Warga berswafoto dengan Remaja asal Citayam yang viral, Bonge (tengah) di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, Rabu (6/7/2022). Area sekitar taman Stasiun MRT Dukuh Atas menjadi ruang publik favorit yang ramai didatangi oleh kalangan remaja dari daerah pinggiran | Republika/Putra M. Akbar

Opini

Fenomena Viral dan Mentalitas Kita

Berita-berita yang tersebar dengan cepat dan menarik banyak perhatian disebut dengan viral.

NANANG SUMANANG, Guru Sekolah Indonesia Davao

Aja Gumunan, Aja Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman” Jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut, dan jangan mudah kolokan/menyerah

Seorang teman, dua hari lalu memberitahu saya bahwa yang sekarang sedang viral adalah Citayam fashion show yang akan didaftarkan hak intelektualnya oleh orang-orang tertentu. Beberapa hari sebelumnya, dia juga cerita bahwa yang sedang viral pada saat itu adalah berita polisi yang menembak polisi di rumah dinas polisi. Belum lagi kasus Johnny Deep yang bercerai dengan istrinya, yang juga jadi pembicaraan beberapa teman, padahal kasusnya jauh dari kita..

Saya mungkin termasuk orang yang kurang meng-update berita, termasuk orang yang kurang tahu peristiwa-peristiwa “penting” di tanah air, yang terlewatkan begitu saja. Ternyata di jagat media massa dan media sosial, hampir setiap hari banyak berita akhirnya menjadi viral, walaupun tidak ada batasan yang jelas untuk menjadi viral itu bagaimana.. 

Setelah saya mengikuti saran teman untuk meng-update berita, terutama di media sosial, ternyata benar Citayam Fashon Show dan kasus penembakan polisi oleh polisi masih banyak dibicarakan di media massa dan media sosial, ditambah ada beberapa berita lainnya yang juga..

Secara bahasa kata “Viral” adalah sesuatu yang berhubungan dengan virus (KBBI). Mungkin karena cepatnya penyebaran virus, maka berita-berita yang tersebar dengan cepat dan menarik banyak perhatian disebut dengan viral. Kamus bahasa online Oxford membuat definisi viral secara ajektif maupun kata benda. Secara ajektif adalah “relating to or involving an image, video, piece of information, etc., that is circulated rapidly and widely from one internet user to another.” Yaitu berkaitan dengan gambar, video atau informasi dll yang beredar dengan cepat dan luas dari pengguna internet ke pengguna lainnya.

Penyebaran informasi secara cepat tanpa dibatasi ruang dan waktu adalah bagian dari dampak globalisasi. Secara sosiologis, untuk memahami globalisasi mungkin dapat dilihat dari empat pendekatan yang saling berhubungan dan berkaitan. Empat pendekatan globalisasi tersebut adalah:

Pertama adanya perkembangan teknologi informatika dan elektronika yang sangat cepat yang merubah sistim kerja manusia, baik sarana maupun prasarana.

Kedua terjadinya aktifitas ekonomi dan lintas manusia antar negara dan antar bangsa  negara.

Ketiga terciptanya pergaulan sosial yang bersifat lintas bangsa/ negara, dikarenakan berkembangnya teknologi yang menjadikan alat komunikasi menjadi lebih murah dan dapat diakses oleh banyak manusia.

Keempat adalah kosmopolitanisme, dimana adanya penyesuaian-penyesuaian nilai, norma, ideologi dan budaya sehingga bisa diterima secara bersama.

Dilihat dari pendekatan di atas, fenomena viral di media massa dan media sosial terjadi karena adanya perkembangnya teknologi informasi, ekonomi dan lintas manusia antar negara, serta faktor kesiapan mental kita dalam menghadapi “ledakan informasi” yang tidak bisa dihindari, dan tidak dibatasi oleh waktu dan ruang.

Bagi sebagian orang, dalam dunia maya, kebenaran menjadi sesuatu yang kurang penting, sama dengan tidak pentingnya identitas seseorang dalam akun media sosialnya. Meminjam istilah Donna Haraway, Pengguna internet dalam berkomunikasi disebut dengan makhluk Cyborg atau Cybernetic Organism, dimana identitas individu tidak lagi penting; laki-laki apa perempuan kah, ideologinya bagaimana, bagaiman latar belakang kehidupannya, bagaimana pandangan politiknya  dan lain sebagainya menjadi sesuatu yang tidak jelas dan tidak penting diketahui.

Seseorang dengan sangat mudah sekali menulis, memberi komen, kemudian menshare (membagikan)nya sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Bisa saja itu hanya sekedar untuk mewakili pemahaman/ pikirannya, bisa untuk mewakili keinginannya, bisa juga mewakili ideologinya atau kebahagiaannya kalau banyak dilike atau dikomen manusia. 

Kadang yang dibagikan jauh bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Seorang koruptor bisa saja membagikan kata-kata bijak dalam dinding facebook-nya yang berisi ajakan untuk berlaku jujur, bekerja keras, mencintai anak miskin atau jangan sekali-kali mengambil yang bukan haknya, hanya untuk sebuah kesenangan dan kepuasaan dirinya. 

Seorang buzzerpun dengan hebatnya menulis dan membagikan tulisan-tulisan sesuai dengan pesanan dari tuannya yang memberi makan dia dan keluarganya, dan bahkan mereka rela untuk menebar fitnahan dimana-mana.

Media massa kemudian menjadi bagian dari kapitalisme, semua ditujukan untuk mendapatkan keuntungan; baik harta benda, pengaruh, maupun posisi di masyarakat. 

“ledakan informasi” yang tidak bisa kita hindari bisa datang kapan saja, dan dimana saja. Dari mulai kita bangun tidur, hingga mau tidur kembali. Dia selalu hadir dalam ruang publik atau ruang pribadi kita tanpa ada batasnya sama sekali. Segala informasi ini pasti akan mempengarui kita dalam melihat sesuatu.

Konten-konten media massa yang tidak baik, yang berisi kebohongan, menggiring opini dan pemikiran, merusak ideologi, merusak norma dan nilai masyarakat berdalihkan kebebasan, mencaci maki, akhirnya membelah manusia untuk saling mencurigai. Fitnah dengan mudah disebarkan dimana-mana. Penegakan hukum yang tebang pilih akhirnya memperparah situasi ini. Situasi ini tentunya harus kita lawan dengan menyetopnya dan meluruskannya dan tidak menjadikan menjadi viral. Disinilah mental kita mempunyai peran penting sebagai manusia dan bangsa.

Meminjam teori “Petak Jiwa”nya Emha Ainun Nadjib, maka sebenarnya mental merupakan resultan dari dialog antara spiritual dan intelektual manusia. Artinya bahwa kalau spiritual bisa mempimpin intelektual, maka mental dan moral manusia juga akan terselamatkan.

Dalam menghadapi situasi seperti di atas, Rasulullah SAW menawarkan konsep untuk menghindari penyebaran sesuatu yang tidak benar dan tidak bermanfaat. Ketika Beliau sedang bersama para sahabatnya Rasulullah SAW berkata “Zaman fitnah itu adalah suatu ketika manusia merusak janji yang dibuatnya, mengabaikan amanah, dan mereka saling begini sambil menyilangkan jemarinya yang berarti manusia saling bermusuhan”. Kemudian sahabat beliau berkata, “ya Rasulullah, apa yang harus kami lakukan dalam zaman seperti itu?” Rasulullah menjawab, “Tetaplah tinggal di rumah. Jagalah lidahmu. Ambillah apa yang engkau ketahui dan tinggalkan apa yang tidak kamu ketahui. Lalu hendaklah kamu memperhatikan urusan pribadi dan tinggalkan urusan masyarakat luas.

Dari pesan Baginda Rasulullah, maka jelaslah bahwa fitnah dapat ditangkal dengan cara tetap tinggal di rumah yaitu beruzalah dan berkhalwat (menyepi, merenung, menghitung/ menghisab diri sendiri), diam atau berkata yang baik, lalu melakukan apa yang benar-benar diketahui, dan mengurangi ikut campur urusan orang lain.

Uzalah dan khalwat adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, merupakan laku untuk mempertajam dan menguatkan spiritual seseorang, yang kemudian akan menuntun intelektual dan akan melahirkan mental dan moral yang baik. Sprititual yang baik merupakan kunci ampuh untuk menghindarkan pembicaraan fitnah dan kurang bermanfaat, apalagi menyebarkannya. .

Terlalu banyak membicarakan dan mengurusi urusan orang lain, akan melalaikan kita dari tugas pokok kita, sehingga tidak terselesaikan dengan baik.

Teringat dengan kyai saya dulu, KH Abdurrohaman, yang biasa kami panggil Kong Emang, ketika saya masih mengaji di madrasah Raudlotul Hasanah, di Cawang Kapling, Jakarta-Timur. Beliau seorang yang sangat ‘aalim dan ahli ibadah. Selain mendirikan madrasah, beliau juga mengajar mengaji di langgar-langgar (surau), dan masjid-masjid di kampung Cawang dan sekitarnya. Keikhlasan mengkhidmatkan dirinya untuk mengajar agama Islam tidak perlu diragukan. Kecintaannya terhadap profesi dan umatnya juga mendapatkan balasan berupa penghormatan dan kecintaan umatnya kepada beliau. Rasa syukur dan kebahagiaan selalu terpencar di wajahnya. Beliau tidak pernah menjelek-jelekan orang lain, atau berbicara yang menyakitkan hati orang lain, tawadlu dan sangat memahami permasalahan umat. 

Di rumahnya, yang bersebelahan dengan madrasah dan suraunya, tidak ada televisi. Di lemarinya penuh dengan kitab-kitab dan buku-buku karangan para ulama besar, yang menemani beliau dikala senggangnya. Beliau tidak punya televisi bukan karena tidak mampu, tetapi beliau telah mengharamkan dirinya untuk menonton televisi. Beliau juga selalu mengingatkan dan berpesan kepada kami para muridnya agar menjauhi televisi, kalaupun harus menonton televisi, maka tontonlah hal-hal yang bermanfaat saja.

Suatu saat beliau pernah berkata, kenapa tidak mau melihat televisi “Televisi bisa melalaikan kita dalam beribadah dan mempengaruhi cara berpikir kita”. 

Ternyata pemilaian subjek (manusia) terhadap objek (benda yang berada di luar diri manusia) itu akan ditentukan oleh media yang menguhubungkannya. Jangankan yang tidak nyata (maya) yang nyatapun kita bisa salah menilainya hanya karena adanya media.