Zubaidah | Portalexpedition
29 Nov 2019, 20:49 WIB

Zubaidah Binti Ja’far Bebaskan Jamaah Haji dari Kekeringan

?Air pun mengalir dengan deras kepada penduduk Makkah dan orang-orang yang berhaji.?

Di balik kejayaan Dinasti Abba siyah, ada seorang permaisuri yang memiliki hati sederhana dan dermawan. Istri dari khalifah kelima Dinasti Abbasiyah, Harun al-Rashid, ini menjadi kesayangan bagi rakyat-rakyatnya. Ratu Zu baidah binti Ja'far selalu memperhatikan kebutuhan masyarakat. Ratu Zubaidah binti Ja'far. Tak heran jika Zubaidah memiliki pengaruh yang kuat pada pemerintahan dinasti terbesar Islam.

Sejak lama, Zubaidah dikenal sebagai seseorang yang bersahaja. Ia juga pandai berkelakar dengan membagikan cerita-cerita humor yang pernah didengarnya melalui sang kakek, al-Mansur. Selain dermawan dan baik hati, perem- puan ini juga dikenang sebagai orang yang memiliki budi luhur. Di kediamannya, ada sekitar seratus hamba perempuan yang diberi tugas untuk menghafal Alquran setiap harinya. Otomatis, lantunan ayat-ayat suci selalu menggema di istananya.

Hidup pada masa puncak kekhalifahan Abbasiyah membuat Zubaidah memiliki selera dan gaya hidup yang mewah dan eksklusif. Meski demikian, ia tak pernah melupakan masyarakat di luar istana mewahnya. Zubaidah tak segan menghabiskan uangnnya untuk membangun infrastruktur dan fasilitas yang berguna bagi masyarakat.

Sejarawan Ibnu al-Jawzi mencatat, saat sang sultan berkutat dengan urusan ketentaraan, dia menyerahkan kekuasaan untuk membuat kebijakan pada Zubaidah secara penuh. Sultan Harun kerap meminta pertimbangan Zubaidah dalam setiap pengambilan keputusan. Dia menganggap keputusan Zubaidah selalu tepat dan bijak.

Hal lain yang diingat dari sosok Zubaidah adalah kesediaannya untuk menyisihkan uang membangun infrastruktur dan fasilitas bagi jamaah haji. Kala itu ia menunaikan haji dan melihat penderitaan jamaah yang kekurangan air. Banyak jamaah merasa kepanasan, kehausan, bahkan meninggal dunia kala melaksanakan wukuf.

Ia pun bertekad memberi minum bagi mereka. Tak lama, ia memanggil bendaharanya. Dia memerintahkan untuk mendatang kan para arsitek serta para pekerja agar membuat saluran air di tengah pegunungan dan padang pasir hingga sampai di Makkah. Ini pekerjaan yang tidak mudah. Saluran air dibangun melintasi gunung yang bebatuan terjal serta bukit pasir.

Saluran air ini dibuat membentang dari Kufah di Irak hingga Rafha, yang berbatasan dengan Saudi. Dari Rafha, saluran ini berlanjut hingga Fida dengan jarak kira-kira 120 km di sebelah tenggara. Jalur air dilanjutkan dari Fida hingga ar-Rabdzah (terletak 190 km dari Madinah ke arah timur, dengan jarak 350 km) dan berakhir di Makkah.

Mendengar rencana tersebut, para insinyur Abbasiyah sempat memperingatkan tentang besarnya biaya dan hambatan teknis untuk merampungkan proyek tersebut. Namun, peringatan itu hanya dianggap angin lalu.

Sang bendahara sendiri sempat berkata, Pekerjaan ini membutuhkan biaya yang amat besar. Mendengar hal tersebut, Zubaidah menjawab, Kerjakanlah!Walaupun harus membuat kapak dengan dinar.

Megaproyek pembuatan salur an air ini disebut mengha biskan 1 juta dinar. Dengan izin Allah SWT, terwujudlah cita-cita pembuatan saluran air ini. Dengan adanya fasilitas ini, air meng alir dengan derasnya kepada para penduduk Makkah dan orang-orang yang berhaji. Mereka dapat minum kapan saja. Tanpa khawatir tak ada air.

Selain itu, ratu dikenal dengan megaproyek Jalur Zubaidah, yakni proyek jalan untuk memudahkan jamaah haji. Jalur perjalanan ini dibangun dengan basis arsitektur dan logistik modern. Untuk membuat jalur ini, pekerja memulai dengan mem buka jalan, mendirikan waduk, mengebor sumur. Mereka pun membangun perumahan serta tempat peristirahatan (rest area) di sepanjang jalur perjalanan tersebut. Dia juga mendirikan sejumlah tempat peristirahatan dan telaga air raksasa di Mina dan Arafah.

Pada zaman Abbasiyah, Fida adalah kota terpenting di jalur per jalanan Zubaidah. Letaknya strategis karena berada di te ngah- tengah antara Kufah dan Makkah. Fida pada masa itu telah dipersi- apkan oleh Khilafah Ab basiyah untuk menyambut para jamaah haji dan umrah dengan makanan, minuman, dan ken da raan yang me reka butuhkan. Ja maah haji dan umrah bisa menitipkan barang-barang dan kenda raan mere ka kepada penduduk Fida, untuk mereka ambil kem bali sepu- lang mereka dari Tanah Suci. Kare na itu, nama Fida ter ukir dalam syair Arab, Zahir bin Abi Salma.

Zubaidah menghabiskan hari- harinya dalam ketaatan kepada Allah SWT. Ia mempersiapkan simpanan yang paling berharga untuk menghadapi hari yang tak lagi berguna selain amal kebaikan yang kekal. Zubaidah meninggal saat berusia 71 tahun dan dimakam kan di Baghdad. Ia merupakan sosok yang terpelihara dari perbuatan buruk, mutiara yang tersimpan, pemberi minum orang-orang yang pergi haji, penolong orang-orang yang terzalimi, penyabar, serta cerdas.

Imam Ibnu Jauzi sempat bertutur tentang kisah Zubaidah. Ia berkata, Ia memberi minum pen duduk Makkah, pada ketika air satu kolah (ukuran air tersebut)seperti 1 dinar, ia mengalir kan air se jauh 10 batu yang membelah bukit hingga air itu dapat mengalir dari sumber mata air ke tanah haram. Mata air tersebut dinamakan Mata Air Zubaidah dan menjadi salah satu sumber mata air di daerah Mekah. Letak nya di ujung lembah Nu'man, se belah Timur Mekah.(ed:a syalaby ichsan)


×