Pelajar membawa poster Wali Songo saat mengikuti Kirab 1000 Santri Yogyakarta di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Ahad (6/11/2022). Kirab ini diikuti oleh 28 peserta dalam rangka memeriahkan Hari Santri Nasional. Berbagai elemen seperti pelajar, santri pondok | Republika/Wihdan Hidayat

Silaturahim

Beruntung di Indonesia Ada Pondok Pesantren

Pesantren adalah salah satu solusi dalam menyelesaikan masalah bangsa.

OLEH UMAR MUKHTAR

Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal menyampaikan pesan kehidupan tentang keistiqamahan membangun peradaban Islam yang maju pada masa depan melalui pesantren. Ini dia sampaikan saat berpidato dalam konferensi internasional se-Asia Tenggara dan grand launching Universitas Darunnajah pada Senin (7/10).

"Kita beruntung sekali bangsa ini ada pesantren. Tidak sombong, insya Allah, tidak riya, tidak radikal, insya Allah. Kita beruntung di republik ini ada pesantren," kata Kiai Hasan.

Namun, dia mengingatkan, pesantren adalah salah satu solusi dalam menyelesaikan masalah bangsa. Pesantren adalah lembaga pendidikan kehidupan yang di dalamnya tegak tiga pilar agama, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Tiga pilar itu ditanamkan di dalam pesantren untuk disebarkan ke tengah masyarakat.

"Mulai dari kehidupan shalat, zakat, puasa, haji, iman kepada Allah SWT, kepada kitab-Nya, kepada Rasulullah SAW, sampai ihsan. Pesantren tanpa kehidupan ini sama dengan sekolah-sekolah lain yang ada di luar," ujarnya.

photo
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal - (Republika/Iman Firmansyah)

Dalam kesempatan itu, Kiai Hasan menyampaikan, Universitas Darunnajah memiliki tanggung jawab dan diberi amanah untuk menghidupkan tiga pilar agama tersebut secara lahir maupun batin. Pesantren bukan hanya untuk ta'liimul Islam (mendalami Islam), tetapi juga ihyaa ta'liimil Islam (menghidupkan pengajaran Islam).

Para kiai pesantren, lanjut Kiai Hasan, juga harus pandai dan cerdas dalam mengeksplorasi sumber daya santri dan sumber daya yang ada di masyarakat. Tujuannya untuk menumbuhkan jumlah muzaki dan mengikis jumlah mustahik. Eksplorasi terhadap potensi masyarakat harus terus dilakukan hingga generasi berikutnya."Galilah, eksplorasilah sumber dayamu, lahir dan batin. (Dengan) hati, pikiran, dan fisik. Jangan hanya fikih, tetapi juga fikih yang hidup," tuturnya.

Kiai Hasan menuturkan, fikih yang hidup adalah yang mengajarkan tentang zakat dengan tujuan agar santri dapat berusaha untuk memberi zakat. Mengajarkan zakat bukan untuk mengajarkan tentang halal-haramnya saja, tetapi juga bagaimana proses-proses hingga bisa menjadi muzaki.

"Dan kita tidak boleh putus asa. Umur itu pendek. Terlalu pendek. Dunia ini ribuan tahun. Kita dikasih jatah 60-70 tahun, lumayan. Tidak sampai 100 tahun, barangkali. Tetapi, habis itu masih ada ribuan dan jutaan tahun dunia ini, mungkin masih ada," ucapnya.

 
Wah, kita ini ulama, berarti saya tinggi. Tunggu dulu. Kamu mengamalkan fafsahu atau tidak?
KH HASAN ABDULLAH SAHAL Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
 

Kiai Hasan menjelaskan, setiap Muslim harus bersikap terbuka dan mengeksplorasi berbagai pintu. Seorang ulama tidak berarti akan termasuk orang-orang yang diberi kelapangan dan diangkat derajatnya. Sebab, yang diberi kelapangan dan diangkat derajatnya adalah mereka yang mengamalkan fafsahu dan fansyuzu.

"Wah, kita ini ulama, berarti saya tinggi. Tunggu dulu. Kamu mengamalkan fafsahu atau tidak? Atau kita memojok, meminggir, menyingkir, menyalahkan orang lain? Orang yang maju kita jelek-jelekkan. (Padahal) kita tidak bisa maju karena iri dan dengki," ujarnya.

Tanggung jawab membangun peradaban tidak hanya tugas pesantren, tetapi semua pihak, termasuk SD, SMP, SMA, perguruan tinggi lain di luar sana, dan sebagainya. Namun, sayangnya, universitas yang ada selama ini bukan sebagai universitas kehidupan, melainkan sebagai universitas keilmuan.

Bahkan, pesantren sekalipun, sebagai lembaga pendidikan kehidupan, tidak menjamin anak-anak yang nyantri di pesantren akan menjadi baik setelah lulus. Sebab, pesantren hanya mendidik, sedangkan hasilnya belum tentu sesuai dengan apa yang telah diajarkan.

photo
KH Hasan Abdullah Sahal - (Dokpri)

Tragedi Itaewon, Tak Cukup Hanya Bunga

Anak-anak muda Korea Selatan mengkritik pemerintahnya yang tak mengantisipasi Tragedi Itaewon.

SELENGKAPNYA

Menjaga Inflasi tak Meninggi

Masih banyak peluang untuk menjaga inflasi sesuai dengan koridor yang aman.

SELENGKAPNYA

Jaga Tubuh Tetap Sehat

Antisipasi yang dapat dilakukan adalah menyiapkan obat-obatan yang diperlukan untuk pertolongan pertama.

SELENGKAPNYA