Foto udara pabrik pengolahan nikel milik PT Aneka Tambang Tbk di Kecamatan Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, Senin (24/8/2020). | JOJON/ANTARA FOTO

Opini

Hilirisasi Industri

Tak kalah penting, mengimplementasikan hilirisasi industri yang ramah tenaga kerja lokal.

BAGONG SUYANTO, Dekan FISIP Universitas Airlangga

Setelah sekian lama rugi karena hanya menjadi negara pengekspor bahan baku ke pasar global, kini kesadaran melakukan hilirisasi sumber daya alam (SDA) menguat.

Dalam satu sesi dialog di KTT ASEAN, Phnom Penh, Kamboja, pertengahan November 2022, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan komitmennya, negara harus memperjuangkan hak hilirisasi SDA mentah (Republika, 14 November 2022).

Negara tak memperoleh keuntungan memadai jika hanya mengekspor bahan baku. Dalam KTT ASEAN itu, Presiden Jokowi menyatakan, perdagangan dunia harus diatur dengan mempertimbangkan hak pembangunan negara berkembang.

Meski proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap bagus di tengah ancaman resesi global, kondisi menjanjikan itu sia-sia jika berpuas diri hanya mengekspor bahan baku, bukan barang setengah jadi apalagi produk jadi.

 
Negara tak memperoleh keuntungan memadai jika hanya mengekspor bahan baku. 
 
 

Di Indonesia, kesadaran hilirisasi SDA bukan hal baru. Kebijakan ini dicanangkan sejak 2010. Dalam beberapa tahun terakhir, Presiden Jokowi melontarkan gagasan agar ekspor bahan mentah dihentikan, diganti hilirisasi berbagai komoditas agar lebih menguntungkan.

Hilirisasi merupakan strategi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas yang kita miliki. Mengapa hilirisasi mendesak? Pertama, terkait SDA yang dimiliki Indonesia. Banyak bukti memperlihatkan hilirisasi penting, mengingat kekayaan SDA Indonesia melimpah.

Dengan kekayaan SDA, seperti nikel, tembaga, bauksit, kelapa sawit, dan lain-lain yang luar biasa besar, rugi jika kita hanya mengekspornya dalam bentuk bahan mentah. Pengalaman mengajarkan, SDA kita lebih banyak dinikmati negara lain yang bertindak sebagai pengolah.

Kedua, pembukaan lapangan pekerjaan. Jika hanya mengekspor bahan mentah, bisa dipastikan tak banyak lapangan kerja dibutuhkan. Lain soal bila berkembang industri pengolahan yang membutuhkan SDM, baik di level manajerial maupun pekerja.

 
Jika hanya mengekspor bahan mentah, bisa dipastikan tak banyak lapangan kerja dibutuhkan.
 
 

Hilirisasi bukan hanya memperkecil jumlah pencari kerja atau pengangguran, juga menjadi instrumen pemerataan kesejahteran masyarakat di berbagai daerah.

Ketiga, harga jual produk olahan atau produk jadi lebih menguntungkan daripada menjual dalam bentuk bahan mentah. Dengan penghentian ekspor nikel, diperkirakan terjadi peningkatan nilai ekspor hingga 20 miliar dolar AS.

Di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah, misalnya, yang sudah berhasil melakukan hilirisasi terhadap nickel ore menjadi stainless steel. Sebagai gambaran, nickel ore kalau dijual hanya 40-60 dolar AS, ketika sudah jadi stainless steel bisa di atas 2.000 dolar AS.

Bisa dibayangkan, berapa keuntungan diraih jika yang dihentikan ekspor bahan baku mentah tidak hanya nikel, tetapi juga tembaga, bauksit, dan komoditas lainnya. Hilirisasi perlu dilakukan untuk mencegah dan meminimalisasi dampak penurunan harga komoditas.

 
Bisa dibayangkan, berapa keuntungan diraih jika yang dihentikan ekspor bahan baku mentah tidak hanya nikel.
 
 

Jika Indonesia bergantung pada ekspor komoditas mentah, rawan terpuruk ketika nilai jual berbagai komoditas itu menurun. Sebaliknya, jika Indonesia mengekspor barang setengah jadi atau barang jadi, nilai jualnya pun semakin tinggi.

Multiplier effect

Bagi negara maju yang selama ini menikmati keuntungan dari ekspor bahan baku mentah dari Indonesia, tentu kehilangan sumber bisnis yang menguntungkan. Maka tantangannya, bagaimana Indonesia menyikapi negara-negara yang protes terhadap hilirisasi.  

Selama ini, sebagai pengekspor mineral dan komoditas mentah lain, Indonesia selalu menjadi mitra bisnis yang disukai negara lain. Ketika ekspor bahan baku dihentikan, wajar jika banyak negara protes karena tak lagi mengeruk keuntungan berlebih.

Sebagai negara sedang berkembang, Indonesia tentu harus berkomitmen dan tidak tunduk pada tekanan dari mana pun. Hilirisasi tak mungkin ditunda lagi, terutama untuk menjaga kekuatan dan fondasi perekonomian nasional.

 
Selama ini, sebagai pengekspor mineral dan komoditas mentah lain, Indonesia selalu menjadi mitra bisnis yang disukai negara lain.
 
 

Indonesia bisa dipastikan sulit keluar dari perangkap sebagai pengekspor bahan baku, jika tidak mengembangkan hilirisasi dan melarang ekspor bahan baku.

Pengalaman membuktikan, lompatan kemajuan bagi ekonomi nasional niscaya dapat diwujudkan jika hilirisasi industri mampu melahirkan multiplier effect yang luas.

Hilirisasi harus ditopang teknologi baru sesuai perkembangan era Revolusi Industri 4.0. Tak kalah penting, mengimplementasikan hilirisasi industri yang ramah terhadap tenaga kerja lokal.

Dalam situasi angka pengangguran masih tinggi, hilirisasi adalah solusi yang sifatnya “sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui”. Selain menguntungkan secara ekonomi, hilirisasi menyelesaikan berbagai masalah sosial lain di Tanah Air.