," ujar Juru Bicara Covid-19 Kemenkes Mohammad Syahril dalam keterangan, Rabu (23/11).

Ia menjelaskan, vaksinasi Covid-19 booster kedua untuk lansia bisa diberikan sekurang-kurangnya enam bulan sejak booster pertama diberikan. "Lansia yang belum booster pertama diimbau segera dapatkan booster pertama.

"Kami menghimbau agar para lansia dipastikan vaksinasi primernya harus dilengkapi dulu” kata dr. Syahril.

Kemenkes juga mendorong agar daerah yang cakupan vaksinasinya belum mencapai target kekebalan kelompok, yakni minimal 70 persen dari populasi, terus menggencarkan vaksinasi. “Jangan menunda dan jangan pilih-pilih vaksin, karena vaksinasi terbaik adalah vaksinasi yang dilakukan sekarang juga,” ujar Syahril.

Sementara itu, mantan direktur penyakit menular Badan Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama menilai saat ini angka kematian warga karena virus Covid-19 haruslah diwaspadai. Sebab, tren kematian warga akibat Covid-19 di Indonesia lebih tinggi dari negara lain khususnya di Asia Tenggara.

Pada 8 Oktober 2022 angka kematian Indonesia di bawah 10 orang, yaitu 6 orang wafat. Pada 22 November 2022, jumlah meninggal naik lebih delapan kali menjadi 51 orang dari 7.644 kasus.

Ia mengatakan, angka itu menunjukkan perbandingannya cukup tinggi, yakni 0.66 persen. Ia menambahkan, perbandingan seperti ini tidak terjadi di negara lain.

Bila dibandingkan, angka kematian di Singapura 0,04 persen dan Malaysia 0,32 persen. "Jadi jelas persentase kematian di negara kita lebih tinggi dari negara tetangga. Di kita jumlah yang meninggal yang sudah lebih 50 orang, dan persentasenya lebih tinggi dari negara tetangga," kata Tjandra dalam pesan singkat, Rabu (23/11). 

Padahal, subvarian XBB merupakan bagian dari Omicron yang seharusnya tidak terlalu berat. "Tetapi, entah kenapa, di kita menimbulkan angka kematian naik cukup tinggi. Ini harus diantisipasi segera," kata Tjandra.

Filantropi Islam Terjun ke Cianjur

Para relawan terjun untuk merespons dan membantu evakuasi di sekitar kejadian

SELENGKAPNYA

Mengenang Dakwah Kiai Aceng Zakaria

Bagi kader Persis, Kiai Aceng merupakan sosok orang tua sekaligus guru yang baik

SELENGKAPNYA

DKI Bentuk Komite Anti Korupsi demi Perbaiki Iklim Usaha

KPK akan bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta demi tata kelola pemerintahan antikorupsi.

SELENGKAPNYA