Sejumlah umat islam mengambil air wudhu untuk melaksnakan shalat Maghrib saat acara Dzikir Nasional di Masjid Agung At Tin, jakarta, Senin (31/12). | Republika/Putra M. Akbar

Tasawuf

Makna Sufistis dan Filosofis Wudhu

Mereka menemukan hikmah dan rahasia wudhu.

OLEH PROF KH NASARUDDIN UMAR

Menarik untuk diperhatikan, mengapa perintah wudhu dijelaskan secara perinci oleh Allah SWT dalam Alquran. Sementara, shalat yang merupakan rukun Islam dan tiang agama ('imad al-din) hanya dicukupkan dengan kalimat pendek: Aqim al-shalah (dirikanlah shalat). Tata-cara shalatnya cukup dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW.

Perintah wudhu dijelaskan Allah SWT dalam ayat: "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka cucilah (igsilu) muka dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah (imsahu) kepala dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki." (QS al-Maidah [5]:6).

Ayat tersebut di atas dijelaskan secara spesifik anggota badan mana yang harus dibersihkan. Mana di antara anggota badan tersebut yang harus cuci dan mana yang cukup hanya dibasuh. Berbagai disiplin ilmu menjelaskan tentang hikmah perintah spesifik Allah SWT tersebut.

Dalam perspektif ilmu fikih, perintah anggota badan yang harus dicuci atau dibasuh merupakan hak prerogatif Allah SWT. Manusia tinggal menjalankan perintah itu tanpa harus mempertanyakan apa dan mengapanya karena dalam ayat itu tidak ada kata yang dapat dipahami sebagai qarinah, hubungan, yang dapat dianalisis untuk memahami sabab, 'illah, dan hikmah syariah. Dengan demikian, ayat wudhu ini adalah murni ta'abbudi.

Dalam perspektif tasawuf, berusaha memahami rahasia-rahasia syariah (asrar al-syari'ah) di balik ayat perintah wudhu yang rigit dan runtut tersebut. Mereka menemukan hikmah dan rahasia wudhu bahwa organ tubuh yang diperintahkan Allah untuk dicuci atau dibasuh ternyata organ tubuh paling sering terlibat di dalam perbuatan dosa.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Pada bagian kepala di sana tersimpul organ tubuh paling sering berdosa, seperti mulut, mata, hidung, dan pendengaran. Tak terhitung jumlahnya berapa orang yang korban di mulut kita setiap hari? Entah itu dibohongi, difitnah, dibicarakan aibnya, dimaki, dan dihardik. Belum lagi janji palsu, sumpah palsu, persaksian palsu, dan bicara kotor.

Bahkan, kita juga tidak bisa menghitung berapa jenis makanan dan minuman syubhat dan haram masuk ke dalam rongga mulut kita. Apa dan siapa saja yang pernah ditatap mata kita, baik sengaja maupun tidak disengaja, padahal Nabi pernah bersabda: al-'ainain zaniyatuhuma al-nadhar (perbuatan zina kedua mata kita ialah memandang sesuatu yang tidak dibenarkan).

Demikian pula telinga kita. Lebih sering mana kita gunakan untuk mendengarkan seruan Ilahi ketimbang seruan nafsu atau setan? Hidung demikian pula, apa dan siapa saja yang pernah dicium?

Belum lagi isi kepala kita, apa yang selalu dipikirkan selama ini? Jangan sampai isi kepala kita dipadati oleh pikiran kotor, memikirkan dan mengkhayalkan hak dan kepunyaan orang lain, mengimajinasikan kesenangan biologis, dll.

Tangan adalah paling sering juga melakukan dosa. Siapa saja yang pernah dipegang, diraba, disentuh? Barang siapa yang pernah diambil? Siapa yang pernah ditonjok, ditempeleng, dan dianiaya? Berapa tanda tangan fiktif yang pernah dilakukan? Berapa kejahatan yang pernah direkayasa?

Sama dengan kaki, ke mana saja gentayangan selama ini? Lebih sering mana kita gunakan ke tempat-tempat yang mulia dan benar atau ke tempat-tempat maksiat atau tercela? Keseluruhan anggota badan yang dibasuh air wudhu dan tayamum ternyata organ tubuh kita yang paling potensial untuk selalu melakukan dosa.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Jakarta Film Week, Spirit Baru Perfilman Usai Pandemi

Festival film bertaraf internasional ini akan kembali hadir pada 13 hingga 16 Oktober 2022 secara daring dan luring

SELENGKAPNYA

Milad Ke-25, Foz Perkuat Kompetensi dan Kolaborasi

Era ke depan bukanlah era single power.

SELENGKAPNYA

Rumah Sehat DKI untuk Perpanjang Usia Harapan Hidup

Penjenamaan rumah sehat dinilai akan membuat pencegahan orang sakit lebih serius

SELENGKAPNYA