Tim Universitas Darunnajah Jakarta | Hadiyanto Arief

Opini

23 Jun 2022, 10:18 WIB

Cahaya Inspirasi dari Universitas Darunnajah

Universitas Darunnajah menjadi rumah besar dari sistem pendidikan terintegrasi

H. HENDRO RISBIYANTORO, M.S, Warek III Universitas Darunnajah

 

Universitas Darunnajah merupakan cita-cita dari tiga pendiri Pondok Pesantren Darunnajah K.H. Abdul Manaf Mukhayyar, Kol. Pol. Drs. K.H. Kamaruzzaman, dan Drs. K.H. Mahrus Amin. Para pendiri pesantren Darunnajah tersebut menginginkan para alumninya bisa mengambil istimbath (kesimpulan) hukum, satu hal yang belum bisa dilakukan oleh alumni tingkatan aliyah.

Para generasi penerus membaca dengan baik apa yang dimaksud oleh para pendiri tersebut, yakni alumni perguruan tinggilah yang bisa melakukannya. Pimpinan pesantren saat ini, DR. K.H. Sofwan Manaf, M.Si. dan K.H. Hadianto Arief, S.H. M.Bs. paham betul apa yang harus dilakukan, yaitu mendirikan Universitas. Mereka berduapun berupaya keras mewujudkan berdirinya Universitas Darunnajah, salah satu universitas berbasis pesantren di Ibu Kota. Dengan izin Allah SWT, akhirnya Surat Keputusan (SK) universitas Darunnajah resmi diterbitkan pada hari Jum’at, tanggal 10 Juni 2022.     

Universitas Darunnajah menjadi rumah besar dari sistem pendidikan terintegrasi (one pipe education system) Darunnajah.  Saat ini, Yayasan Darunnajah memiliki lembaga pendidikan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) dengan sistem pesantren-Tarbiyatul Muallimin/at Islamiyyah (TMI), dan Universitas Darunnajah. Rumah besar ini akan menjadi tempat berjuang bagi seluruh kader-kader terbaik Darunnajah untuk menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran berdasarkan nilai-nilai Islam dengan cara ilmiah yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan mencetak kader-kader ulama. Salah sati ciri khas Universitas Darunnajah adalah kampus yang berbasis pesantren. 

Universitas Darunnajah didirikan dengan menggabungkan tiga Sekolah Tinggi yang berada di Jakarta dan Jawa Barat. Tiga Sekolah Tinggi tersebut adalah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darunnajah Jakarta, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darunnajah Bogor, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Darunnajah Jakarta atau yang dikenal dengan Darunnajah Business School (DBS). Saat ini universitas Darunnajah memiliki 10 program studi, yaitu Sains Aktuaria, Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Sitem dan Informasi Teknologi, Bisnis Digital, Kewirausahaan, Hukum Keluarga Islam (HKI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah (PGMI), dan Administrasi Bisnis. 

Sesuai dengan grand design-nya, Universitas Darunnajah menjadi Perguruan Tinggi berbasis Pesantren. Hal ini sebagai bentuk upaya menjaga amanah pendiri untuk menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran berdasarkan nilai-nilai Islam dengan cara ilmiah yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan mencetak kader-kader ulama. Amanah pendiri yang besar tersebut tidak akan berjalan dengan baik tanpa mendirikan Perguruan Tinggi berbasis Pesantren.

Apa itu Perguruan Tinggi berbasis Pesantren? Perguruan Tinggi berbasis Pesantren adalah wadah pendidikan yang mengintegrasikan sistem Perguruan Tinggi dan sistem Pesantren yang merupakan indigenous pendidikan Indonesia. Para mahasiswa tinggal di asrama dan kegiatannya dikontrol selama  24 jam sehari untuk memaksimalkan pendidikan dan khazanah keilmuan. Ini merupakan upaya untuk menjawab tantangan dari permasalahan umat yang muncul dewasa ini. Juga sekaligus sebagai media untuk mencetak kader-kader ulama yang intelek, moderat, dan berakhlaqul karimah. 

Ada gambaran umum yang mewakili sebuah Universitas berbasis Pesantren. Gambaran tersebut di antaranya para mahasiswa tinggal di dalam asrama dan berkegiatan layaknya di dalam Pesantren.  Apapun prodi yang diambil, mereka akan belajar tentang Islam, belajar kepemimpinan, belajar membaca kitab kuning, mengikuti kajian-kajian, belajar khutbah, bisa mengajar, dan lain sebagainya.

Apapun prodi yang diambil, lulus harus siap berjuang si mana saja. Dengan dinamika Perguran Tinggi berbasis Pesantren tersebut, mereka diharapkan menjadi lulusan yang berkarakter fleksibilitas kognitif. Dengan begitu, para alumni akan mampu mengelola pikiran, tindakan, dan emosi mereka untuk menyelesaikan berbagai hal dan tantangan. 


×