Direktur Utama BTPN Syariah Ratih Rachmawaty berpose saat wawancara bersama Republika di Jakarta, Selasa (29/10). | Republika/Putra M. Akbar
26 Nov 2020, 02:03 WIB

Memilih Segmen yang Belum Terlayani

BTPN Syariah menampung pendanaan dari kelompok sejahtera dan 100 persen dananya kami salurkan untuk kelompok perempuan prasejahtera.

Biasanya, perbankan melayani segmen yang sudah terlayani finansialnya. Akan tetapi, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Syariah Tbk memilih 100 persen melayani kelompok perempuan prasejahtera. Ini merupakan keputusan sadar yang diambil melihat potensi segmen yang sangat besar sekali.

Indonesia memiliki segmen prasejahtera hingga 61 juta orang dari total penduduk sekitar 200 juta. Mereka ini merupakan kelompok yang unbank. Tak heran jika dulu, segmen ini dilayaninya bukan oleh bank melainkan oleh institusi-institusi kecil, seperti koperasi atau baitulmaal. "Jadi bagi kami, pilihan ini adalah peluang sekaligus panggilan. Sebagai bank syariah, kita juga meyakini bahwa substansi syariah adalah bermanfaat bagi sesama," kata Direktur Utama BTPN Syariah Ratih Rachmawaty kepada wartawan Republika Lida Puspaningtyas di Jakarta, belum lama ini.

Menyasar kelompok prasejahtera dianggap Ratih sebagai sebuah kekuatan mengingat segmen ini lebih tahan terhadap guncangan ekonomi. Kinerja perusahaan pun terus membaik. Tercatat, hampir setiap tahun pembiayaan BTPN Syariah tumbuh di atas 20 persen atau jauh di atas rata-rata industri. Per September 2019, perusahaan tumbuh 28 persen dan dengan kualitas yang baik.

Karena menyasar segmen yang khusus, perusahaan pun menyiapkan sistem yang juga istimewa. "Kami ciptakan sistem terbaik yang disesuaikan dengan karakteristik mereka. Misal, kelompok ini sulit datang ke bank karena banyak alasan. Bisa jauh aksesnya, mereka sibuk punya urusan lain, dan lain-lain. Maka dari itu kami yang mendatangi mereka. Kami punya sekitar delapan ribu tenaga yang dinamakan Melati Putih Bangsa. Mereka ini Bankir Pemberdaya yang khusus di lapangan, melayani nasabah," kata dia.

Bagaimana BTPN Syariah mengelola nasabahnya yang unik dan pendekatan yang dilakukan untuk mengelola sumber daya manusia? Berikut hasil wawancaranya.




Bagaimana BTPN Syariah memosisikan diri di antara bank yang ada di Indonesia?
Kalau kita bicara perbankan, ke banyakan itu melayani segmen yang sudah terlayani finansialnya. BTPN Syariah secara sadar memilih segmen yang belum terlayani sama sekali. Kami 100 persen melayani kelompok perempuan prasejahtera. Secara potensi, segmen ini sangat besar sekali. Dulu segmen ini dilayaninya bukan oleh bank, melainkan institusi kecil, seperti koperasi atau baitulmaal. Jadi bagi kami, pilihan ini adalah peluang sekaligus panggilan.


Sebagai bank syariah, kita juga meyakini bahwa substansi syariah adalah bermanfaat bagi sesama. Indonesia ini punya segmen prasejahtera hingga 61 juta orang dari total penduduk sekitar 200 juta. Mereka ini kelompok yang unbank. BTPN Syariah bermula dari unit usaha syariah (UUS) sejak 2010. Pada 2014, kami kemudian lepas atau spin off. Kami jadi bank syariah ke-12 saat itu. Sebagai sebuah bank syariah, kami konsisten menjaga ruh bisnis ini.

Terkait

BTPN Syariah menampung pendanaan dari kelompok sejahtera dan 100 persen dananya kami salurkan untuk kelompok perempuan prasejahtera. Ini jadi keunikan kami, karena tidak ada satu pun bank yang melakukan model bisnis seperti ini.



Bagaimana performa per usahaan yang seluruhnya menyalurkan pembiayaan hanya untuk kelompok prasejahtera?
Sejak awal kami secara sadar memilih segmen tersebut, juga karena bukti bahwa prasejahtera lebih tahan ter hadap guncangan ekonomi. Ini jadi satu kekuatan. Kinerja kami terus membaik, hampir setiap tahun pembiayaan BTPN Syariah tumbuh di atas 20 persen, jauh di atas rata-rata industri. Per Sep tember 2019, kami tumbuh 28 persen dan dengan kualitas yang baik. Hing ga akhir tahun, kami menjaga angka pertumbuhan tersebut.


Tumbuh di atas rata ini terjadi karena memang potensinya masih besar. Secara kualitas pembiayaan per Sep tember, non performing financing atau rasio pembiayaan bermasalah juga hanya sebesar 1,3 persen. Mengapa bisa begitu? Karena BTPN Syariah tidak hanya memberi pembiayaan, tetapi juga pendampingan.


Meski melayani kelompok prasejahtera, kami ciptakan sistem terbaik yang disesuaikan dengan karakteristik mereka. Misal, kelompok ini sulit datang ke bank karena banyak alasan. Bisa jauh aksesnya, mereka sibuk punya urusan lain, dan lain-lain. Maka dari itu kami yang mendatangi mereka. Kami punya sekitar delapan ribu tenaga yang dinamakan Melati Putih Bangsa. Mereka ini Bankir Pemberdaya yang khusus di lapangan, melayani nasabah. Mereka melakukan tugas frontliner. Mereka semua perempuan dan lulusan SMA/SMK/sederajat. Pendekatan mereka juga disesuaikan dengan karakter nasabah. Ini membuat operasional lebih mu dah dan mengena.



Karena model bisnis yang berbeda, lalu bagaimana BTPN Syariah membangun sumber daya manusianya untuk melakukan misi pemberdayaan ini?
Total karyawan kami ada sekitar 12 ribu orang. Mayoritas yang delapan ribu orang itu lulusan SMA dan semuanya perempuan. Ini karena secara psikologis, mereka lebih sabar, teliti, lalu menjalin koneksi dengan nasabah juga lebih mudah. Semua nasabah pembiayaan kami perempuan juga.

Kami latih mereka khusus untuk memberdayakan kelompok tersebut. Bagaimana mereka bisa melayani nasabah dengan sangat baik, sabar, teliti, juga dengan pendekatan yang nyaman. Kami melakukan metode jemput bola, nasabah jadinya mau untuk buka rekening sama kita, tidak ada biaya adminnya, tidak ada saldo minimum. Mereka bisa nabung Rp 10 ribu tanpa dipotong.


Untuk pembiayaan juga kami tidak gunakan jaminan yang lazim di perbankan. Bagi kami, kolateralnya adalah wajah. Pembiayaan BTPN Syariah menggunakan sistem tanggung renteng, pembiayaan berkelompok. Penagihannya, saat mereka datang, menunjukkan wajah maka artinya itu niat baik. Asal dia selalu hadir, ini berarti iktikad baik untuk bayar cicilan.


Untuk membangun sumber dayanya, tentu memang sulit. Misal, Melati Putih Bangsa ini tentu punya kelemahan. Anak yang baru lulus, perempuan, suka ada galau-galau. Kadang berhenti di tengah jalan karena banyak alasan, menikah, keluarga, dan lain-lain. Tentu cara memperlakukan mereka juga berbeda. Mereka diberikan pelatihan, dipersiapkan untuk menjadi orang yang penuh integritas dan berdedikasi ingin membantu kelompok prasejahtera.


Untuk supervisornya, adalah lulusan S1, tidak terbatas harus perempuan, sesuai kinerjanya saja yang baik. Kami juga ada tenaga manajemen dari berbagai disiplin ilmu. Ada yang melayani untuk pendanaan di kelompok sejah tera, pembiayaan di prasejahtera, karyawan di kantor pusat yang ciptakan sistem teknologi. Di bank itu biasa dipanggil bankir. Tapi kami ciptakan identitas sendiri bagi orang yang bekerja di BTPN sesuai dengan misi kami, yakni Bankir Pemberdaya.



Lalu bagaimana menghadapi tantangan mencetak Bankir Pemberdaya ini?
Tantangannya sangat besar, memang. Kinerja yang kita dapat saat ini juga berdasar pada pembelajaran yang sudah terakumulasi. Contohnya, untuk anak-anak SMA yang baru lulus, itu kadang emosinya tidak stabil, galau, dan lain-lain. Tapi bukan berarti kita setop. Ketika Melati Putih Bangsa ini keluar, kami sudah siap mengambil talenta baru. Tim rektrutmen BTPN Syariah sangat sigap, selalu stand by, kami rekrut terus setiap ada kekosongan. Ketika ada karyawan yang keluar, kita siap.


Sejak awal kami tekankan bahwa Bankir Pemberdaya ini fokusnya untuk memberdayakan prasejahtera. Jadi berpikirnya juga harus berbeda dari bankir pada umumnya. Cara melayani dan pendekatan kita harus beda. De ngan identitas ini, kami memperkuat engagement karyawan. Jika identitas ini jelas, motivasinya juga jadi sangat kuat.

photo
Republika

Jika tidak karena passionatau semangat untuk membangun, membantu kelompok ini memang akan sulit untuk lanjut. Jika kita jika punya alasan kuat untuk bantu sesama, kita akan bangun tidur dan semangat bekerja.


Kita juga ciptakan lingkungan kerja yang nyaman untuk anak muda bekerja. Pokoknya bagaimana caranya karyawan senang dan bisa efektif bekerja. Karena semangat ini tidak bisa hanya satu orang. Harus melekat di organisasi, disebarkan ke seluruh karyawan. Saya pernah bilang, tidak usah kerja di sini ka lau tidak mau jadi bankir yang memberdayakan, karena di sini tidak hanya bekerja. Kita perlu sangat sabar.



Dengan sumber daya seperti ini, bagaimana BTPN Syariah terus meningkatkan kinerjanya?
Kami sangat intensif untuk terus tumbuh dan tentu harus efisien. Dengan pertumbuhan di atas rata-rata, kami tidak serta-merta menambah jumlah karyawan. Maka dari itu, karyawan Bankir Pemberdaya kami di kantor pusat ini harus menciptakan alat untuk menambah produktivitas. Bagaimana memudahkan kerja delapan ribu orang di lapangan agar bekerja lebih efisien.

Banyak aplikasi dan sistem yang sudah dibuat. Seiring dengan teknologi yang ada, kami harus terus bergerak. Tidak bisa kita sekali menciptakan saja terus selesai. Ada fase ketika kita harus uji coba ke nasabah dan karyawan di lapangan. Apakah mereka mengerti, apakah alat kerjanya memudahkan atau tidak. Kita harus memastikan mereka bekerja dengan efektif, ini juga perlu pelatihan.

Kita tidak boleh 'sok tahu' juga ketika menciptakan produk. Jika ternyata produknya secanggih apa pun, jika bagi nasabah tidak berguna, ya tidak bisa. Karena intinya kita ingin melayani nasabah. Misal dulu kita pernah menciptakan tabungan digital untuk nasabah. Tapi pada akhirnya, nasabah tidak bisa pakai, tidak bisa membuat password yang baik, banyak yang tidak punya ponsel Android. Kalau seperti itu untuk apa. Jadi kami prinsipnya mengembang kan teknologi adalah harus berdasarkan kebutuhan nasabah.



Bagaimana BTPN Syariah memandang kompetisi di segmen ini?
Karena banyak juga pemain yang masuk seperti tekfin (teknologi finansial), koperasi, dan lain- lain. Kami melihat persaingan ini baik. Kompetisi melahirkan kreativitas. Kreativitas akan membawa manfaat pada market. BTPN Syariah melihat jumlah segmen ini sangat besar, jika ada pemain yang bisa masuk, harus ikut berpartisipasi. Kami sangat welcome. Ini menjadi kesempatan bagus karena kelompok ini jadi banyak yang memperhatikan. Mereka jadi lebih terlayani.

Saya rasa siapa pun yang peduli ke segmen ini maka harus masuk. Kita tidak boleh berpikir eksklusif, harus inklusif. Kami malah senang mulai banyak yang masuk ke segmen ini. Kompetisi itu tidak usah ditakuti, tapi hadapi saja. Jika memang ada kendala, kitanya yang harus lebih pintar. Harus melayani dengan lebih baik, dengan lebih ramah. Untuk kolaborasi, kami juga membuka ruang. Kami sangat terbuka.(ed:mansyur faqih)


,
×