Warga dan calon penumpang kereta api jarak jauh menunggu vaksinasi merah putih di Stasiun Yogyakarta, Rabu (31/8/2022). | Republika/Wihdan Hidayat

Kisah Dalam Negeri

01 Oct 2022, 03:55 WIB

‘Saya Ikhlas Hanya Menemui Ibu di Makam’

Rata-rata masyarakat yang datang untuk menjalani vaksinasi Covid-19 memang memiliki keperluan tersendiri.

OLEH FEBRIAN FACHRI, MURSALIN YASLAND

Rianus (57 tahun) sangat terpukul tak bisa melihat ibunya untuk yang terakhir kali. Ia baru tiba di Bukittinggi, Sumatra Barat (Sumbar), dua hari setelah mendapat kabar sang ibu wafat. Ketika almarhumah dimakamkan pekan lalu, Rianus masih di perjalanan menggunakan bus dari Jepara, Jawa Tengah.

Tak ada pilihan baginya saat itu. Ia sebenarnya ingin cepat tiba di kampung halaman dan berkesempatan ikut memakamkan ibunya. Namun, Rianus tak bisa naik pesawat terbang karena terganjal syarat booster atau telah menerima vaksin Covid-19. Dia mengaku belum menerima dosis ketiga.

Rianus mengaku bukan tak mau untuk booster. Tetapi ia baru mendapatkan vaksin dosis kedua sebulan lalu sehingga belum waktunya menerima vaksin Covid-19 dosis ketiga. Mau tak mau, bus satu-satunya menjadi pilihan bagi Rianus yang berdomisili di Jepara untuk pulang ke Bukittinggi. 

“Saya sudah pasrah tak dapat lagi bertemu ibu saya karena pulang naik bus. Dalam keadaan mepet dan saya memang belum bisa mendapatkan booster. Saya harus ikhlas hanya dapat menemui ibu saya ke makamnya,” kata Rianus kepada Republika, Jumat (30/9).

Hal serupa juga dialami Harlen (60), warga asal Kecamatan Sungayang, Tanah Datar, Sumbar. Harlen bulan lalu berencana pergi ke Jakarta naik pesawat untuk mengunjungi anaknya yang sedang sakit. Ia sudah mengantongi tiket pesawat yang dipesankan anaknya. Namun, ia gagal karena belum booster.

“Terpaksa tiket pesawat saya hangus, karena sudah tidak sempat lagi cari vaksin booster. Dulu pemerintah bilang kalau sudah vaksin kedua bisa terbang. Bahkan, naik haji pun cukup dengan vaksin kedua,” kata Harlen.

Demi menengok anak yang sedang sakit di Jakarta, Harlen terpaksa memesan tiket bus dari Kota Batusangkar. Ia mengaku lelah harus menempuh perjalanan selama 30 jam karena faktor usia. “Kami harap pemerintah mengubah lagi aturannya. Tidak usah lagi kami disusahkan dengan aturan-aturan baru,” ujar dia.

Elin (52), tiba-tiba urung ke Palembang naik kereta api dari Stasiun Tanjungkarang, Bandar Lampung, pada Senin (26/9) lalu. Penyebabnya, persyaratan perjalanan menggunakan moda kereta api yang diwajibkan telah menerima vaksinasi dosis ketiga atau booster belum ia lakukan.

Akibat aturan harus booster, Elin terpaksa harus naik bus. Padahal, ia bermaksud menggunakan moda kereta api kelas ekonomi dari Stasiun Tanjungkarang menuju Stasiun Kertapati, Palembang, untuk menghemat biaya. Biaya perjalanan sepanjang 382 kilometer (km) itu hanya Rp 32 ribu per penumpang.

“Tapi, apa boleh buat, saya harus naik bus ke Palembang dengan ongkos Rp 250 ribu,” kata Elin, warga Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, kepada Republika.

photo
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga di Mal Qbig, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten, Ahad, (18/9/2022). - (ANTARA FOTO/Fauzan)

Tedi (30), salah seorang warga yang melaksanakan vaksinasi booster di Asia Plaza, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mengaku sengaja ke pusat perbelanjaan itu lantaran stok vaksin di puskesmas yang telah didatanginya sudah kosong. Beruntung, Dinkes Kota Tasikmalaya masih menggelar vaksinasi di pusat perbelanjaan itu. “Ini buat lamar kerja, karena sekarang syaratnya harus booster. Untung di sini masih ada. Saya dua hari terakhir nyari, baru dapat sekarang,” ujar dia.

Melaksanakan untuk memenuhi syarat melamar pekerjaan bukanlah satu-satunya alasan warga menjalani vaksinasi di pusat perbelanjaan itu. Sebagian warga lainnya juga ada yang menjalani vaksinasi booster untuk berpergian. Herlin (48) mengaku sengaja datang ke Asia Plaza lantaran dalam waktu dekat akan berpergian ke Bandung menggunakan kereta api. Pasalnya, saat ini vaksinasi booster telah menjadi prasyarat yang harus dipenuhi untuk berpergian menggunakan kereta api jarak jauh.

Vaksinator Dinkes Kota Tasikmalaya, Nurul Nurnita, mengatakan, rata-rata masyarakat yang datang untuk menjalani vaksinasi Covid-19 memang memiliki keperluan tersendiri, seperti untuk melamar pekerjaan atau berpergian. Namun, saat ini stok vaksin di gudang Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya disebut sudah kosong. Menurut Nurul, vaksin yang dibawanya untuk memberikan pelayanan di Asia Plaza pada Jumat (30/9) merupakan stok terakhir.

“Sementara stok di gudang sudah habis. Di puskesmas juga sama. Makanya tadi ada beberapa kiriman dari beberapa puskesmas, soalnya sayang kalau satu vial dibuka untuk satu orang doang. Jadi diarahkan ke sini (vaksinnya),” kata dia.

photo
Warga mengikuti vaksinasi Covid-19 booster di Klinik Mediska Yogyakarta, Jumat (16/9/2022). - (Republika/Wihdan Hidayat)

Nurul mengatakan, stok vaksin terakhir didistribusikan dari Pemprov Jabar pada sekitar satu bulan lalu. Namun, hingga kini belum ada kepastian terkait distribusi selanjutnya. Ia berharap, stok vaksin dari Pemprov Jabar dapat didistribusikan pada Sabtu atau Ahad. 

Kepala Dinkes Kota Tasikmalaya, Uus Supangat, mengatakan, stok kosong vaksin di gudang mereka itu bukan berarti tidak ada sama sekali. Menurut dia, pihaknya terus berkonsultasi dengan provinsi dan Kementerian Kesehatan terkait ketersediaan vaksin. “Mudah-mudahan bisa tetap memberikan pelayanan,” kata dia.

Kekosongan stok vaksin Covid-19 juga terjadi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sub Koordinator Seksi Surveilans dan Imunisasi, Dinas Kesehatan Banyumas, Achmad Chairul Hamdi mengungkapkan, sebulan yang lalu Banyumas mendapatkan sebanyak 15 ribu dosis vaksin Covid-19 yang telah habis dalam waktu sebulan terakhir.

“Sekitar Rabu (28/9) terakhir vaksin langsung kosong. Kami sudah mengajukan ke provinsi, tapi belum bisa memastikan kapan ada stoknya, menunggu kabar dari Kemenkes,” ujar Hamdi.

Dinkes Kabupaten Bandung juga menyatakan kekurangan vaksin booster. Kepala Dinkes Kabupaten Bandung Grace Mediana memperkirakan kondisi yang dialami Dinkes Kabupaten Bandung juga dialami dinas kesehatan lain di Jawa Barat. 

Saat ini, vaksin yang tersedia hanya jenis vaksin Johnson dan Coronavac. Namun terkait jumlah, ia belum dapat memastikan berapa yang tersedia. “Kami sudah meminta ke Dinkes Jabar permohonan tinggal menunggu,” ujar dia. ';

×