Pekerja mencoba jaringan 5G di XL Center Medan, Sumatra Utara, Rabu (8/9/2021). PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) memperkenalkan sekaligus sosialisasi ketersediaan jaringan 5G di Medan sebagai salah satu tahapan persiapan untuk menggelar 5G secara komersial da | ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/Lmo/rwa.

Inovasi

Teknologi di Garis Terdepan Perubahan

Layanan video menjadi pendorong utama adopsi 5G, sekaligus mendongkrak konsumsi data.

Di Indonesia, meski telah dirilis secara komersial satu setengah tahun lalu, penggunaan jaringan 5G terbilang masih minim. Tapi, penggunaanya dalam skala global ternyata terus mengalami pertumbuhan.

Sampai dengan Oktober 2022, lebih dari 230 operator telekomunikasi di seluruh dunia telah meluncurkan layanan 5G komersial. Totalnya, lebih dari tiga juta base station 5G kini telah terpasang untuk melayani lebih dari 700 juta pelanggan.

Data ini diungkap dalam Huawei Global Mobile Broadband Forum (MBBF) yang digelar di Bangkok, Thailand pada Rabu (26/10). Rotating Chairman Huawei, Ken Hu mengatakan, 5G telah tumbuh lebih cepat daripada teknologi seluler generasi sebelumnya.

"Dalam waktu hanya tiga tahun, kita telah melihat kemajuan yang solid dalam hal penyebaran jaringan, layanan konsumen, dan aplikasi dalam industri. Oleh karena itu, kami menilai saat ini jaringan 5G tengah melaju di jalur cepat," kata Ken.

Akan tetapi, ia menilai banyak hal lain yang perlu dilakukan untuk memaksimalkan nilainya. Menurut Ken, seluruh pemegang kepentingan kini perlu bekerja sama untuk sepenuhnya mengoptimalkan potensi jaringan 5G, termasuk memperluas dampaknya dalam bentuk layanan seperti cloud dan integrasi sistem.

Di sektor telekomunikasi sendiri, layanan pelanggan masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi bisnis operator telekomunikasi atau pengelola jaringan. Seiring peningkatan penetrasi 5G, makin banyak orang yang merasakan pengalaman broadband yang lebih mengesankan.

Tren ini kemudian mendorong pergeseran dalam perilaku konsumen, salah satunya adalah lonjakan trafik video high definition (HD). Rata-rata konsumsi data pengguna pun terdongkrak menjadi dua kali lipat, sementara rata-rata pendapatan per pengguna atau average revenue per user (ARPU) juga sebesar 20 persen hingga 40 persen.

Pada saat yang sama, aplikasi 5G dalam penunjang bisnis juga ikut berkembang menjadi pendorong pendapatan baru bagi operator telekomunikasi. Sebagai gambaran, pada 2021, salah satu operator telekomunikasi di Cina berhasil meraup lebih dari 500 juta dolar Amerika Serikat (AS) pendapatan baru yang dihasilkan dari lebih dari 3.000 proyek 5G industrial.

Tak heran, aplikasi 5G dalam business to business (B2B) digadang-gadang akan menjadi alur pendapatan dengan pertumbuhan tercepat bagi operator telekomunikasi. "Untuk dapat menangkap semua peluang ini, ada sejumlah hal yang perlu kita lakukan," ujar Ken.

Pertama, kata dia, pelaku industri telekomunikasi perlu membangun jaringan untuk menciptakan pengalaman pengguna yang lebih baik. Sebagai contoh, operator telekomunikasi di Cina telah mengoptimalkan jaringan untuk Tiktok dan layanan video populer lainnya.

Teknologi 5,5 G

Untuk mendorong 5G ke tingkat yang lebih tinggi, Huawei pun bekerja sama dengan para operator telekomunikasi dan mitra industri dan menawarkan empat fitur untuk 5,5G. Di antaranya, kecepatan downlink 10 Gbps, kecepatan uplink 1 Gbps, dukungan untuk 100 miliar koneksi, dan native intelligence atau kecerdasan asli.

Selain itu, Huawei juga terus mendorong inovasi layanan guna memaksimalkan nilai 5G. Mengingat, dengan bandwidth lebar dan latensi rendah, 5G dapat diintegrasikan dengan cloud dan kecerdasan buatan untuk menyediakan layanan yang benar-benar baru bagi konsumen maupun dunia usaha.

Chief Technology Officer (CTO) XL Axiata Indonesia, I Gede Darmayusa mengakui, hingga saat ini penetrasi 5G di Indonesia memang masih sangat minim. Menurutnya, saat ini, penetrasi 5G di Indonesia masih berada pada level 2,5 persen.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by XL Axiata Business Solutions (@xlbusinesssolutions)

Jumlah ini, beda jauh jika dibandingkan dengan penetrasi di sejumlah negara lain seperti Thailand, Korea Selatan dan Cina yang berada pada level 13,5 persen hingga 34 persen. "Diperkirakan, pengguna 5G di Indonesia akan mulai mengalami pertumbuhan pesat pada 2025. Hal ini terutama akan didorong oleh kebutuhan akan layanan video yang terus meningkat," kata Gede.

Bagi XL Axiata, saat ini layanan jaringan untuk kebutuhan video telah mencapai 70 persen dari total kebutuhan layanan. Gede mengungkapkan, dua platform video yang paling banyak diakses saat ini oleh pelanggan adalah TikTok dan YouTube.

Gede mengungkapkan, layanan 5G juga akan sangat dibutuhkan oleh penerapan Internet of Things (IoT). "Kebutuhan jaringan dalam IoT akan terus mengalami peningkatan karena yang nantinya jaringan tak hanya digunakan untuk menghubungkan antarmanusia. Tapi, juga menghubungkan beragam perangkat," ujarnya.

Saat ini, XL juga tengah membahas kerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menghubungkan lebih banyak lagi CCTV di berbagai penjuru kota. Sehingga, pemerintah provinsi akan lebih mudah melakukan pengawasan di berbagai lokasi melalui ribuan kamera yang ditunjang jaringan yang representatif.

 

 

 

Aplikasi 5G dalam business to business (B2B) digadang-gadang akan menjadi alur pendapatan dengan pertumbuhan tercepat. 

KEN HU, Rotating Chairman Huawei
 

 

Menyambut Calon Jawara FFI 2022

Film yang tayang di layanan OTT dan film festival juga menjadi nominasi FFI 2022

SELENGKAPNYA

Panggung Penuh Emosional Jay B

Jay B berterima kasih selama 10 tahun ini penggemarnya selalu setia mendengarkan karya GOT7

SELENGKAPNYA

Sendunya Malam Bersama Calum Scott

Dia menceritakan makna terdalam dari lirik yang sebagian besar terinspirasi orang-orang terdekatnya

SELENGKAPNYA