Pengguna sedang bermain game online berunsur judi di Padang, Rabu (3/8) | Febrian Fachri/Republika

Literasi Umat

08 Aug 2022, 05:01 WIB

Melawan Judi Daring

Sejumlah aplikasi judi daring dengan jumlah pemain terbanyak nyatanya masih bebas dimainkan.

Assalamualaikum, pembaca yang budiman.

Pada akhir 1980-an, Indonesia sempat dilanda fenomena judi-mania di berbagai daerah. Difasilitasi pemerintah melalui program resmi yang dibalut sumbangan olahraga, banyak warga jadi korban semacam lotre nasional  yang dinamai Pekan Olahraga dan Ketangkasan (Porkas) serta kemudian Sumbangan Dermawan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). Bandar lotre menyebar di mana-mana, warga pegiat judi terjebak dalam rerupa mistisme dan tafsir mimpi soal angka-angka yang bakal "keluar" keesokan harinya.

Pada awal 1990-an, banyak elemen umat Islam merasa resah dengan fenomena tersebut. Aksi-aksi unjuk rasa menuntut dihapuskannya kebijakan itu marak di berbagai daerah. Republika yang baru lahir kala itu tak luput menyuarakan penolakan tersebut. Hingga akhirnya pada 1993 program judi itu dihapuskan sepenuhnya.

 
Republika yang baru lahir kala itu tak luput menyuarakan penolakan tersebut. 
 
 

Kini, pada awal dekade ketiga milenium baru, fenomena judi baru marak di masyarakat. Judi yang berselubung gim ketangkasan daring menjerat warga segala umur utamanya di daerah-daerah. Bentuknya mulai dari judi slot hingga aneka permainan kartu. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang tengah rajin melakukan pemblokiran berbagai situs dan aplikasi dapat protes dari masyarakat karena terkesan membiarkan aplikasi-aplikasi tersebut.

Republika turut menyoroti fenomena tersebut. Para jurnalis sari Sumatra Barat, Lampung, dan seantero Pulau Jawa melaporkan fenomena kecanduan judi daring itu di wilayah masing-masing. Kemenkominfo kemudian memblokir 15 aplikasi gim daring berbau judi tersebut. Kendati demikian, sejumlah aplikasi judi daring dengan jumlah pemain terbanyak nyatanya masih bebas dimainkan. 

Artinya, tugas jurnalis-jurnalis Republika juga belum selesai sampai di sini. Sumbangan yang diberikan pembaca melalui program Literasi Umat pada situs ini turut membantu ikhtiar tersebut. Untuk itu kami ucapkan banyak terimakasih.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. ';

×