Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

13 Jun 2022, 15:20 WIB

Cara Alquran Hadapi Islamofobia

Kini, berabad-abad sesudah zaman Rasul SAW gerakan Islamofobia masih saja gencar.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Gerakan Islamofobia berlangsung seiring dengan mulanya dakwah Nabi Muhammad SAW di Kota Makkah. Berkali-kali kaum kafir setempat menghalang-halangi, menghina, dan menyerang Rasulullah SAW dengan berbagai cara.

Seketika Allah Ta’ala membalas perlakuan yang mereka berikan. Sebagai contoh, Abu Lahab dan istrinya. Mereka tidak henti-hentinya menebar kebencian terhadap al-Musthafa.  

Sebut saja sebuah peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW berdiri di atas Jabal Qubais untuk menyampaikan pesan wahyu. Tanpa pikir panjang, Abu Lahab berseru, “Tabban laka yaa Muhammad!” ‘Celakalah kamu, Muhammad!’

Allah SWT kemudian menurunkan surah al-Lahab. Isinya menegaskan, “Tabbat yadaa Abii Lahabiwwatab.” Istri tokoh Quraisy itu, Ummu Jamil, juga ditegaskan turut celaka. “Wamra`atuhuu hammaa latal hathab.” ‘Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.’

Diceritakan, pasangan Abu Lahab itu sering kali membawa kayu bakar yang berduri-duri. Benda itu digendong di punggungya untuk kemudian disebar pada setiap jalan yang akan dilewati Nabi Muhammad SAW. Dalam surah al-Lahab, Allah SWT menjanjikan, kelak si istri Abu Lahab akan dimasukkan ke dalam neraka dengan keadaan leher terbelenggu.

Dari lisan Ummu Jamil juga pernah keluar cercaan. Ia menyebut Allah SWT sebagai setan. Sembari kata-kata wanita itu menusuk perasaan Nabi Muhammad SAW tatkala wahyu dari-Nya sempat terputus. “Ma araa syathaanaka illa qad tarakaka.” “Aku tahu, setanmu telah meninggalkanmu,” ujarnya.

Allah SWT kemudian menurunkan surah ad-Dhuha sebagai jawaban. “Maa wadda’aka Rabbuka wa maa qalaa,” ‘Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.’

Di luar pasangan musyrikin itu, tokoh-tokoh lain semisal Walid bin Mughirah dan Umayah bin Khalaf juga pernah mengejek Nabi Muhammad SAW. Allah SWT menurunkan surah al-Humazah: “Wailul likulli humazatil lumazah,” “Celaka para pengejek itu.”

Kini, berabad-abad sesudah zaman Rasul SAW gerakan Islamofobia masih saja gencar. Mereka yang mengusung fobia tersebut selalu mendiskreditkan beliau. Stigma-stigma disampaikannya, padahal belum tentu mereka pernah mempelajari sejarah hidup Nabi Muhammad SAW.

Sebagai contoh, Rasulullah SAW dikatakan sebagai tukang sihir dan gila (majnuun). Dalam surah at-Tur ayat 29, Allah SWT menolak dua tuduhan itu sekaligus. “Maka peringatkanlah, karena dengan nikmat Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula orang gila.” “Fazakkir famaaa anta bini'mati Rabbika bikaahiniwwa laa majnuun.”

Dapatlah diambil kesimpulan, siapa pun yang menghina Islam atau Nabi Muhammad SAW pasti akan berhadapan langsung dengan Allah SWT. Dalam surah al-An’am ayat 108, Dia berfirman, “Laa tasubbul ladziina yad’uun min duunillahi fa yasubbullaha adwan bighairi ilmin.”

Artinya, janganlah kamu mengejek apa yang mereka sembah selain Allah, karena nanti mereka akan mengejek Allah di luar batas tanpa ilmu. Ini juga menjadi dalil bahwa hamba-hamba Allah yang beriman tidak boleh sama sekali mengucapkan ujaran kebencian terhadap agama lain dengan cara apa pun. ';

Mental Kalah Arab

Yang kurang dari bangsa Arab adalah persatuan, perasaan senasib dan sepenanggungan.

SELENGKAPNYA

Bus Shalawat Siap Layani Jamaah

Bus dioperasikan bertahap sesuai rasio jumlah jamaah yang tiba di Makkah.

SELENGKAPNYA

Stagflasi dan Anomali Ekonomi Syariah 

Dalam keadaan stagflasi, pelaku bisnis memiliki dua tantangan besar.

SELENGKAPNYA
×