Indian Muslims offer prayers on the occasion of Eid al-Adha at nearly deserted Jama Masjid Mosque as it remained closed for the public due to Covid-19 restrictions in the Old quarters of Delhi, India, 21 July 2021. Eid al-Adha is the holiest of the two M | EPA-EFE/RAJAT GUPTA

Sirah

Pemuda Zaid, Anak SD yang Jadi Sekretaris Rasulullah

Keluarganya termasuk kelompok awal penduduk Madinah yang menerima Islam

Orangnya masih belia, seumur anak-anak SD sekarang. Tetapi, Allah ternyata memberikan keistimewaan kepadanya. Ia memiliki kecerdasan dan ketajaman berpikir yang luar biasa. Semangat pantang menyerah dan semangat berkorban di jalan Islam tak diragukan lagi lekat kepadanya.

Rasulullah memberikan penilaian khusus dan karenanya termasuk di antara sahabat yang paling disayang Nabi SAW. Siapakah dia?

Tak bukan dan tak lain ia adalah Zaid bin Tsabit. Dilahirkan pada tahun 10 sebelum Hijrah atau 10 tahun lebih muda dari Ali bin Abi Thalib, Zaid dan keluarganya berasal dari kabilah Bani An-Najjar. Keluarganya termasuk kelompok awal penduduk Madinah yang menerima Islam. Di bawah bimbingan dan pendidikan orang tuanya, Zaid tumbuh menjadi seorang pemuda cilik yang cerdas dan berwawasan luas.

Suatu ketika, Zaid kecil ditolak Rasulullah bergabung dalam keprajuritan karena usianya yang masih belia. Meskipun kecewa, ia tak lantas putus asa. Untuk mengobati kekecewaannya itu, Zaid mencari aktivitas lain yang lebih bermanfaat. Jalan itu ia temukan, yakni menghafal dan memperdalam Alquran.

photo
Sejumlah warga lanjut usia (lansia) membaca Alquran saat mengikuti Pesantren Ramadhan Lansia di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Rabu (6/4/2022). Pesantren kilat yang digelar oleh Majelis Taklim Pusdai Jawa Barat itu diikuti oleh puluhan lansia untuk mengisi waktu selama Ramadhan dengan belajar mengaji dan wawasan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Foto: Republika/Abdan Syakura - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Kebetulan, Zaid kecil memang diberi anugerah kelebihan dan ketajaman berpikir. Aktivitasnya ini ia utarakan kepada sang ibu, Nuwair binti Malik. Dengan senang hati, sang ibu pun mendukung penuh.

Melalui Nuwair, famili yang lain diberitahu perihal kegiatan anaknya itu. Mereka pun setuju. Kepada Rasulullah, mereka mengatakan, "Wahai Rasulullah, ini anak kami. Dia hafal 17 surah Alquran. Bacaannya betul, sesuai yang diturunkan Allah kepada Anda. Selain itu, dia pandai pula membaca dan menulis Arab. Tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin berbakti kepada Anda dengan keterampilan yang dia miliki, dan ingin pula mendampingi Anda selalu. Jika Anda menghendaki silakan dengarkan bacaannya."

Rasulullah pun langsung mendengarkan bacaannya. Benar, ternyata bacaan Zaid sangat bagus dan fasih. Rasulullah gembira lantaran apa yang diucapkan dan didengarnya langsung dari Zaid melebihi dari apa yang dikatakan familinya tersebut.

"Jika engkau mau selalu dekat denganku, pelajarilah baca tulis bahasa Ibrani. Saya tidak percaya kepada orang Yahudi yang menguasai bahasa tersebut, bila mereka saya diktekan sebagai sekretaris saya," kata Rasulullah.

 

 

Jika engkau mau selalu dekat denganku, pelajarilah baca tulis bahasa Ibrani. Saya tidak percaya kepada orang Yahudi yang menguasai bahasa tersebut,

 

HADIS
 

 

Anak kecil itu pun menyanggupi tawaran Nabi SAW. Dalam waktu sekejap, bahasa Ibrani ia kuasai. Sejak saat itu, Zaid tampil menjadi sekretaris Nabi SAW sekaligus salah satu pencatat wahyu yang diterima Rasulullah. Bila wahyu turun, sebagaimana dikutip dalam buku 101 Sahabat Nabi, Rasul memanggil Zaid, lalu dibacakan kepadanya dan Zaid disuruh menulis.

Zaid menulis ayat-ayat Alquran langsung dari diktean Rasulullah secara bertahap sesuai urut diturunkannya ayat tersebut. Karena itulah, Zaid bukan saja dikenal sebagai penerjemah dan pencatat wahyu Rasul. Ia juga dikenal di kalangan para sahabat sebagai tempat umat Islam bertanya ihwal Alquran sesudah Rasulullah wafat.

Selain pada masa Abu Bakar, Zaid juga menjadi ketua kelompok penghimpun Alquran masa kekhalifahan ketiga, Utsman bin Affan. Khalifah Umar bin Khaththab pun mengakui Zaid sebagai tempat rujukan para sahabat tentang Alquran.

Dalam satu kesempatan, Umar berkata, "Hai manusia, siapa yang ingin bertanya tentang Alquran, datanglah kepada Zaid bin Tsabit. Siapa yang hendak bertanya tentang fikih, temuilah Muadz bin Jabal. Dan siapa yang hendak bertanya soal harta kekayaan, datanglah kepada saya. Sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan saya penguasa, Allah jualah yang memberinya."

photo
Detail kitab suci Alquran yang ditulis dengan tangan tersimpan di ruang koleksi museum sejarah perkembangan agama Islam di Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (6/4/2022). Kitab suci Alquran tersebut digunakan pada tahun 1501 saat Kerajaan Muna dipimpin Raja Sugimanuru. - (ANTARA FOTO/Jojon/aww.)

Berkah keberadaan Zaid tak terbatas pada posisinya sebagai rujukan Alquran. Ia pun sebagai sumber solusi suatu persoalan. Misalnya, suatu ketika umat Islam di Madinah berbeda pendapat ihwal siapa khalifah pengganti Rasulullah.

Kaum Muhajirin (pendatang dari Makkah) berkata, "Pihak kami lebih berhak menjadi khalifah." Sementara kaum Anshar (warga asli Madinah) berkata, "Pihak kami dan kalian sama-sama berhak. Kalau Rasulullah mengangkat seseorang dari kalian untuk suatu urusan, maka beliau mengangkat pula seorang dari pihak kami untuk menyertainya."

Perbedaan pendapat hampir saja memicu konflik fisik. Padahal jenazah Rasulullah masih terbaring.

Di tengah meruncingnya masalah itulah, Zaid muncul dan berkata kepada kaumnya, orang-orang Anshar, "Wahai kaum Anshar, sesungguhnya Rasulullah SAW adalah orang Muhajirin. Karena itu, sepantasnyalah penggantinya orang Muhajirin pula. Kita adalah pembantu-pembantu (Anshar) Rasulullah. Maka sepantasnyalah pula kita menjadi pembantu bagi pengganti (khalifah)-nya, sesudah beliau wafat, dan memperkuat kedudukan khalifah dalam menegakkan agama."

Setelah mengatakan hal itu, Zaid bin Tsabit mengulurkan tangannya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, seraya berkata, "Inilah Khalifah kalian. Baiatlah kalian dengannya!"

 

 

Wahai kaum Anshar, sesungguhnya Rasulullah SAW adalah orang Muhajirin. Karena itu, sepantasnyalah penggantinya orang Muhajirin pula. 

 

ZAID BIN TSABIT
 

 

UII dan Perjuangan Pemuda Islam Melawan Penjajah

Untuk menjadi mahasiswa STI dilakukan seleksi yang ketat, baik tulisan maupun lisan.

SELENGKAPNYA

Jaringan Penyulut Api Perlawanan Kolonial

Eksistensi jaringan ulama Indonesia tak bisa dinafikan dalam sejarah Indonesia modern.

SELENGKAPNYA

Aplikasi Sijas Berdasi Siap Antar Jemput Sampah Warga

Produksi sampah warga Ibu Kota rata-rata 7.800 ton per hari

SELENGKAPNYA