Terdakwa mantan Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin (dalam layar) saat menjalani sidang perdana secara virtual di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (15/11/2022). | Republika/Thoudy Badai

Nasional

Tiga Petinggi ACT Ajukan Eksepsi Dakwaan

Dua tim penasihat hukum terdakwa mengajukan nota keberatan.

JAKARTA — Dua orang petinggi Aksi Cepat Tanggap (ACT), yakni Ibnu Khajar yang juga presiden yayasan tersebut dan Hariyana mengajukan eksepsi atau nota keberatan atas dakwaan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (15/11). Satu terdakwa lainnya, yakni mantan Presiden ACT Ahyudin tidak mengajukan eksepsi.

"Tim penasihat hukum terdakwa Ibnu Khajar dan tim penasihat hukum terdakwa Hariyana mengajukan nota keberatan (eksepsi)," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Ketut Sumedana. Tiga petinggi dan mantan pengurus Yayasan ACT didakwa melakukan tindak pidana penggelapan dana santunan ahli waris korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 2018 senilai Rp 117,98 miliar.

Ahyudin diketahui sebagai President Global Islamic Philantrophy, lembaga kemanusian dan filantropi yang menaungi Yayasan ACT. Ibnu Khajar adalah Senior Vice President Partnership Network Departement. Hariyana diketahui sebagai Senior Vice President Operation.

Ketiga terdakwa itu dijerat dengan sangkaan sama dalam dakwaan, dengan Pasal 374 KUH Pidana subsider Pasal 372 KUH Pidana juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana.

photo
Terdakwa mantan Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin (dalam layar, kiri) saat menjalani sidang perdana secara virtual di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (15/11/2022). - (Republika/Thoudy Badai)

Dalam dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Lusiana disebutkan penggelapan dana tersebut terjadi 2018-2021. Kecelakaan pesawat udara Lion JT 610 yang menggunakan armada Boeing 737 Max 8.  menewaskan 189 penumpang dan kru. Pihak Boeing Company mengalokasikan dana sebesar 25 juta dolar AS atau setara Rp 350 miliar sebagai dana kerahiman.

Penyaluran dana tersebut dilakukan melalui Boeing Community Investment Fund (BCIF) dan penyalurannya melalui organisasi amal atau pihak ketiga yang ditunjuk para ahli waris korban.

Karena dana santunan BCIF tersebut harus menyertakan lembaga pihak ketiga, Yayasan ACT disebutkan aktif melakukan pendampingan terhadap para ahli waris untuk pencarian dana BCIF tersebut.

ACT juga disebut jaksa meminta 189 keluarga korban JT 610 turut memberikan rekomendasi kepada pihak Boeing agar menjadikan yayasan tersebut sebagai lembaga pihak ketiga pengelola dana BCIF. Dalam rekomendasi tersebut, dikatakan dana masing-masing 144,5 ribu dolar untuk 189 ahli waris korban JT 610 akan dikelola untuk pembangunan fasilitas sosial. Dalam rekomendasi tersebut, Yayasan ACT juga sudah menyiapkan 68 fasilitas sosial sebagai penerima manfaat dari dana BCIF.

photo
Ketua Majelis Hakim Hariyadi dan terdakwa mantan Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin (dalam pantulan layar) saat menjalani sidang pembacaan dakwaan yang digelar secara virtual di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (15/11/2022). - (Republika/Thoudy Badai)

Untuk merealisasikan penyaluran dana BCIF tersebut, Yayasan ACT melakukan penawaran terbuka kepada sejumlah badan usaha konstruksi. Dalam dakwaan dikatakan jaksa, penerimaan dana manfaat tersebut tak sesuai dengan proposal Yayasan ACT.

Mengacu dakwaan, rata-rata pembangunan fasilitas pendidikan, hanya terealisasi antara Rp 1,3 sampai Rp 1,5 miliar. Padahal rerata alokasi dananya Rp 2,037 miliar. “Terdakwa Ahyudin, bersama-sama terdakwa Hariyana binti Hermain, dan terdakwa Ibnu Hajar mengetahui penggunaan dana BCIF harus sesuai dengan peruntukkannya sebagai tertulis dalam kesepakatan ahli waris dan pihak BCIF,” kata jaksa.

Dikatakan jaksa dalam dakwaan, juga terungkap dari hasil laporan akuntan independen Agustus 2022, realisasi penerima manfaat Rp 138,5 miliar dana BCIF tersebut hanya sebesar Rp 20,56 miliar. Sedangkan selebihnya Rp 117,98 miliar, disebutkan jaksa digunakan oleh Yayasan ACT, untuk membiayai kegiatan, dan operasional, serta penggajian para pengurus, termasuk karyawannya sendiri. 

Kriminolog Duga Kematian Keluarga di Kalideres Disengaja

Pengamat menduga para korban penganut Apokaliptik.

SELENGKAPNYA

NA Diminta Perluas Peran Kebangsaan dan Keumatan

NA juga mulai percaya diri tampil di ruang publik dan mengisi lembaga-lembaga negara.

SELENGKAPNYA