ILUSTRASI Duka akibat ditinggal wafat orang terkasih dapat membuat seseorang depresi hingga mengisolasi diri. | DOK WIKIPEDIA

Kisah

12 Jun 2022, 03:20 WIB

Nasihat Wanita untuk Ulama

Kisah berikut menyiratkan pentingnya menjaga harapan dan saling menasihati sesama Muslim.

OLEH HASANUL RIZQA

Keberuntungan dan kemalangan datang silih berganti. Orang yang beriman selalu meyakini, dirinya dalam menjalani kehidupan pasti diuji oleh Allah SWT. Karena itu, optimisme tidak hilang dalam pandangannya.

Masalah membuatnya tegar dan bahkan dapat menguatkan ketakwaan kepada-Nya. Mukmin yang baik percaya bahwa janji-Nya adalah benar. “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan” (QS al-Insyirah: 5-6).

Kisah berikut ini menyiratkan pentingnya dua hal, yakni menjaga harapan dan saling menasihati antarsesama Muslim. Pada era tabiin, terdapat seorang alim yang bernama Muhammad bin Ka’b. Ia berasal dari kabilah al-Quradhi yang pada masa Rasulullah SAW terkenal dari Yahudi.

Pada suatu hari, kabar duka menghampirinya. Sahabatnya, al-Qasim bin Muhammad, mengalami musibah, yakni istrinya meninggal dunia. Maka Ibnu Ka’b pun datang ke rumah kawan dekatnya itu guna bertakziah.

 
Sesampainya di sana, tampaklah bahwa al-Qasim masih dirundung duka yang besar. Wajahnya lesu.
 
 

Sesampainya di sana, tampaklah bahwa al-Qasim masih dirundung duka yang besar. Wajahnya lesu. Matanya sembab seperti orang yang telah lama menangis.

Untuk menghiburnya, Ibnu Ka’b menyampaikan sebuah riwayat. Dikisahkan, pada masa dahulu terdapat seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil. Ulama yang dikenal umat Nabi Musa AS sebagai pakar hukum itu ditinggal wafat oleh istrinya.

Begitu besar kesan dan cinta sang almarhumah kepada alim tersebut. Karena itu, kesedihan yang amat dalam juga dirasakannya sebagai suami. Bahkan, berhari-hari sejak wafatnya sang istri, fakih itu mengurung diri dalam rumahnya. Enggan menemui kaumnya dan bahkan menolak untuk dijenguk siapapun.

Orang-orang kebingungan. Beberapa kawan terus membujuknya, tetapi tidak berhasil. Padahal, umat masih membutuhkan bimbingan dan majelis ilmu yang selama ini diselenggarakannya.

Hingga suatu hari, datanglah kepadanya seorang perempuan. Setelah kerumunan orang di depan rumah ulama tersebut mereda, wanita itu mengetuk pintu rumah si alim. Dari balik jendela, tampak keponakan sang tuan rumah.

“Ada apa, wahai fulanah?” tanyanya.

“Katakanlah kepada syekh, saya datang dari tempat yang jauh untuk menanyakan kepadanya perihal hukum agama. Saya ingin mendapatkan fatwa darinya,” ujar si wanita.

Si keponakan lantas memberi tahu kepadanya perihal duka yang dialami ulama tersebut. Termasuk keengganan sang syekh untuk menerima tamu, siapapun itu. Namun, perempuan terssebut tidak menyerah.

 
Katakanlah kepada syekh, saya akan terus menunggu di depan rumah ini. Tidak akan saya pergi sebelum menerima fatwa darinya.
 
 

Dengan sabar, wanita ini meminta sang tuan rumah agar bersedia menerima kedatangannya. “Katakanlah kepada syekh, saya akan terus menunggu di depan rumah ini. Tidak akan saya pergi sebelum menerima fatwa darinya,” ujar tamu ini.

Si keponakan lalu masuk ke dalam. Selang beberapa lama, orang-orang yang tadi berkerumun di depan rumah tersebut sudah tidak ada lagi. Mereka semua telah kembali ke rumah masing-masing. Maka hanya dirinya seorang di sana, dengan sabar menanti jawaban.

Setelah berjam-jam menunggu, pintu rumah itu pun terbuka. Si keponakan mempersilakan wanita itu untuk masuk. Di ruang tamu, tampak sejumlah saudara perempuan sang tuan rumah. Wajah mereka masih menyiratkan duka.

Akhirnya, tibalah saat yang dinanti. Sang ulama keluar dari kamarnya untuk bertemu dengan si wanita.

Setelah mengucapkan salam, tamu yang gigih itu berkata kepadanya, “Wahai syekh, aku datang kepadamu untuk meminta fatwa tentang sesuatu.”

“Tentang apa itu?” tanya sang ulama.

“Jadi, aku telah meminjam sejumlah perhiasan dari tetanggaku. Benda itu pun kupakai hingga beberapa lama. Akan tetapi, tetanggaku kemudian mengirimkan orang-orang ke rumahku, memintaku agar mengembalikan perhiasan itu,” kata perempuan ini menuturkan persoalannya. “Yang ingin kutanyakan, apakah aku harus mengembalikannya?”

Sekilas, wajah syekh ini tampak terkejut dengan pertanyaan itu. Sebab, jawabannya sangat amat jelas dan terang benderang. “Demi Allah, perhiasan itu tentu saja harus engkau kembalikan. Tetanggamu lebih berhak atas benda itu. Apalagi, sudah lama perhiasan tersebut engkau pinjam darinya,” kata alim tersebut menjelaskan.

Mendapatkan jawaban itu, si perempuan berkomentar, “Semoga Allah merahmatimu. Maka dari itu, mengapakah engkau terus bersedih atas apa yang telah Allah pinjamkan kepadamu?”

Sang syekh sepintas terpana mendengarnya, namun tetap diam mendengarkan.

“Dahulu,” lanjut sang tamu, “Allah meminjamkan salah satu makhluk-Nya, yakni seorang yang salehah, untuk menjadi istrimu. Lantas, sekarang Dia mengambil milik-Nya kembali. Mengapa engkau bersedih hati? Dia lebih berhak atasnya.”

Sadarlah alim tersebut akan kekeliruannya. Sejak saat itu, tidak lagi dirinya mengurung diri dari umat.

Al-Qasim bin Muhammad pun usai mendengar cerita itu menjadi tersadar. 


Hak Manusia dan Lingkungan Hidup

Kerakusan manusia atas sumber daya ekologi sudah melebihi batas kemampuan bumi untuk memenuhinya.

SELENGKAPNYA

Seberapa Panjang Usiamu?

Pada akhirnya, umur ukhrawi seseorang jauh lebih penting.

SELENGKAPNYA
×