Media sosial (ilustrasi) | Unsplash/Adem Ay

Opini

Awanama dan Pembelahan Bangsa

Terlalu mahal ongkos rehabilitasinya jika pembelahan bangsa ini kita biarkan terus terjadi.

AGUNG FATWANTO; Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Philip Zimbardo, pakar psikologi dari Universitas Stanford, pada 1969 pernah melakukan sebuah eksperimen sosial yang cukup unik. Dalam eksperimen tersebut, dia merekrut sejumlah perempuan kemudian membaginya menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama, diminta untuk mengenakan tanda nama (name tag) pada pakaian yang dikenakannya. Sedangkan kelompok kedua diminta mengenakan jubah bertudung, semacam kostum Ku Klux Klan sehingga agak menutup bagian wajah.

Para partisipan selanjutnya diajak memasuki sebuah ruangan, yang di dalamnya ada sekelompok orang yang di-setting sedang mengerjakan tugas, dan diminta memberi sengatan listrik pada orang yang dinyatakan salah dalam mengerjakan tugas.

Lalu apa yang terjadi? Ternyata, partisipan dari kelompok kedua melakukan sengatan dengan durasi dua kali lebih lama dibandingkan partisipan dari kelompok pertama.

 

 
Penelitian Philip Zimbardo tersebut merupakan salah satu penelitian awal yang mencoba menyelidiki kaitan antara awanama (anonymity) dan perilaku kasar (abusive).
 
 

Penelitian Philip Zimbardo tersebut merupakan salah satu penelitian awal yang mencoba menyelidiki kaitan antara awanama (anonymity) dan perilaku kasar (abusive). Hasil penelitian itu sejalan dengan temuan penelitian P Ellison-Potter, seorang psikolog dari sebuah lembaga transportasi di Amerika.

Melalui eksperimen simulasi berkendara, dia menemukan, para pengemudi yang berada di dalam mobil dengan kaca gelap cenderung menyetir secara lebih agresif dibandingkan mereka yang mengendarai mobil dengan kaca transparan atau mobil bak terbuka, yang wajahnya bisa terlihat oleh orang lain.

Beberapa penelitian sejenis berikutnya, juga berhasil menguak bukti empiris lain, memang ada kecenderungan manusia untuk bertindak kasar, menyerang, serta melawan tatanan dan hukum saat identitas dan wajah mereka tersembunyi.

Polarisasi ruang virtual

Hampir satu dekade, kita menyaksikan adanya pertarungan narasi sosial-politik yang sangat sengit di ruang-ruang interaksi virtual kehidupan, baik melalui media sosial, komunitas perpesanan instan semacam grup WA, maupun kolom komentar pada kanal berita daring.

 

 
Sesungguhnya, pertarungan narasi yang substantif dan bermartabat sangat diperlukan guna meningkatkan nalar kritis dan kecerdasan masyarakat.
 
 

 

Sesungguhnya, pertarungan narasi yang substantif dan bermartabat sangat diperlukan guna meningkatkan nalar kritis dan kecerdasan masyarakat. Diskursus yang kondusif akan mengarah pada kemunculan tesis dan antitesis, yang untuk selanjutnya menghasilkan sintesis.

Sayangnya, realitas berkata lain. Yang terjadi adalah perkelahian debat kusir tak berkesudahan dari para pihak untuk memaksakan pendapatnya. Serangan kasar, pelecehan, dan penistaan kepada pihak lawan seolah telah menjadi norma.

Tingkat keadaban digital kita yang sangat rendah, merujuk pada digital civility index, mengonfirmasi keadaan tersebut. Tak heran jika cebong, kampret, dan kadrun (kadal gurun) akhirnya menjadi “the national idiom of the decade”.

Meskipun dua kontestan Pemilihan Presiden 2019 telah bergabung dalam satu biduk pemerintahan, nyatanya polarisasi masih terus berlanjut. Ujungnya seakan masih jauh dari usai.

Menjelang pemilu serentak 2024, kondisi ini seakan kembali menemukan momentum kebangkitannya. Indikasinya sudah mulai terasa, seiring dengan adanya pemanasan mesin partai-partai politik untuk menghadapi Pemilu 2024.

Katalisator polarisasi

Ruang-ruang interaksi virtual kita beberapa tahun belakangan ini, telah menjelma menjadi ladang persemaian bibit pembelahan bangsa. Kondisi ini setidaknya dipupuk oleh tiga faktor.

 

 
Menjelang pemilu serentak 2024, kondisi ini seakan kembali menemukan momentum kebangkitannya.
 
 

 

Pertama, nyaris semua aplikasi interaksi virtual mainstream memberikan kesempatan penggunanya untuk berpartisipasi secara awanama. Akibatnya, terjadi ledakan penggunaan akun niridentitas, sebagian di antaranya banyak yang merupakan akun robot.

Merekalah yang sering berlaku agresif, ofensif, dan kasar. Perilaku ini mudah tereskalasi sebab situasi awanama memungkinkan pelakunya merasa bisa bersembunyi dari tanggung jawab.

Kondisi tersebut selaras dengan hasil temuan Philip Zimbardo dan P Ellison-Porter tadi, juga temuan Leon Mann tentang perilaku manusia dalam kerumunan serta temuan Hirsch dkk tentang perangai alami manusia dalam setting kondisi awanama.

Penelitian Christopher Bartlett yang dilaksanakan secara khusus dalam setting ruang virtual juga mengonfirmasi, pemilik akun awanama cenderung melakukan cyberbullying. Mereka bahkan menganggap tindakan tersebut positif saat aksi perisakan dilakukan terhadap pihak yang dinilai layak untuk dirisak.

 
Penelitian Christopher Bartlett yang dilaksanakan secara khusus dalam setting ruang virtual juga mengonfirmasi, pemilik akun awanama cenderung melakukan cyberbullying.
 
 

Kedua, adanya contoh buruk. Dalam berbagai ruang interaksi virtual yang bersifat publik, para influencer yang kadang mengaku sebagai pegiat media sosial padahal mungkin merupakan buzzer (pendengung) profesional, sering menginisiasi konflik nirfaedah dengan tujuan menebar kedengkian dan hasutan.

Mirisnya, opini mereka yang tergolong merusak kerap disebarluaskan oleh pengikutnya.

Perilaku agresif mereka sering dijadikan rujukan. Virus kedengkian dan hasutan akhirnya menular. Pengikut yang tertular, kadang bahkan bisa bertindak lebih ekstrem sehingga menyebabkan terjadinya eskalasi kebencian.

Fenomena semacam ini, sejalan dengan hasil penelitian Adam Zimmerman dan Gabriel Ybarra tentang teori social modeling. Mereka menemukan, dalam setting ruang virtual, para partisipan awanama yang pernah menyaksikan contoh buruk akan bertindak lebih agresif dibandingkan mereka yang tidak pernah menyaksikannya.

Ketiga, norma komunitas yang dekaden. Pembelahan dalam ruang virtual menjadi makin sempurna ketika komunitas di dalamnya memiliki norma sosial yang divisive.

 
Ketiga, norma komunitas yang dekaden. Pembelahan dalam ruang virtual menjadi makin sempurna ketika komunitas di dalamnya memiliki norma sosial yang divisive.
 
 

Hasil penelitian Tom Postmes dkk menunjukkan, identitas sosial kelompok ikut membentuk perilaku seseorang melalui norma spesifik komunitas tersebut. Kelompok keras cenderung membentuk perilaku kekerasan.

Kelompok kompromistis, cenderung membentuk perilaku kompromis. Berdasarkan teori social proof, manusia akan menjadikan perilaku orang lain sebagai referensi tindakannya.

Kondisi ini sejalan dengan fenomena bandwagon effect, yakni manusia cenderung mengadopsi sikap dan perilaku jika dianggapnya orang lain melakukan hal yang sama.

Dalam komunitas dengan norma sosial yang divisive, echo chamber effect atau kondisi ketika kelompok yang berpandangan sama akan saling memperkuat opini dan narasi yang mereka sepakati, akan menyebabkan bias konfirmasi sehingga memperkuat polarisasi.

Akhirnya, bagi anggota komunitas tersebut, tidak ada kebenaran di luar kelompoknya. Kondisi inilah yang terus disemai, dipupuk, dan dirawat oleh para cukong politik dengan memelihara pendengung dan peternak akun bot.

Pelarangan penggunaan akun awanama dalam komunikasi di ranah publik, boleh jadi merupakan cara teknis yang efektif untuk menekan polarisasi. Akan terlalu mahal ongkos rehabilitasinya jika pembelahan bangsa ini kita biarkan terus terjadi.

Sumpah Pemuda Arab

Tampilnya Partai Arab Indonesia (PAI) pimpinan AR Baswedan cukup mengejutkan.

SELENGKAPNYA

SM Amin, Gubernur Pembakar Semangat Pemuda

Bakat kepemimpinannya terasah sejak usia belia.

SELENGKAPNYA

PM Palestina Harap Indonesia Suarakan Dukungan di G-20

Shtayyeh menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan bangsa Indonesia yang selalu mendukung Palestina.

SELENGKAPNYA