Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

13 Jun 2022, 03:45 WIB

Kelak Anda Bermata Tajam

Mata batin yang dahulunya tumpul tak berperasaan, di hari milik Tuhan akan dipaksa terbelalak menjadi tajam.

OLEH PROF FAUZUL IMAN

Di dunia kehidupan ini selalu membentang dua pola kehidupan yang satu sama lain berbeda. Satu pola terbiasa strict dengan hal disiplin, baik saat di rumah maupun di kantor. Waktu diatur sedemikian rupa sempurnanya. Tak satu pun kegiatan yang lolos dari jadwal yang telah terbingkai dengan tepat; sejak beribadah, membersihkan lingkungan, membaca Alquran, shalat dan lain-lain terkelola dengan apik. Bahkan tersedia waktu untuk kegiatan sosial/berbgi.

Pokoknya untuk pola hidup ini antara kepekaan mata hati dan ketajaman batin benar-benar terlahir di gelanggang kepeduliannya yang terbuka. Tak sudi sama sekali mengabaikan arti kemanusiaannya secara tertutup.

Di sisi yang berbeda, didapati aktivitas kehidupan yang nyaris mengabaikan tatanan aturan. Padahal, dunia materi sangat memadai. Pagar rumahnya ditanam tinggi-tinggi. Menandakan bagian tertentu saja mendapatkan akses ke kediamannya. Tak terlihat di lingkungan sosialnya yang berani kepadanya menggalang dana sosial.  Diketahui jejak digitalnya tidak disiplin menjaga aset negara saat diamanahi sebagai pejabat.

Tuhan dengan cerdas telah memotret adanya fenomena kehidupan yang memilih jalan kufur dan syukur. Padahal Tuhan telah memberinya jalan petunjuk yang lurus dan terukur (QS 76: 3). Rekamaan Tuhan itu realitas nyata adanya manusia yang kerdil dan lebih berpihak memenuhi aspirasi nafsu angkaranya, daripada  simpati kemanusiaan.

Hari-hari hidupnya tidak bertajam perasaan dan mata hatinya tumpul memandang ketimpangan sosial, kecuali hanya untuk memenuhi kesenangan dirinya belaka. Tuhan mengingatkan agar di dunia ini jangan larut dengan hdup bersenang yang sangat sebentar durasinya (QS 77: 46).

Tuhan tidak pernah merasa rugi melihat mahluk-Nya yang melanggar aturan agama dan yang tidak tajam peduli menyokong kemanusiaan. Pada saatnya di dunia -- dalam durasi pendek maupun panjang--manusia tidak akan bertahan dengan sifat keras kepalanya. Kerugian itu akan menimpa pada manusia itu sendiri, berupa hukuman dunia saat tercerabut dari daya kesombongan dan watak keras kepalanya. 

 
Tuhan tidak pernah merasa rugi melihat mahluk-Nya yang melanggar aturan agama dan yang tidak tajam peduli menyokong kemanusiaan.
 
 

Tuhan tidak hanya menghukum di dunia. Kelak di Akhirat umat manusia yang tumpul mata batinnya pada kemanusiaan dan aturan kehidupan dihukum amat memilukan. Mata batin yang dahulunya tumpul tak berperasaan, malas berbagi, dan tak peduli musibah, di hari milik Tuhan akan dipaksa matanya terbelalak menjadi tajam.

Ia tak berdaya dipanggil Tuhan, kecuali  satu per satu merunduk dengan pandangan mata kosong menghadap-Nya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya (QS 14: 43,  QS 50: 22). 


Misi Dinasti Murabithun Menyelamatkan Andalusia

Raja Dinasti Murabithun menerima surat permintaan tolong dari taifa-taifa Iberia.

SELENGKAPNYA

Dinasti Murabithun Penyelamat Andalusia

Dinasti Murabithun adalah gabungan suku-suku pengikut Syekh Abdullah bin Yasin.

SELENGKAPNYA

Ustaz Bendri Jaisyurrahman: Lindungi Anak dari Perilaku LGBT

Di balik pengakuan anak, sebenarnya ada kata lain yang tidak tersampaikan.

SELENGKAPNYA
×