Petugas melakukan perawatan panel surya di atap Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (31/7/2019). | ANTARA FOTO

Opini

04 Aug 2022, 03:45 WIB

Hijrah Ekologis

Waktunya umat Islam hijrah ekologis membangun keadaban dan peradaban ramah lingkungan.

ABDUL MU'TI, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah

Para ahli lingkungan hidup memprediksi, pada 2100 suhu dunia naik lima derajat Celcius. Jika itu terjadi, bongkahan es di kutub utara mencair. Permukaan air laut meningkat. Beberapa wilayah banjir abadi. Kadar garam dalam air tanah meningkat.

Tanaman tak dapat tumbuh dengan baik. Dunia mengalami ancaman kelaparan.

Meningkatnya suhu juga berpotensi menimbulkan masalah politik dan perdamaian. Beberapa negara yang secara topografi di bawah permukaan air laut, seperti Maladewa dan negara di Pasifik akan tenggelam. Wilayah negara kepulauan seperti Indonesia akan berkurang.

 

 
Meningkatnya suhu juga berpotensi menimbulkan masalah politik dan perdamaian.
 
 

Sesuai Perjanjian Juanda, luas wilayah ditetapkan berdasarkan pulau terluar, sebagian besar pulau-pulau kecil. Jika pulau-pulau itu tenggelam, luas wilayah berkurang. Masalah batas wilayah antarnegara tak bisa dihindari. Pemanasan global dan perubahan iklim juga menimbulkan bencana alam.

 

Literasi ekologis

Meski demikian, kesadaran masyarakat termasuk umat Islam atas krisis ekologi rendah karena rendahnya literasi ekologis. Pertama, krisis ekologi diyakini semata-mata musibah karena takdir. Pendekatan terhadap masalah ekologi cenderung mistis-fatalistis.

Kedua, kebiasaan dan gaya hidup tak ramah lingkungan. Sebagaimana ditulis Daniel Goleman dalam Ecological Intelligence (2009), masalah lingkungan terjadi karena perilaku manusia yang konsumtif dan boros. Konsumsi fossil fuels, listrik, penggunaan air conditioner, rumah kaca membuat dunia makin panas.

Ketiga, kebijakan ekonomi dan tata ruang yang tak bijak. Perubahan hutan menjadi perkebunan dan industri yang eksploitatif membuat alam kehilangan keseimbangan.

 

 
Pragmatisme dalam meningkatkan pendapatan daerah dan pemerintah, membuat kerusakan ekologi semakin parah.
 
 

 

Tata ruang, terutama permukiman, hampir tak menghiraukan dampak lingkungan. Pragmatisme dalam meningkatkan pendapatan daerah dan pemerintah, membuat kerusakan ekologi semakin parah.

Hijrah ekologis

Di penghujung 1443 H, Muhammadiyah, NU, MUI, UGM, Masjid Istiqlal, Republika, dan organisasi Islam menyelenggarakan Kongres Umat Islam untuk Indonesia Lestari pada 28-29 Juli 2022, melahirkan Risalah Indonesia Lestari.

Risalah berisi tujuh pernyataan yang menyerukan pentingnya edukasi ekologis meliputi peningkatan literasi, kesadaran, dan gerakan ekologis. Risalah menyerukan keterlibatan umat, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, lembaga keuangan syariah dan saling bekerja sama mengatasi masalah ekologi.

Dari sisi materi, risalah tak memuat  ide baru. Namun, tetap penting untuk memperkuat gerakan yang sudah dilakukan. Pada lembaga pendidikan terdapat sekolah adiwiyata dan eco-pesantren. Pada ranah teologi, ormas Islam menerbitkan fatwa dan fikih lingkungan.

 
Dari sisi materi, risalah tak memuat  ide baru. Namun, tetap penting untuk memperkuat gerakan yang sudah dilakukan.
 
 

Pemerintah mendorong penggunaan kendaraan listrik dan listrik tenaga surya. Masyarakat mengembangkan gerakan sedekah sampah dan menghidupkan budaya sedekah bumi sebagai kearifan lokal. Sayangnya, gerakan tersebut belum berdampak mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim. Karena itu perlu hijrah ekologis.

Hijrah ekologis meliputi tiga langkah. Pertama, mengubah pandangan yang menempatkan alam semesta sebagai objek menjadi subjek. Alam baik nabati maupun hayati adalah makhluk yang "hidup" sesuai sunatullah. Pada ilmu alam, air, batu bara, minyak bumi, laut, matahari, dan planet dikategorikan benda (mati).

Namun, sesuai sunatullah, benda-benda itu bagian dari ekosistem yang "hidup". Apabila dieksplorasi berlebihan, benda-benda itu akan menimbulkan kerusakan.

Kedua, mengubah perilaku: meninggalkan kesalahan ekologis menuju kesalehan ekologis. Kerusakan alam, menurut Alquran (ar-Rum [30]: 41) diakibatkan perbuatan manusia. Mengubah perilaku adalah bagian dari membangun peradaban yang ramah lingkungan.

 
Sebagaimana Risalah Indonesia Lestari, waktunya umat Islam hijrah ekologis membangun keadaban dan peradaban ramah lingkungan. 
 
 

Ketiga, mengubah kebijakan yang tak ramah lingkungan. Ini kewenangan negara dan pemerintah. Kebijakan tata ruang dan penambangan harus tegas, termasuk soal struktur dan arsitektur bangunan. Banyak bangunan dan fasilitas publik termasuk gedung pemerintahan tak ramah lingkungan. Perlu hijrah menuju green building. 

Komitmen pemerintah dalam transisi dan transformasi energi sangat dinanti.

Saatnya hijrah menuju energi terbarukan. Sebagaimana ditulis Ibrahim Abdul Matin (2008), Islam adalah green deen. Namun, umat Islam tak boleh berhenti pada apologi bahwa Islam agama ramah lingkungan dengan kutipan ayat kitab suci.

Sebagaimana Risalah Indonesia Lestari, waktunya umat Islam hijrah ekologis membangun keadaban dan peradaban ramah lingkungan. Sudah waktunya umat berhijrah dengan membangun green mosque: masjid yang bersih, asri, dan ramah lingkungan. 


15 Game Online Fasilitasi Perjudian Telah Diblokir

Meski 15 game online telah diblokir, diyakini masih ada aplikasi lain yang digunakan sebagai sarana berjudi.

SELENGKAPNYA
×