Oni Sahroni | Daan Yahya | Republika

Konsultasi Syariah

27 Jul 2022, 04:50 WIB

Membeli Barang yang Ditawar Pihak Lain  

Larangan membeli barang yang sedang dibeli dan ditawar oleh orang lain itu dikecualikan untuk jual beli lelang.

DIASUH OLEH USTAZ DR ONI SAHRONI; Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Assalamualaikum wr wb.

Ustaz, saya pernah mendengar bahwa ada larangan menawar barang yang sedang ditawar oleh orang lain. Apakah ada hadis yang menjelaskan hal tersebut? Bagaimana maksud dari hadis-hadis tersebut dan apa saja contoh-contohnya? Mohon penjelasannyaDimas-Depok

Waalaikumussalam wr wb.

Jawaban atas pertanyaan tersebut bisa dijelaskan dalam poin-poin berikut. Pertama, ada beberapa teks dan riwayat hadis terkait, di antaranya dari Ibnu Umar dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Janganlah seseorang menjual barang yang telah dijual kepada saudaranya dan janganlah meminang perempuan yang telah dipinang saudaranya kecuali jika mendapatkan izin darinya” (HR Muslim).

Kemudian, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah seorang Muslim menawar harga barang yang telah ditawar oleh Muslim lainnya” (HR Muslim).

Dalam Mausu’ah al-Hadits al-Ahkam (Humam Abdurrahman dan Humam Abdurrahim) menjelaskan bahwa hadis mengenai itu beragam, sebagian diriwayatkan oleh Imam Bukhari Nomor 2139 dan 2140 dan diriwayatkan oleh Imam Muslim Nomor 1408, 1414, 2564. Sebagian diriwayatkan Abu Dawud Nomor 3608 dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad nomor 5/11. Hadis-hadis tersebut sahih.

Kedua, hadis-hadis tersebut berisi larangan menawar barang yang sedang ditawar pihak lain. Asy-Syaukani memberikan contoh, seseorang menyampaikan kepada pembeli (pihak yang membeli satu komoditas selama masa khiyar berlangsung).

“Batalkan perjanjianmu! Saya bisa menjual barang kepadamu dengan harga yang lebih rendah.” Atau, ia berkata ke penjual, “Batalkan perjanjian! Supaya saya bisa membeli barang ini darimu dengan harga lebih tinggi” (Nail al-Authar 5/270).

Terdapat contoh lain praktik menawar barang yang ditawar oleh orang lain. Asy-Syaukani memberikan contoh, seseorang mengambil suatu komoditas untuk dibelinya, kemudian pemilik barang berkata, “Kembalikan! Supaya saya bisa menjual itu kepadamu dengan harga yang lebih baik dengan komoditas sejenis, tetapi dengan harga lebih murah.”

Atau ia berkata ke pemilik barang, “Kembalikan! Supaya saya bisa membeli barang tersebut darimu dengan harga yang lebih tinggi.” Transaksi ini dilarang saat harganya sudah disepakati dan masing-masing sudah rukun (condong) dengan yang lain (Nail al-Authar 5/70).

Di antara contohnya yakni si A ingin menjual rumahnya dan menyebarkan pengumuman penjualan rumah di beberapa grup Whatsapp. Ia menyetujui dengan salah satu penawar tanpa membatalkan mereka yang sedang menawar dan memberikan informasi bahwa ia telah sepakat dengan salah satunya.

Hal tersebut tidak diperbolehkan karena mencederai perasaan mereka yang ingin membeli dan tanpa diberitahu bahwa barang tersebut sedang ditawar oleh orang lain.

Ketiga, aktivitas tersebut dilarang agar transaksi yang dilakukan oleh para pihak memenuhi unsur ridha, semua pihak lapang, serta tidak ada yang dikecewakan. Oleh karena itu, untuk menutup hal-hal yang merugikan, maka transaksi tersebut dilarang (lihat Mushthalahat al-Fiqh al-Mali al-Mu’ashir hlm 259).

Keempat, larangan membeli barang yang sedang dibeli dan ditawar oleh orang lain itu dikecualikan untuk jual beli lelang (muzayyadah). Sebagaimana hadis, bahwa Rasulullah SAW pernah menjual alas pelana dan gelas lalu beliau menawarkan, “Siapa yang akan membeli alas pelana dan gelas ini?”

Seseorang berkata, "Saya akan membelinya seharga satu dirham." Nabi SAW menawarkan lagi, “Siapa yang mau membelinya lebih dari satu dirham?” Lalu seorang laki-laki memberinya dua dirham dan beliau pun menjual kepadanya (HR Tirmidzi).

Sebagaimana fatwa DSN MUI, “Harga dalam akad jual beli harus sudah dinyatakan secara pasti pada saat akad, baik ditentukan melalui tawar-menawar, lelang, atau tender” (Fatwa DSN MUI Nomor 110 tentang Akad Jual Beli). Misalnya, sebuah perusahaan menjual kendaraan roda empat (mobil) dengan cara lelang ke publik. Penawaran dari 1 hingga 30 Januari 2021.

Ada beberapa orang yang melakukan penawaran, si A menawar dengan harga Rp 220 juta dan si B menawar dengan harga Rp 225 juta. Pada saat penutupan penawaran, dipilih penawar yang lebih tinggi. Wallahu a'lam.  

 


Kemenkes Awasi Ketat Komunitas Gay

Wabah cacar monyet bisa dihentikan dengan strategi tepat di kelompok yang tepat.

SELENGKAPNYA

Harga Gandum Dunia Naik Lagi

Harga gandum berjangka naik 5 persen pada Senin (26/7).

SELENGKAPNYA
×