Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

22 Jun 2022, 03:30 WIB

Suami Teladan

Tidak sedikit keteladanan yang dapat ambil dari perjalanan keluarga Nabi Ibrahim.

OLEH IMAM NUR SUHARNO 

Hari Raya Idul Adha akan kembali tiba. Setiap Hari Raya Idul Adha kita selalu diingatkan sejarah perjuangan keluarga Nabi Ibrahim AS. Tidak sedikit keteladanan yang dapat ambil dari perjalanan keluarga Nabi Ibrahim AS. Salah satunya adalah keteladanan dari Nabi Ibrahim AS sebagai seorang suami dan ayah.

Nabi Ibrahim AS merupakan kepala keluarga. Ia membina keluarga sesuai tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebagai suami, ia berlaku adil kepada kedua istrinya. Kedua istrinya, Sarah dan Hajar, taat kepadanya. Ketaatan istri ini tidak terlepas dari ketaatan suami kepada-Nya.

Hal ini mengajarkan kepada kaum laki-laki (suami), jika ingin ditaati oleh istri, suami harus menjaga ketaatan kepada-Nya, bertanggung jawab, berkepribadian mulia, cinta keluarga, dan berperilaku sesuai tuntunan agama.

Sulit rasanya jika menginginkan istri taat dan salehah, sementara suami berakhlak tidak terpuji. Sia-sia suami menginginkan istrinya berubah ke arah yang lebih baik, sementara suami tidak mau mengubah kebiasaan buruknya.

Sebagai ayah, Nabi Ibrahim AS tampil sebagai pendidik yang penuh kasih sayang, demokratis, dan menjadi teladan. Simak dialog Nabi Ibrahim AS sebagai ayah ketika menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putranya.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS ash-Shaffat [37]: 102).

Dalam dialog, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan bersifat demokratis. Sifat kasih sayang ini tergambar dari pilihan kata yang digunakan dalam memanggil anak. Ya bunayya (wahai anakku). Penggunaan kata “ya bunayya” merupakan panggilan kasih sayang.

Lalu, Ibrahim meminta pendapat kepada sang anak ketika diperintah untuk menyembelihnya.

Tampak jiwa demokratis, Nabi Ibrahim AS sebelumnya telah menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada Ismail. Hal itu tidak terlepas dari doa, usaha, dan keteladanan yang dilakukan oleh Nabi Ibarahim AS.

Alquran mengabadikan doa Nabi Ibrahim, Rabbi habli minashshalihin (wahai Tuhanku, anugerahkan kepadaku anak yang saleh) (QS ash-Shaffat [37]: 100). Hal ini mengajarkan kepada para suami agar selalu berdoa untuk memperoleh anak yang saleh. Anak merupakan amanah dan anak bisa menjadi fitnah (QS al-Anfal [8]: 28).

Berdoa dan berlindung kepada-Nya agar diberi kekuatan dan kemampuan mendidik anak sehingga anak tidak menjadi fitnah. Doa yang disertai usaha. Usaha bisa berupa upaya yang ditempuh Nabi Ibrahim dalam memilih jodoh. Meskipun Hajar berkulit hitam, berstatus budak, imannya teguh, akhlak mulia, taat beragama, dan patuh kepada suami.

Alquran menegaskan, seorang budak yang beriman jauh lebih berharga daripada seorang musyrik meskipun menarik hati (QS al-Baqarah [2]: 221). Jika menginginkan anak saleh, mulai dari memilih jodoh. Jika istri yang dipilih biasa mengabaikan perintah Allah, bagaimana mungkin ia dapat mendidik anak saleh?

Wallahu a’lam.


WHO Tegaskan Pandemi Belum Usai 

Negara anggota G-20 telah merintis adanya dana perantara keuangan atau financial intermediary fund (FIF) untuk mengantisipasi pandemi pada masa mendatang.

SELENGKAPNYA

Lobster dan Mafia

Penyelundupan benih bening lobster masih berlangsung karena pelaku utamanya belum tertangkap.

SELENGKAPNYA

Wira-wiri Petugas di Bir Ali

Jamaah laki-laki siap dengan dua lembar kain ihram masing-masing.

SELENGKAPNYA
×