Abuya Hasan Baharun (kiri) | Ist

Laporan Utama

Keteladanan Abuya Habib Hasan Baharun

Sosok Abuya sangat murah hati, dengan keindahan akhlak yang melekat.

Nama Habib Hasan Baharun bukanlah sosok yang baru di dunia dakwah Indonesia. Ia merupakan dai kondang kelahiran Sumenep pada 11 Juni 1934 lalu. Berdasarkan catatan biografi Habib Hasan Baharun, yang dikeluarkan Pesantren Darullughah wad Da'wah (Dalwa), sosoknya sangat murah hati, dengan keindahan akhlak yang melekat.

Sejak kecil, kedua orang tuanya, yaitu Habib Ahmad bin Husein dan Fathmah binti Ahmad Bachabazy, telah membiasakan dirinya berdisiplin dan hidup sederhana. Hal ini pula yang kemudian menjadi dasar dirinya terkenal dan tumbuh sebagai pribadi dengan sifat terpuji.

Selain mendapatkan bimbingan dan pendidikan agama dari kedua orang tua, Habib Hasan Baharun mendalaminya di Madrasah Makarimul Akhlaq Sumenep. Tak hanya itu, arahan dari Ustaz Achmad bin Muhammad Bachabazy yang tak lain sang kakek juga turut andil memupuk dirinya. Kakek dari Habib Hasan ini merupakan ulama besar dan disegani di Kabupaten Sumenep.

Setelah sang kakek meninggal dunia, paman-pamannya mulai menggantikan peran untuk membagikan ilmu kepada dirinya. Mereka adalah Ustaz Usman bin Ahmad Bachabazy dan Ustaz Umar bin Ahmad Bachabazy.

Sosoknya dikenal memiliki semangat belajar yang tinggi, rajin, dan ulet. Apabila bu an suci Ramadhan tiba, ia akan menghabiskan malamnya untuk belajar, dimulai sehabis tadarus hingga menjelang waktu subuh, seperti yang dilakukan al-Imam Fakhrul Wujud Syekh Abu Bakar bin Salim (1513-1584).

Ustaz Hasan memiliki ketertarikan dalam belajar dan mendalami ilmu agama, seperti akhlak, fikih, dan tauhid. Karena hal ini pula, ia kemudian menjadi murid kesayangan Habib Umar Ba'aqil di Surabaya.

Berdasarkan catatan Pesantren Dalwa, selain membaca buku dan belajar di kelas, dia aktif berorganisasi, seperti remaja masjid dan Persatuan Pelajar Islam (PII). Bahkan, ia pernah diutus mengikuti muktamar I PII se-Indonesia, yang kala itu digelar di Semarang. Sosoknya juga pernah menduduki jabatan ketua Pandu Fatah Al Islam di Sumenep.

Di tingkat lain, ia pernah aktif di Partai Nahdlatul Ulama (NU) sebagai juru kampanye. Selama menjabat, ia dikenal berani dan tegas dalam menyampaikan kebenaran. Hingga akhir hayatnya, ia pun menjabat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia di Pasuruan.

Cinta bahasa Arab

Adapun kecintaan Habib Hasan pada bahasa Arab semakin terlihat saat ia mengajar di Pondok Pesantren Gondanglegi, Malang, pada 1972. Di sana, ia mengembangkan pembelajaran bahasa Arab, hingga pondok tersebut terkenal maju dalam bidang tersebut.

Perhatian Ustaz Hasan terhadap pengembangan dan penyebaran bahasa Arab terlihat dari kitab-kitab yang ia buat. Kitab tersebut berhubungan erat dengan bahasa Arab, seperti Kamus Bahasa Dunia Al 'Ashriyyah, Muhawarah Jilid I dan II, Qawa'idul I'rab, Kalimatul Asma' Al Yaumiyyah, dan Kalimatul Af'al Al Yaumiyyah, 40 Kaidah-kaidah Nahwu (Pengantar Ilmu Nahwu).

Tak berhenti di situ, dia mewajibkan seluruh santri dan para guru untuk menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya mengembangkan bahasa Arab di pondoknya sendiri, Ustaz Hasan rutin meng ajar beberapa pesantren, seperti Nurul Jadid di Paiton Probolinggo, Salafiyah Sya fi'iyah Asembagus Sukorejo Situbondo, Sidogiri Pasuruan, Langitan Tuban, serta pondok pesantren lainnya.

Terkait strateginya dalam mengajar dan menyebarkan bahasa Arab, ia sering mengisi seminar di perguruan tinggi maupun pondok dan beberapa lembaga pendidikan, tentang pentingnya bahasa tersebut. Pun, ia mengirim beberapa guru dan santri untuk memberikan kursus bahasa Arab di beberapa lembaga pendidikan Islam dan pesantren.

Di Pondok Pesantren Darullughah, ia bahkan membuka kursus secara gratis, yang terbuka untuk umum. Kelas bahasa Arab ini ia buka sendiri setiap kali ada rombongan dari pondok lain atapun perguruan tinggi di luar sana.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Haul Habib Abu Bakar Assegaf Gresik, Kunci Sukses Berdakwah

Seorang dai tak boleh menggunakan ilmunya untuk mencari popularitas atau pengaruh

SELENGKAPNYA

Dari Dalwa Mencerahkan Bangsa

Habib Hasan telah malang melintang dalam dakwah sebelum membangun pesantren

SELENGKAPNYA

Bung Karno: Ambil Apinya, Tinggalkan Abunya

Sumbangan terbesar Bung Karno terhadap Islam di Indonesia adalah memacu orang Islam untuk tidak berpikiran beku.

SELENGKAPNYA