Vivi Ngo, seorang mualaf, menuturkan kekagumannya terhadap konsep tauhid. | DOK TANGKAPAN LAYAR NGAJI CERDAS

Oase

12 Jun 2022, 17:48 WIB

Vivi Ngo Mengikuti Kata Hati untuk Berislam

Vivi Ngo memutuskan berislam setelah menyadari kebenaran dalam agama tauhid ini.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

Setiap orang biasanya memiliki sosok yang amat disayangi dalam hidupnya. Hal itu juga berlaku bagi Vivi Ngo. Dalam pandangan mualaf tersebut, sekurang-kurangnya terdapat dua figur yang tidak tergantikan. Mereka adalah nenek dan kakak angkatnya sendiri.

Dalam bincang-bincang yang disiarkan saluran YouTube Ngaji Cerdas, perempuan tersebut menuturkan alasannya. Pertama-tama, neneknya merupakan pribadi yang dermawan. Ada banyak kenangan yang ia dapatkan dari sang nenek mengenai pentingnya memiliki semangat berbagi.

Setiap bulan, perempuan yang telah berumur sepuh itu sering mengajak Vivi kecil ke permukiman kumuh di sekitar Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Di kawasan yang terkenal akan tempat pembuangan akhir (TPA) itu, sang nenek membagi-bagikan paket makanan dan sejumlah uang kepada warga setempat.

Vivi masih mengingatnya dengan jelas. Sebagai anak kecil, ia saat itu terkejut dengan pemandangan yang didapatinya. Anak-anak sebayanya di sana tampak berpakaian kusam. Tangan dan kaki mereka acap kali kotor oleh debu dan noda tanah.

Lingkungan tempat tinggal mereka pun terasa merisaukan. Bau kurang sedap beberapa kali tercium dari arah TPA, yang cukup dekat dari rumah-rumah warga penerima bantuan nenek Vivi. Tidak terbayangkan apabila satu hari saja dirinya tinggal di sana.

Vivi kecil pada mulanya tidak suka kalau diajak neneknya ke Bantargebang. Maklum, ia sejak berumur balita diajarkan untuk menjaga kebersihan dan merawat diri. Baju lusuh dan kotor pada anak-anak yang dijumpainya seketika membuat bocah tersebut risih.

Dari yang semula keterpaksaan menjadi hal yang biasa. Lambat laun, kenang Vivi, dirinya saat itu mulai memahami alasan neneknya rutin berbagi. Melihat wajah bahagia anak-anak Bantargebang saat menerima bingkisan—itulah yang kemudian membuatnya turut suka cita.

Pernah pada suatu kesempatan, ia ikut memberi sebuah kue kepada anak-anak setempat. Dengan senang, ia dan mereka memakan kudapan yang sama.

 
Dari neneknya, Vivi belajar untuk menumbuhkan rasa kemanusiaan dalam diri. Tidak penting apakah kaya atau miskin.
 
 

Dari neneknya, Vivi belajar untuk menumbuhkan rasa kemanusiaan dalam diri. Tidak penting apakah kaya atau miskin. Semua orang mendapatkan kebahagiaan yang sama dalam laku kedermawanan. Yang memberi bantuan merasa lapang hati. Yang menerima uluran tangan pun senang karena merasa ada yang peduli.

Vivi berusia sembilan tahun tatkala mengetahui nama penyakit yang sedang diidap neneknya saat itu: diabetes. Semakin lama, ia menyadari bahwa sakit itu sangat berbahaya bagi keadaan sang nenek. Bahkan, sosok yang hobi membacakan dongeng kepadanya tiap malam menjelang tidur itu sampai pada keputusan yang amat berat.

Tim medis terpaksa mengamputasi kaki neneknya. Sebab, luka yang ada di sana tidak kunjung sembuh dan dikhawatirkan dapat menyebar ke bagian lain apabila kaki tersebut tidak diikhlaskan. Vivi kecil sangat sedih.

Lebih muram lagi hatinya. Beberapa bulan kemudian, sang nenek mengembuskan nafas terakhir. Wanita yang telah mendidiknya dengan teladan kebersahajaan itu meninggal dunia saat Vivi berusia 10 tahun. Mendiang yang merupakan non-Muslim dimakamkan sesuai aturan agamanya saat itu.

Sepeninggalan neneknya, Vivi sempat menaruh kekecewaan besar. Ia merasa, sang nenek pergi terlalu cepat. Bahkan, ia tidak lagi merasa perlu untuk menjadi pribadi yang religius. Tiap akhir pekan pun, ia enggan pergi ke tempat ibadah.

Kebiasaan abai itu terus dilakukannya dirinya berusia remaja. Saat bersekolah di SMP keagamaan non-Islam, ia berkenalan dengan seorang teman yang lebih senior darinya. Belakangan, Vivi menganggapnya seperti kakak sendiri.

Kakak angkatnya itu amat peduli kepadanya. Ia pun tidak lagi merasa sendirian. Akan tetapi, keadaan itu juga tidak bertahan lama. Sang kakak angkat meninggal dunia akibat sebuah kecelakaan saat mengendarai sepeda motor.

Vivi kembali kecewa dengan Tuhan. Sebab, menurutnya saat itu, kedua sosok yang disayanginya telah diambil dari dunia dengan begitu cepat. Dirinya pun menjadi apatis terhadap ibadah-ibadah.

photo
Vivi Ngo (kanan) menjadi mualaf usai merenungi makna surah al-Ikhlash - (DOK Tangkapan Layar Youtube Mualaf Center Aya)

Mengenal Islam

Dengan bertambahnya usia, Vivi kian menyadari bahwa manusia membutuhkan Tuhan. Ia sering kali berpikir, insan dan alam semesta ini tidak mungkin ada tanpa Yang Mengadakan. Perenungannya itu membuatnya terus mencari makna dari agama.

Ia kemudian bertanya kepada pemuka agama lamanya—non-Islam. Namun, jawaban yang didengarnya tidak begitu memuaskannya. Satu hal yang menjadi pertanyaannya, bagaimana mungkin Tuhan serupa dengan makhluk-Nya?

Sebagai remaja, Vivi ketika itu memiliki beberapa kawan yang Muslim. Dari mereka, sedikit-banyak ia mendapatkan informasi tentang Islam. Salah satunya adalah bahwa agama ini mempercayai Tuhan Yang Maha Esa, yakni Allah Subhanahu wa ta'ala.

 
Dengan bertambahnya usia, Vivi kian menyadari bahwa manusia membutuhkan Tuhan.
 
 

Waktu itu, Vivi muda memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang ustaz di masjid dekat tempat tinggalnya. Namun, penjelasan yang diperolehnya membuat dirinya bimbang. Walaupun dialognya dengan guru agama Islam itu seperti tanpa kesimpulan, sejak saat itu ia lebih peka pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial.

Umpamanya, apakah Tuhan benar-benar ada? Sesungguhnya, apa tujuan manusia hidup di dunia ini? Bagaimana keadaan sesudah kematian? Karena merasa tidak ada orang yang dapat memberikannya jawaban, Vivi saat itu cenderung bertanya dalam hati.

Hingga pada suatu malam, ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Di teras, ia duduk seorang diri. Keadaan sangat sepi. Hanya langit luas nan bertabur bintang.

Vivi lalu melihat ke atas. Bintang-bintang berkerlap-kerlip dengan indah. “Pasti ada yang mengatur jutaan bintang di langit. Jika tidak, sudah pasti bintang-bintang itu akan saling bertabrakan dan menghancurkan alam semesta,” begitu gumamnya saat itu.

Kemudian, perhatiannya tertuju pada tetes air dari talang atap. Ia pun merenung, air yang ada pada saat ini dan yang ada jutaan tahun silam tentulah air yang sama. Peredaran air—termasuk siklus hujan—merupakan bukti, ada sosok yang menata ini semua. Dengan begitu, air dapat dikonsumsi semua makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan.

 
Pikir saya, tentu tidak ada satu orang pun yang mampu membuat daun-daun pohon atau rumput yang hidup, yang tumbuh.
 
 

Pandangan matanya lalu tertuju pada pohon-pohon di dekat pagar rumahnya. “Saat melihat pohon, saya menjadi teringat, sering membuat bunga dari plastik dan kain saat masih kecil. Namun, pikir saya, tentu tidak ada satu orang pun yang mampu membuat daun-daun pohon atau rumput yang hidup, yang tumbuh,” ujar dia mengenang.

Tafakur pada malam itu mengantarkannya pada kesimpulan: Tuhan pasti ada. Hatinya menjadi penuh penyesalan karena sempat meragukan kemahakuasaan-Nya. Maka yang dilakukannya sesudah itu adalah berupaya menemukan iman yang kuat.

Satu hal yang menarik baginya adalah konsep mengenai Tuhan dalam ajaran Islam. Allah tidak serupa dengan apa pun. Tidak ada satu makhluk pun yang menyerupai atau setara dengan-Nya. Islam juga menegaskan, Dia tidak beranak, tidak pula diperanakkan.

Maka ketika itu, hatinya sudah condong pada Islam. Namun, dirinya masih ragu-ragu untuk beriman. Hingga suatu ketika, ia berbicara dengan seorang ustazah.

Dai tersebut mengira, Vivi sudah siap bersyahadat, padahal belum begitu keadaannya. Dengan kata-kata yang agak “menjebak”, ustazah itu membimbingnya agar mengucapkan dua kalimat syahadat dengan bertindak seolah-olah sedang menguji pelafalannya.

“Setelah saya bersyahadat, dia langsung bersyukur dan mengucapkan selamat, tetapi saya marah dan menyalahkan perbuatannya,” kata wanita yang kini berusia 40 tahun itu.

 
Setelah saya bersyahadat, dia langsung bersyukur dan mengucapkan selamat, tetapi saya marah dan menyalahkan perbuatannya.
 
 

Akibat perlakuan yang kurang menyenangkan itu, Vivi sempat trauma. Untuk beberapa lama, ia menjauh dari lingkungan Islam. Bagaimanapun, hal itu ternyata tidak menyurutkan rasa penasarannya akan agama ini.

Ia pun membaca beberapa buku tentang Islam. Dengan belajar seorang diri, Vivi mendapati bahwa hatinya kian condong pada ajaran tauhid. Pikirnya, barangkali syahadat yang pernah diucapkannya tanpa niatan itu membuatnya kesal. Namun, arti dari “Laa ilaaha illa Allah” begitu kuat. Ada kebenaran dari pernyataan tersebut.

Benar bahwa hanya ada satu Tuhan yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini. Tidak mungkin Tuhan itu berbilang atau banyak jumlah.

Saat itu, Vivi berada di ujung bulan Ramadhan tahun 1988 M. Ia mengetahui momen itu karena pada malam gema suara takbiran menguar dari masjid-masjid di sekitar rumahnya. Entah mengapa, suara takbir itu sempat membuatnya takut. Ia berupaya menutup semua pintu dan jendela rumah, agar kumandang dari masjid-masjid tidak sampai ke telinganya.

Untuk alihkan perhatian, ia juga menyalakan TV. Namun, semua channel saat itu menyiarkan takbiran. Keadaan itu membuatnya menyerah dan pasrah. Ia merasa seperti tidak ada jalan “berlari” dari kenyataan. Tidak mampu lagi “kabur” dari kata hatinya selama ini. Baik ituu mengenai keesaan Tuhan maupun Islam sebagai jalan kebenaran.

“Saya bersimpuh menangis, saya memohon ampun kepada Allah. Dan, saat itu juga saya bersyahadat,” katanya.

Keesokan harinya, Vivi meminta seorang kawannya yang Muslimah untuk ikut shalat Idul Fitri. Temannya itu sempat heran, tetapi kemudian mempersilakannya. Beberapa waktu kemudian, ia menyatakan siap mental dan batin seluruhnya untuk bersyahadat.

Bersama temannya itu, ia mendatangi kantor Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) di Jakarta. Karena saat itu belum berusia 18 tahun, dirinya diminta untuk datang dengan kedua orang tua. Padahal, ibunya telah lama tiada. Dan, ayah kandungnya saat itu tinggal dengan ibu tirinya di Sukabumi, Jabar.

Agak kecewa, Vivi kemudian pulang. Namun, dirinya telah yakin berislam sejak saat itu. Barulah pada 1992, ia menjumpai sebuah masjid. Di sanalah, ia baru bisa meresmikan syahadatnya.


KH Asyiq Mukri, Dai Pejuang dari Bawean

Kiai Asyiq yang ahli ilmu hadis ini memelopori berdirinya NU cabang Singapura.

SELENGKAPNYA

Perintis Radio Malabar Meninggal, Tabrani di Kapal JP Coen

Kapal JP Coen ini jugalah yang ditumpangi M Tabrani, mantan pemimpin redaksi Hindia Baroe.

SELENGKAPNYA

Orang Betawi ke Tanah Suci

Ada kebiasaan masa lalu yang kini hampir hilang, yakni menangisi calon haji ketika hendak berangkat.

SELENGKAPNYA
×