Putri Presiden keempat indonesia KH Abdurrahman Wahid, Inayah Wahid, melihat koleksi lukisan Gus Dur di rumah pergerakan Gus Dur saat acara peresmian di Menteng, Jakarta Pusat, Ahad (24/1). | Republika/Raisan Al Farisi

Kitab

Meneladan Kezuhudan Gus Dur

Melalui buku ini, pembaca diajak untuk memandang kezuhudan Gus Dur sebagai seorang sufi.

OLEH MUHYIDDIN

Sekira 12 tahun silam, KH Abdurrahman Wahid berpulang ke rahmatullah. Sosok yang akrab disapa Gus Dur itu tidak hanya mewariskan berbagai keteladanan, semisal semangat kemajemukan dan toleransi di tengah masyarakat Tanah Air. Sang presiden keempat RI juga memiliki legasi dalam bidang pemikiran, termasuk yang berkaitan dengan tasawuf.

Hingga kini, suami dari Sinta Nuriyah tersebut merupakan satu-satunya sosok Nahdlatul Ulama (NU) yang pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini. Ketokohannya pun dikenal di penjuru mancanegara, baik sebelum, ketika, maupun sesudah dirinya duduk sebagai presiden RI. Walaupun begitu populer, ia tidak pernah menanggalkan karakteristik tawadhu, rendah hati, dan terbuka—selayaknya seorang zahid.

Sebuah buku karya KH Husein Muhammad menyajikan biografi ketua umum Pengurus Besar NU 1984-1999 itu dengan cara yang tidak biasa. Sebab, tokoh tersebut dipandang sebagai seorang sufi. Buah pena yang dimaksud berjudul Sang Zahid: Mengarungi Sufisme Gus Dur.

Penulis buku itu adalah seorang sahabat dan sekaligus murid Gus Dur. Lelaki yang biasa dipanggil Buya Husein itu tidak hanya menyaksikan keseharian sang cucu Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Pengasuh Pondok Pesantren Dar at-Tauhid Arjawinangun tersebut juga menyelami pelbagai pemikiran tokoh yang dikaguminya itu, khususnya yang terkait sufisme.

 
Buya Husein mengungkapkan, dirinya ingin menghubungkan sufisme Gus Dur dengan para sufi besar lain yang melegenda hingga kini.
 
 

Dalam kalam pembuka, Buya Husein mengungkapkan, dirinya ingin menghubungkan sufisme Gus Dur dengan para sufi besar lain yang melegenda hingga kini. Beberapa di antara mereka adalah Abu Yazid al-Bisthami, al-Hallaj, Imam al-Ghazali, Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, dan lbnu Athaillah as-Sakandari. Sebab, lanjutnya, ada keterkaitan pemikiran antara ulama Nahdliyin itu dan para salik dari masa silam.

Pembahasan diawali dengan gagasan Gus Dur tentang kemanusiaan. Menurut Buya Husein, Gus Dur memandang penting nilai-nilai kemanusiaan. Humanismenya diwujudkan dalam sikap dan praksis yang empatis. Ikhtiarnya ditujukan bukan pada kelompok tertentu atau dirinya seorang, melainkan manusia pada umumnya.

Karena itu, sambung Buya Husein, Gus Dur di sepanjang hayat bekerja keras dalam menerjemahkan prinsip-prinsip kemanusiaan, baik melalui tulisan-tulisan, ceramah, maupun dalam sikap hidupnya sehari-hari. Itu dilakukannya di mana pun dan kapan pun. Dalam banyak kesempatan, bapak empat anak itu selalu menyatakan, setiap insan—apa pun latar belakangnya—hak-hak dasarnya wajib dilindungi.

Sang Zahid ditulis dalam rangka memperingati seribu hari wafatnya Gus Dur. Karena itu, dalam bagian pembuka Buya Husein pun menuturkan kesaksiannya mengenai detik-detik berpulangnya sang kiai pada 30 Desember 2009 lalu. Menurutnya, itulah salah satu momen yang tak terlupakan dalam hidup.

Secara ragawi, Gus Dur telah tiada. Namun, legasi dan nama baiknya akan selalu membersamai Muslimin serta siapa pun yang menghendaki pengutamaan kemanusiaan. “Gus Dur tak banyak bicara soal wacana pluralisme berikut dalil-dalil teologisnya, tetapi mengamalkan, mempraktikkan, dan memberi mereka contoh atasnya” (halaman 51).

photo
Dalam buku ini, KH Husein Muhammad menampilkan sosok Gus Dur sebagai seorang pelaku tasawuf yang zuhud. - (DOK PRI)

Cermin kehidupan

Dalam buku ini, salah satu dimensi keteladanan Gus Dur yang disorot adalah kezuhudan. Sikap itu mencerminkan pola hidup yang sederhana, tidak mementingkan segala pernak-pernik duniawi dengan tetap berpijak pada realitas. Maka, seorang zahid bukanlah petapa atau rahib yang menyingkir dari dinamika dunia.

Buya Husein memandang, karakteristik zuhud terbaca dalam laku keseharian Gus Dur. Ia menuturkan kesaksian. Saat berada di rumah, putra pahlawan nasional KH Abdul Wahid Hasyim itu sering kali hanya mengenakan kaus dan celana sebatas bawah lutut. Pakaian tersebut pun hanya berbahan kain biasa, bukan sesuatu yang mahal harganya.

 
Penampilan itu mengisyaratkan watak Gus Dur yang tidak berbeda dari kebanyakan sufi besar.
 
 

Penampilan itu mengisyaratkan watak Gus Dur yang tidak berbeda dari kebanyakan sufi besar. Yakni, selalu mengutamakan jiwa, bukan raga. Tubuh mengikuti jiwa. Bukan sebaliknya. Tanpa jiwa, wadak hanyalah benda yang tak berguna. Seorang sufi berkata, “Khudz al lubb in kunta min uli al-albab.” Ambil-lah saripati jika engkau seorang cendekia (halaman 70).

Tidak hanya soal pakaian, penulis buku tersebut juga menceritakan berbagai kebiasaan Gus Dur di luar rumah. Tidak pernah tokoh Nahdliyin itu memusingkan perkara uang. Bukan karena hendak bermewah-mewahan. Justru sebaliknya. Kedermawanan lebih lekat pada pembawaannya.

Buya Husein menuturkan, Gus Dur sering kali tidak memiliki uang. Kalaupun ada, setiap uang yang dipegangnya kemudian dibagikan kepada orang lain atau pihak yang memerlukannya. Sebuah kisah, misalnya, seperti dituturkan Prof Mahfud MD.

Ketika Gus Dur berkuasa, ahli hukum tersebut duduk menjadi pembantunya sebagai menteri pertahanan. Mahfud menceritakan, gaji Gus Dur sebagai presiden RI sering diberikan kepada orang-orang yang dipandang membutuhkan meskipun mereka tidak meminta. Pernah suatu ketika, Gus Dur memberikan sebagian gajinya kepada salah satu menterinya, yakni Alwi Shihab.

“Gus Dur adalah seorang zahid, seorang darwis. Di manapun juga sering tak punya uang. Sebab, memiliki uang atau harta benda bisa akan dan sering mengganggu pikiran dan jiwa, melalaikan dari tugas mengabdi dan mengingat Tuhan,” tulis Buya Husein.

 
Gus Dur adalah seorang zahid, seorang darwis. Di manapun juga sering tak punya uang.
 
 

Walaupun menjadi orang nomor satu di republik ini, Gus Dur tetaplah memandang dirinya sebagai santri. Ia sangat menyukai sowan kepada alim ulama. Dalam perjalanan ke kediaman setiap ahli ilmu, tidak pernah dirinya menyertakan iring-iringan pengawal, yang lengkap dengan vooridjer dan sirine nan bising.

Misalnya saat silaturahim ke rumah Mbah Abdullah Salam Kajen. Dengan hanya ditemani beberapa orang, Gus Dur bertamu ke sana. Bahkan, sang presiden nyelonong lewat halaman belakang, sembari menyibak baju-baju yang tergantung di kawat jemuran para santri.

Kisah lain diutarakan Romo Franz Magnis-Suseno. Pemuka Nasrani itu pernah terkejut ketika mendapati tumpukan kardus mi instan yang berisi pakaian terikat tali rafia. Benda itu teronggok di salah satu sudut kamar Istana Negara.

“Itu pakaian punya siapa, kok ditumpuk begitu?” tanya Romo kepada staf presiden.

“Itu baju-baju Bapak Presiden (Gus Dur) untuk kunjungan kenegaraan beliau ke Tiongkok,” jawab seorang petugas.

“Ini mau kunjungan resmi kenegaraan atau mudik Lebaran?” barang kali begitu pikiran salah seorang sahabat Gus Dur itu.

Membaca buku Sang Zahid karya Buya Husein berarti membawa kita pada cermin kehidupan seorang tokoh yang sifat-sifatnya amat langka di Indonesia hari-hari ini. Seorang teladan yang mengutamakan isi daripada bentuk. Seorang negarawan yang sejatinya adalah sufi.

DATA BUKU

Judul: Sang Zahid: Mengarungi Sufisme Gus Dur

Penulis: KH Husein Muhammad

Penerbit: :LKiS Yogyakarta

Tebal: 164 halaman

Resesi, Bisa Ya, Bisa Tidak

Pandangan dunia saat ini datar, membuat ekonom pesimistis.

SELENGKAPNYA

Ayah Wajib Paham Parenting

Ayah juga wajib mengajarkan keluarganya bagaimana hidup dalam koridor syariat.

SELENGKAPNYA