Kongres Rabithah Alawiyah pada masa kolonial Belanda. RA merupakan salah satu wujud pergerakan keislaman dan kebangsaan yang dimotori kaum keturunan Rasul SAW di Indonesia. | DOK Rabithah Alawiyah

Sirah

Jejak Keturunan Nabi di Tanah Air

Panggilan habib bukan kebanggaan. Jika tak memberikan manfaat, dia mendapat dosa dua kali lipat

Pada bulan maulid saat ini banyak penceramah dan pembaca doa yang mengenakan gelar habib. Mereka pun kerap diundang dalam membaca maulid dan shalawat. Panggilan habib kerap digunakan untuk menghormati keturunan Rasulullah SAW yang dikenal sebagai sayid.

Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zein Umar Smith mengatakan, ada degradasi makna habib di Indonesia. Menurut dia, semua sayid di Indonesia mendapatkan panggilan habib oleh masyarakat. Padahal, habib mempunyai makna tuan guru atau seorang yang berilmu dari seorang sayid. "Jadi, semua habib pasti sayid. Kalau sayid sebenarnya kalau dia gak alim, dia bukan habib," kata Habib Zein saat berbincang dengan Republika, Sabtu (24/11).

Seorang yang mendapatkan panggilan habib mempunyai tanggung jawab besar untuk memberikan tuntunan kepada ma syarakat. Habib Zein menilai, panggilan habib bukan sebuah kebanggaan. Menurut dia, jika tidak mampu memberikan man faat kepada masyarakat, dia akan mendapatkan dosa dua kali lipat.

photo
Habib Musa Kadzim menyampaikan ceramah sekaligus memimpin doa bersama saat gelaran peringati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW di Lapangan Monas, Jakarta, Sabtu (9/11/2019). Acara Maulid Nabi Muhaammad yang di gelar oleh Majelis Rasulullah SAW tersebut bertujuan untuk mempersatukan umat serta meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW. Foto : Thoudy Badai - (Republika)

Dia menjelaskan, ada hadis yang menjelaskan itu. Menurut dia, sebutan habib hanya ada di Indonesia. Sedangkan, di luar Indonesia jika berasal dari keturunan Al Husin sering kali disebut sayid dan keturunan Al-Hasan, seperti di Maroko, Mesir, Yordania disebut syarif.

"Namun, sayid ini masuk ke Indonesia pada saat masuk ke Aceh disebutkan said. Kalau di daerah Sumatra Barat disebut sidi. Lalu para sayid ini hanya tokohtokohnya, seorang ulama mempunyai karisma, keilmuan. Lingkungannya men cintai dia karena itu dikatakan habib, yang dicintai. Jadi, titel habib itu bukan dari orangnya sendiri, melainkan dari ling kungan pernah mencintai, ini habib," kata Habib Zein mengungkapkan.

Rabithah Al-Alawiyah (RA) sebagai organisasi masyarakat yang menghimpun warga negara Indonesia (WNI) keturunan Arab juga mencatat mereka yang mempu nyai garis keturunan langsung dengan Nabi Muhammad SAW. Menurut Habib Zein, RA memiliki catatan siapa saja orang-orang yang memiliki keturunan dengan Ra sulullah SAW. "Metodenya ada metode khusus dalam ilmu nasab dan gak bisa katanya ada dasarnya secara matematis harus bisa dibuktikan. Kalau dia gak ada di situ ya berarti mohon maaf itu bukan bagian keluarga alawiyyin," kata Habib Zein.

Di kalangan para sayid, menurut Habib Zein, banyak marga yang hidup di Indo nesia, di antaranya Assegaf, Al-Habsyi, dan yang paling banyak Alatas. Semua itu tercatat dalam sebuah buku besar di mana berasal dari Hadramut. Awalnya berasal dari tiga buku besar lalu berkembang men jadi tujuh buku besar dan kemudian saat ini sebanyak 15 buku besar.

Itu sebabnya, ketika orang memberikan beberapa nama keturunananya, mereka sudah bisa dilacak apakah termasuk keturunan Nabi Muham mad atau bukan. Habib Zein menjelaskan, RA memiliki catatan nasab yang lengkap.

Menurut dia, diaspora para habib ke Indonesia terjadi pada dua gelombang, yaitu pada masa Wali Songo dan tahun 1800-an. Untuk itu, Habib Zein menyebut sebagian besar Wali Songo merupakan keturunan Rasulullah bukan Tionghoa seperti beberapa pendapat lainnya.

Habib Zein pun mengatakan bahwa para habib yang masuk ke Indonesia semuanya berangkat dari bidang dakwah dan berdagang. Beberapa dari mereka juga menikah dengan keluarga sultan di Nusantara karena keulamaannya. "Jadi, semua masuk jalur pemerintahan dan perdagang an, tapi misi utamanya dakwah. Untuk dakwah butuh biaya, maka dia berdagang supaya dia tidak minta-minta," kata dia.

Seperti beberapa suku di Indonesia yang memiliki marga, sayid juga mempunyai marga. Menurut Habib Zein, mencapai sekitar 128 dari keturunan Al-Husain. Namun, yang tercatat sekarang terdapat 62 marga. "Yang lain ada yang punah gak punya anak keturunan. Yang ada 62, misalnya, keluarga Alatas, Assegaf, Alhabsyi, Ben Smit, Al barr. Terbesar Alatas marga paling besar," ujarnya.

Sekretaris Umum Rabithah Alawiyah Dr Husin Ali Alatas menjelaskan, alawiyyin yang sekarang tinggal di Indonesia berasal dari Hadramaut, Yaman. Mereka memiliki kakek yang pertama kali tinggal hijrah ke negeri itu bernama Ahmad bin Isa Al Muhajir.

Sosok ini yang disebut memiliki sanad sampai ke Rasulullah SAW. Garis keturunannya, yakni Ahmad bin Isa bin Hamd bin Ali bin Jafar Sadiq bin Muhammad Baghir bin Ali Zainal Abidin bin Imam Husain bin Ali (binti Fatimah) kemudian terus ke Rasulullah SAW.

Dia hijrah karena keadaan genting dari Basrah. Di Hadramaut, mereka berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Mereka kemudian menyebar terutama di pesisir Samudra Hindia. Husin menjelaskan, mereka tinggal di Jibouti, daerah Afrika Timur. Mereka pun hidup di Kerala di India. "Paling banyak di Indonesia," kata Husin, beberapa waktu lalu.

Orang-orang Hadrami yang datang ke Indonesia berasal dari kalangan ulama sekaligus pedagang. Mereka berdagang sambil berdakwah. Dia mencontohkan, di Jayakarta, para alawiyyin ini dahulu punya toko di Tanah Abang, Jakarta. Mereka buka setengah hari. Pagi untuk berdagang, siang mereka pergi berdakwah. "Mereka memang berjualan sekadar untuk mencukupi sehari-hari," jelas dia.

Meski menjadi kelompok yang bersanad kepada Nabi SAW, Rabithah Alawiyyah tidak ingin dipandang sebagai kelompok yang eksklusif. Husin menjelaskan, organi sasi ini ingin juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Menurut Husin, kehidupan alawiyyin memang tidak jauh beda dengan masyarakat umumnya.

Hanya, Husin mengakui, semua alawiyyin adalah anggota Rabithah Ala wiyah. Karena itu, dalam soal kepengurus an, Rabithah Alawiyah eksklusif alias hanya bagi mereka yang memiliki sanad sampai ke Rasulullah SAW. "Kita ini ibaratnya organisasi keluarga. Jadi, mau tak mau, coraknya eksklusif. Tapi, kegiatan kami inklusif. Kita tak hanya untuk alawiyyin. Misalnya, soal beasiswa untuk mahasiswa," kata dia.

Disadur dari Harian Republika edisi 30 November 2017

Filosofi Seksual dalam Alquran (1)

Hubungan seksual harus disertai dengan kesadaran emosional-spiritual

SELENGKAPNYA

Bidadari untuk Lelaki di Surga, Bagaimana dengan Muslimah?

Muslimah akan menjelma sebagai perempuan jelita dan rupawan

SELENGKAPNYA